Dua Minggu Kemudian
Alika sudah terbangun sedari jam tiga pagi. Ia sedang mempersiapkan barang-barang yang akan ia bawa ke acara nikahan salah seorang kliennya.
Ia akan hadir sebagai pemilik. Tanggung jawab kelancaran acara, sudah ia serahkan pada asistennya.
Namun begitu, ia akan tetap memantau semuanya sendiri.
Tepat pukul lima pagi, seusai subuh. Dengan memakai dress sepanjang tiga perempat di kakinya, ia membawa serta bag travel nya turun ke lantai bawah.
Meletakkan tasnya di ruang tengah, Alika berjalan ke arah dapur yang sudah ramai dengan suara alat dapur beradu.
Benar saja, di sana sudah mama dan bibi yang tengah berbagi tugas memasak pagi ini.
Mengenai abangnya, Ahsan, ia sudah pindah ke rumahnya sendiri.
"Pagi ma, bi" sapanya.
"Pagi sayangnya, mama. Kok udah rapih aja, kak?" tanya mama Irena melihat putrinya sudah rapi seperti siap keluar.
"Kakak harus ke pernikahan klien ma, hari ini acara ijab kabulnya" terang Malika sembari mengeluarkan potongan buah dari freezer.
"Sepagi ini?" heran mama.
"Iya ma, kan kakak harus briefing anak-anak dulu, harus nyiapin printilan-printilannya juga, biar nggak Miss nantinya"
"Ya sudah, kamu hati-hati ya?. Jaga kesehatan, jangan lupa makan. Mama perhatiin kakak kurusan" ucap mama Irena.
"Ah nggak ma, kakak biasa aja kok, nggak kurusan. Ya udah, kakak berangkat dulu ya ma?. Salamin sama papa sama Haikal, maaf nggak sempat pamitan."
" Iya kak, hati-hati."
Selanjutnya Alika keluar dari rumah, mengendarai mobil menuju kantor EO dan WO nya.
Seperginya Alika, mama Irena telah selesai menata sarapan di meja makan.
Papa Hendra keluar dari kamar, bertepatan dengan Haikal yang sampai di lantai bawah.
Bersamaan mereka menuju ruang makan.
"Pagi ma?" sapa Haikal.
"Pagi, bungsu" sambut mamanya.
"Ma, buatin teh aja, jangan kopi. Lambung papa kayak lagi kurang sehat" pinta papa.
"Iya pa, tahu. Nih, udah mama bikinin. Sarapannya juga ini, bubur dulu"
"Haikal mau sarapan pakai apa?" tanya mama.
"Nasi putih sama tempe sama sambel aja, ma"
"Tumben, nggak ngelirik ayam goreng?" tanya mamanya heran.
"Lagi nggak pengen ma."
"Oh iya, anak gadis papa mana? Kok nggak kelihatan?" tanya papa.
"Iya, ya pa. Kakak mana ma?, Belum turun?" tanya Haikal sembari memulai makan.
"Bukan belum turun. Kakakmu udah keluar rumah sejam yang lalu. Dia ada acara nikahan di kota sebelah."
"Oh, tumben nggak pamit sama papa?" heran papa Hendra.
"Dia buru-buru, cuma nitip salam aja buat papa sama Haikal, katanya maaf nggk sempet pamit"
"Ya udah"
"Pa, nanti siang mama kayaknya mau ke toko perhiasan deh"
"Mau beli apa, ma?" tany papa.
"Nggak beli apa-apa. Cuma mau nukerin cincin mama yang patah itu kok."
KAMU SEDANG MEMBACA
Finally Sah (Terbit)
RandomBanyak waktu di korbankan demi keyakinan bersama di kemudian hari. Namun keyakinan itu akhirnya meluruh seiring dengan takdir yang tak berpihak. Menutup diri, namun ada yang memaksa membuka. Mencoba masuk dengan sisi yang berbeda. Hingga kepercayaan...
