Takada yang lebih nyaman selain tidur ketika badan sedang lelah. Awalnya kupikir aku akan segera tidur begitu memejamkan mata. Sayangnya, pikiranku tidak mau bekerja sama dengan tubuh yang lelah ini. Tidak peduli seerat apa aku berpejam, kelopaknya selalu punya cara untuk terbuka. Sekarang aku justru menatap langit-langit kamar bersama pikiran yang berkecamuk.
Aku tidak tahu apa yang membuatku tetap terjaga. Apakah karena aku tidak memberi tahu Killian kalau Jaden batal datang, atau karena di lantai satu Killian masih berduaan dengan Gabby, atau karena ini belum jam tidurku yang biasanya? Makin aku berusaha untuk tidak memikirkannya, semua itu makin menghantuiku.
Kuperiksa ponsel, hanya untuk menemukan baris pemberitahuan yang kosong. Dan benda dengan fitur canggih itu tidak memiliki aplikasi menyenangkan untuk dimainkan sebagai pengantar tidur, jadi aku mengembalikannya ke atas nakas. Setelah beberapa kali membalik badan, aku menyerah. Meski mencoba tidur dalam posisi apa pun, aku tetap tidak bisa tertidur.
Sekarang aku haus. Dengan rasa malas, aku terpaksa bangun. Seingatku masih ada botol air minumku di atas nakas sebelum mencoba tidur. Namun, benda itu sudah tidak ada. Mau tidak mau, aku harus mengambilnya ke dapur. Parahnya, aku harus turun tangga. Aku yakin masih ada orang lain yang enggan naik-turun tangga untuk hal sepele apalagi ketika tubuh sedang lelah.
Aku tidak mengerti kenapa kaki ini justru berhenti melangkah hanya karena menemukan Killian dan Gabby sedang tertawa bersama sambil makan camilan di ruang makan. Tidak ada yang aneh sebenarnya, selain Killian sangat menikmati momen mereka. Kuharap ini bukan rasa iri, tetapi aku tidak tenang melihatnya.
Rasa hausku mendadak hilang. Daripada muncul dan merusak tawa mereka, aku memilih kembali ke kamar. Lagi pula, aku punya wastafel yang airnya bisa kutelan. Kenapa juga harus repot-repot ke dapur?
Sayangnya, baru dua langkah aku kembali, Killian memanggilku. Dia berhasil membuatku kaget karena sudah berada tepat di hadapan saat aku berbalik. Aku sama sekali tidak sadar kapan dia menghampiriku. Dari bahu Killian, aku menemukan Gabby tersenyum sangat senang dan jujur saja, itu mengerikan.
"Aku sudah memutuskan."
Tatapanku kembali tertuju pada Killian ketika dia bicara begitu. Kalimat yang singkat, tetapi mampu membuat pikiranku berkelana ke mana-mana. Kami tidak mendiskusikan sesuatu yang memerlukan keputusan sebelumnya selain tentang rencana perceraian.
Tunggu.
"Memutuskan apa?" Susah sekali meloloskan pertanyaan itu dari kerongkonganku yang kering.
Killian menoleh ke belakang dan memberi senyum yang menawan kepada Gabby. Saat ini, aku benar-benar merasa seperti orang asing untuknya. Jantungku berdegup kencang ketika dia mulai mendekatkan wajahnya. Bukan karena aku merasakan sesuatu kepadanya, tetapi karena rasa cemas. Instingku dengan kuat meyakini bahwa ini bukan sesuatu yang akan terdengar menyenangkan.
"Tentang pernikahan kita," bisiknya.
Aku kaget, tentunya. Pelototan mataku tidak bisa ditahan. Sejak awal dia sendiri yang berusaha menyembunyikan tentang kami, tetapi sekarang dia juga yang membahasnya lebih dulu di hadapan Gabby.
Killian memang tidak mengatakannya dengan suara keras. Sayangnya, menemukan Gabby tidak tampak penasaran dengan interaksi kami membuatku menduga kalau Killian sudah menceritakan sesuatu kepadanya. Maksudku, aku paham betul kalau hal ini akan membuat orang lain penasaran, apalagi bagi Gabby yang statusnya lumayan dekat dengan Killian.
"Kau serius membicarakannya saat ada Gabby?" Aku balas berbisik. Killian sudah memundurkan kembali kepalanya dan tersenyum sangat menawan. Aku sudah sering melihatnya, tetapi kenapa malam ini aku justru terpesona?
KAMU SEDANG MEMBACA
Catching Feelings [✔]
Romance#MarriageSeries Pernikahan menjadi dambaan setiap orang, Ana tahu itu. Namun, sebagai seorang wanita karier yang memiliki target pencapaian dalam hidupnya, Ana tidak bisa memenuhi keinginan orangtuanya untuk segera menikah. Sayangnya, takdir sedang...
![Catching Feelings [✔]](https://img.wattpad.com/cover/279418696-64-k168350.jpg)