Dua Puluh Tujuh

102 8 0
                                        


Masih dengan cuaca mendung, aku marathon update buat kalian.

Happy reading..

                         
                              💔💔💔

  
          Di kantor Catur, suasana agak tegang. Karena ibunda dari bos besar mereka tetiba datang berkunjung.

Hal yang membuat berbeda adalah, beliau yang biasanya ramah, kali ini datang dengan wajah datar dan mata sembab. Karyawan yang berpapasan dengan beliau tidak berani menyapa.

Bunda Arumi terus berjalan hingga sampai di depan ruangan putranya. Tanpa mengetuk pintu, beliau masuk begitu saja.

Mata perempuan paruh baya berkerudung itu seketika membeliak tak percaya. Di depannya, sang putra tengah memangku sekretaris yang tak lain calon istrinya dengan mesra.

Tadi hatinya sudah sakit melihat kehancuran Alika. Kini ia lebih sakit melihat kelakuan putranya.

"Assalamualaikum!!."

Suara salam bunda Arumi terucap agak tinggi. Membuat dua orang yang tengah bermesraan itu tergesa kembali ke posisi normal.

"Waalaik..kkkuumm sal.. laa..mm, bund"
jawab keduanya gagap.

"Bunda ganggu ya?" tanya bunda datar.

"Oh, nggak bund. Mari masuk bund, kita duduk dulu" jawab Catur yang  segera menyongsong bundanya.

"Friska, tolong keluar sebentar ya?. Saya mau manja-manjaan dulu dengan calon suami kamu" ucap bunda lembut namun menohok hati dua darah muda itu.

"Iya Bu."

Friska pun keluar dari ruangan bos yang sekaligus calon suaminya.

Setelah memastikan Friska keluar. Bunda Arumi beralih ke arah pintu untuk menguncinya. Ia tidak ingin pembicaraannya nanti di dengar siapapun.

"Catur" panggil bunda datar tanpa mau memandang anaknya.

"Iya bund?" jawab Catur dengan perasaan heran.

"Tadi ibu ke kantor Alika."

"Bunda kenapa ke kantor Alika?."

"Bunda cuma memastikan Alika baik-baik saja. Tapi bunda jadi nggak baik-baik saja setelah bertemu dia" jujur bunda.

"Maksut bunda?" tanya Catur penasaran.

"Alika hilang kendali nak. Dia berlarian di halaman kantor kayak orang nggak waras. Siapa yang dia cari?. Kamu, kamu nak!" ucap bunda tergugu dalam tangis.

Pengakuan bunda membuat hati Catur tak urung merasakan terluka juga. Ia penyebab mantannya itu seperti ini.

"Tadinya bunda pikir, bunda bisa meyelamatkan hubungan kalian sekali lagi. Makanya bunda datang ke sana, dan di suguhi pemandangan Alika yang seperti itu. Tapi bunda lebih sakit, melihat kamu bermesraan dengan Friska. Di mana hati kamu?!" sergah bunda Arumi.

"Maaf, bunda."

"Bukan untuk bunda. Harusnya kamu minta maaf sama Alika. Bunda permisi, silahkan di lanjut bermesraannya!." sarkas bunda.

"Bund, nggak gitu bund.. Catur bis.."

"Nggak apa-apa. Semua ini memang pilihan kamu. Semoga nanti kamu tidak menyesal karena sudah melepaskan perempuan seperti Alika."

Setelah mengatakan itu, bunda Arumi benar-benar keluar dari ruangan putranya. Menyisakan Catur sendirian dalam kebimbangan dan penyesalan.

                             
                            💔💔💔

Finally Sah (Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang