"Maaf, kau harus repot-repot datang karena telepon Emma. Lain kali kau tidak perlu menurutinya."
Seperti biasa, Allen hanya akan tersenyum padaku. Dan semenjak aku tahu apa yang dia rasakan padaku, aku tidak bisa tidak merasa malu melihatnya, bahkan nyaris tersipu? Melihat senyumnya berhasil membuat wajahku menghangat.
Tahu apa yang wanita itu lakukan begitu Allen datang? Dia pergi menemui kepala toko, melakukan transaksi sendiri. Aku sempat menghampirinya dengan maksud menggantikannya, tetapi dia menolak dan terus menarik perhatian kepala toko sampai aku terabaikan. Mau tidak mau, aku harus kembali duduk di teras toko bersama Allen. Emma, terlalu jelas memberi kami kesempatan untuk menjadi lebih dekat.
"Tidak apa-apa. Aku justru senang diundang, kebetulan hari ini sedang kosong. Mau permen jahe?" Allen menyodorkan beberapa permen di telapak tangannya dan aku mengambil satu.
"Terima kasih." Permen itu tidak langsung kumakan, tetapi kumainkan di pangkuanku, sekadar menyibukkan diri agar tidak terlihat canggung. "Tapi ini bukan undangan untuk bersenang-senang. Waktumu terbuang banyak kalau hanya menunggu seperti ini."
"Ini lebih baik daripada hanya mendekam di kamar yang terlalu biasa."
Allen yang membuang muka membuatku turut melakukannya. Jalan setapak di depan toko yang nyaris tertutup salju sepenuhnya menjadi pendaratan tatapan kami. Area untuk memarkirkan kendaraan justru bersih dari salju. Seorang pria yang mungkin usianya dua kali lipat usiaku berjaga di dekat pagar dengan mesin pengeruk salju di sampingnya, sudah pasti dia yang memastikan area tersebut bersih dari salju dan dikumpulkan di tepiannya hingga nyaris membentuk pagar pembatas antara area parkir dengan jalan setapak. Pemandangan itu memancing kembali ingatan masa lalu.
Halaman rumah orang tuaku sangat luas jika dibandingkan dengan milik orang tua Killian. Tidak jarang ayahnya akan menitip meletakkan dua atau tiga koleksi mobilnya di sana. Di halaman itu pula aku dan Killian sering membuat benteng pertahanan dari salju sebelum saling menyerang satu sama lain dengan bola salju. Ya, persis seperti gundukan salju di tepi area parkir, hanya saja kami membuatnya lebih tinggi. Biasanya, kami tidak akan berhenti sampai salah satunya menyerah, atau Jaden sudah berteriak ingin memakai halaman untuk bermain bersama teman-temannya. Sungguh masa-masa yang kurindukan. Kami selalu melakukannya setiap tahun sampai Killian berusia lima belas tahun.
"Kau tersenyum. Apa ada sesuatu yang bagus?"
Aku tidak sadar sudah melakukannya jika bukan ditegur Allen.
"Tidak ada. Hanya teringat sesuatu yang menyenangkan." Aku mengulum senyum sebentar sebelum menatap Allen. Tadinya ingin kuajak mengobrol, tetapi malah menemukan dia sedang menatapku terlalu intens. "Apa ada sesuatu di wajahku?"
"Kuharap aku bisa menjadi alasanmu tersenyum. Itu terlihat cantik." Bisa-bisanya dia mengatakan itu dengan tenang. Aku jadi merasa canggung dan tidak tahu harus berkata apa. Tidak mungkin kalau kukatakan hal serupa, bukan?
"Kau ... tidak bisa menahannya, ya?" Aku menunduk, memperhatikan kakiku yang berbalut sepatu bot warna krem menendang-nendang udara.
"Ah, apa itu membuatmu tidak nyaman?" Allen menyadarinya. Alisnya bertaut karena rasa tidak enak. "Aku selalu seperti ini, Ana, dan aku memberi tahu agar kau bisa mengerti. Tapi tolong katakan jika sikap atau perkataanku membuatmu tidak nyaman. Aku terbiasa mengungkapkan apa yang ada di pikiranku--kebanyakan untuk hal-hal baik. Orang-orang sebelum dirimu cenderung merasa senang setelah dipuji, jadi kupikir kau juga akan merasa demikian."
Memuji karena itu bisa membuat orang lain senang, ya? Aku tidak biasa mendapatkannya karena tidak bergaul dengan orang banyak, sedangkan satu-satunya teman yang kupunya punya banyak aspek yang jauh lebih bagus dariku, hingga dirasa-rasa tidak mungkin akan memuji perempuan biasa sepertiku. Yang mereka pikirkan hanya 'betapa beruntungnya Luciana menjadi teman baik Killian', dan jelas itu bukan pujian, melainkan rasa iri. Ketika aku berjalan bersama Killian, semua mata hanya tertuju padanya hingga membuatku menjadi tidak terlihat. Itu sebabnya aku tidak benar-benar tahu bagaimana merespons sebuah pujian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Catching Feelings [✔]
Poetry#MarriageSeries Pernikahan menjadi dambaan setiap orang, Ana tahu itu. Namun, sebagai seorang wanita karier yang memiliki target pencapaian dalam hidupnya, Ana tidak bisa memenuhi keinginan orangtuanya untuk segera menikah. Sayangnya, takdir sedang...
![Catching Feelings [✔]](https://img.wattpad.com/cover/279418696-64-k291089.jpg)