#4
Tidak boleh melarang satu sama lain untuk pergi dengan seseorang yang disuka.
•••
Satu lagi akhir pekan yang kunanti-nanti, juga satu-satunya hari di mana aku bisa bersantai di rumah dan memercayakan Emma untuk mengurus semuanya di Macy's. Pagi ini, setelah menyelesaikan rutinitas, aku menikmati semangkuk sereal di depan TV ruang tengah. Aku sedang tidak ada mood untuk sarapan bersama Killian hari ini--takada alasan khusus, hanya tidak ingin.
Seperti biasa, Killian menghabiskan paginya dengan jogging di sekitar blok dan pulang bermandikan peluh. Aku penasaran apakah dia melakukannya sendirian, atau dengan tetangga, atau apakah dia bertemu seseorang dan berkenalan dengannya untuk sekadar bersosialisasi. Karena dia tidak pernah menceritakannya, aku tidak tahu.
Baru kupikirkan dan dia sudah pulang. Suara pintu yang dibuka dan ditutup adalah bukti agar aku tidak perlu repot-repot beranjak ke ruang tamu. Maksudku, siapa lagi yang akan masuk ke rumah ini tanpa salam jika bukan kami sendiri sebagai penghuninya?
Selanjutnya suara aktivitas dari peralatan makan yang kudengar. Dia cukup lama di sana sampai kukira sekalian makan di sana. Namun, beberapa saat kemudian, aroma masakanku tercium--bahkan aku tidak tahu kalau sewangi itu aromanya saat dimasak. Dan Killian tahu-tahu muncul lalu duduk di sebelahku.
"Kenapa tidak sarapan bersama?" tanyanya. Dia melirik mangkuk serealku yang sudah kosong saat aku menatapnya.
"Malas," sahutku sekenanya.
Aku meraih remote, menekan tombol volume naik agar suaranya tidak teredam oleh suara obrolan kami, kebetulan aku menemukan acara yang seru pagi ini.
"Kau marah padaku?"
Dahiku spontan berkerut karena pertanyaan itu. "Kenapa aku harus marah padamu?"
"Karena aku menyelinap masuk dan tidur denganmu beberapa hari ini mungkin?"
Killian nyengir ketika kulayangkan tatapan tajam padanya. Pria yang sering kali panik jika aku kesal padanya ini pun mulai merunduk dan mendaratkan kecupan di bahuku--kalau dulu, dia akan memelukku agar aku tidak jadi marah, tetapi sekarang dia sudah melakukan yang lebih dari itu. Well, dia mungkin menikmati ketiadaan batasan kami sebagai suami istri. Dan aku tidak membencinya melakukan itu.
"Kau tampak seksi dengan gaun tidur seperti ini, Ana."
Bibirnya cukup lama berada di sana, entah menunggu aku mendorong wajahnya atau dia hanya belum puas melakukannya. Bibirnya hangat, aku tahu karena langsung menyentuh permukaan kulitku. Pagi ini aku masih memakai gaun tidur berbahan satin dengan tali tipis untuk digantungkan di masing-masing bahu. Sebenarnya aku jarang tidur dengan mengenakan pakaian seperti ini, tetapi baru-baru ini aku baru tahu kalau gaun itu cukup nyaman dipakai saat tidur.
"Cepat habiskan sarapanmu," tegurku sembari mendorong wajahnya dengan bahu. Lama-lama risi juga dia terus melakukan itu.
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
Demi mangkuk kosong yang siap kudaratkan di atas kepala Killian ini, aku tidak ingin membahasnya. Aku tidak menolak dia melakukan itu, tetapi juga tidak ingin membiarkan dia terus melakukannya. Orang-orang tentu akan setuju jika tidur dalam pelukan seseorang itu sangatlah nyaman. Dan aku khawatir akan berujung ketagihan.
"Apa yang harus kujawab? Kau mau kita berdebat lagi?" sahutku sembari menggeser badan menjauhinya. "Awas, piringnya mau jatuh!"
Killian terlalu sibuk memandangku sampai-sampai piring di tangannya mulai miring dan bisa terjatuh andai aku tidak segera menegur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Catching Feelings [✔]
Poetry#MarriageSeries Pernikahan menjadi dambaan setiap orang, Ana tahu itu. Namun, sebagai seorang wanita karier yang memiliki target pencapaian dalam hidupnya, Ana tidak bisa memenuhi keinginan orangtuanya untuk segera menikah. Sayangnya, takdir sedang...
![Catching Feelings [✔]](https://img.wattpad.com/cover/279418696-64-k291089.jpg)