"Selamat pagi, Killian."
Aku menyapa saat masih membelakanginya. Aroma dari parfumnya sudah cukup untuk membuatku mengenali siapa yang baru saja menarik kursi dari meja makan di belakangku. Panekuk di wajan lebih membutuhkan perhatian daripada sekadar berbalik untuk melihatnya. Dia pasti sudah rapi dengan setelan kerja, aku sangat yakin itu.
"Kau bangun pagi sekali hari ini."
"Bukankah itu bagus?" Aku baru berbalik untuk meletakkan panekuk ke atas piring di atas meja. "Aku harus membuat sarapan untuk suamiku." Aku masih tidak menatapnya sampai kembali menuangkan adonan panekuk ke wajan. Dan aku yakin Killian juga bisa memaklumi sikapku pagi ini.
Sudah kuputuskan kalau kejadian semalam tidak akan mengubah apa pun di antara kami. Kami tetap pasangan suami istri yang kelak akan bercerai, dan setelah itu hubungan kami kembali menjadi sepasang sahabat--aku berharap ini tidak akan pernah berakhir. Dia tahu atau tidak tahu perasaanku, selama itu perasaan yang tidak berbalas, jelas tidak akan mengubah apa-apa. Namun, aku juga tidak bisa lari dari situasi ini, tidak untuk membuat kedua orangtua kami heboh, dan tidak juga sebelum aku merasa situasiku cukup aman untuk tetap melanjutkan tinggal di sini sendiri.
Rasanya menyakitkan memang, tetapi aku tidak ingin menghalanginya mendapatkan apa yang dia mau. Well, seperti dia yang sering membatalkan rencana bersama teman‐temannya karena aku tiba-tiba memintanya melakukan ini dan itu. Dia sudah terlalu baik sampai aku tidak bisa membiarkan perasaanku menjadi penghalangnya. Aku tahu tidak ada balas budi dalam persahabatan, tetapi untuk saat ini, aku ingin membalas kebaikannya.
"Ana, soal semalam--"
"Bisa kita tidak membicarakannya?" Aku buru-buru menyela, kemudian memperdengarkan suara penggorengan ketika aku menuangkan adonan telur. "Lupakan saja. Bukankah kita selalu seperti ini, berdebat untuk dilupakan besok harinya?"
"Kau benar. Apa itu akan baik-baik saja untukmu?" Dia menjawab setelah beberapa saat.
Aku mengerang kecil saat menambahkan potongan Trout yang sudah kugoreng setengah matang sebelumnya ke wajan, mencampurnya dengan telur orak-arik yang hampir matang. Kenapa dia masih menanyakan hal itu ketika aku sudah memintanya untuk melupakan?
"Aku akan baik-baik saja selama kau mau bersabar sampai aku menemukan pria yang tepat. Orangtuamu akan datang. Aku tidak mau memperpanjang masalah dan membuat mereka khawatir karena interaksi kita menjadi kaku."
Setelah kompor kumatikan, aku baru benar-benar fokus pada Killian. Dia duduk tegak di kursi, menandakan bahwa ada sesuatu yang membuatnya gelisah. Panekuk yang bukan untuknya dipandang lamat-lamat, seperti ada tulisan di sana dan dia membacanya. Lama-lama keningnya mulai berkerut dan tiba-tiba mendongak, menatap langsung ke mataku. Kegelisahan itu sirna seketika.
"Baiklah. Mari bersikap seperti sepasang sahabat yang hanya kebetulan tinggal serumah." Senyumnya yang usil kembali, betapa lamanya aku tidak melihat itu. "Maaf sudah menciummu terlalu agresif kemarin, sahabat seharusnya tidak berciuman, 'kan?"
Ada secuil rasa lega yang kurasakan. Killian yang menyebalkan kembali lagi. Aku lebih suka dia bersikap seperti itu daripada terus memberi perhatian karena rasa bersalah dan merasa perlu bertanggung jawab. Sayangnya, dia salah memilih topik. Seharusnya aku melupakan itu, bukan malah mengingatnya. Kalau soal ciumannya saja tidak apa-apa, yang ada aku juga harus mengingat bagian di mana ciuman semalam merupakan luapan atas apa yang kurasakan. Jika bukan karena itu, aku tidak mungkin sampai menangis.
"Astaga. Bisa-bisanya kau membicarakan itu tanpa merasa canggung. Lihat, aku kepanasan."
Aku mengipas wajah dengan tangan, tidak berbohong soal kepanasan, meski tujuan berkipas hanya untuk balas bergurau. Bukan karena kata-katanya--karena bagiku itu tidak cukup seksi untuk diingat, tetapi karena panas dari penggorengan. Aku yakin karena itu, apalagi sudah setengah jam lebih aku berkutat di dapur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Catching Feelings [✔]
Romantik#MarriageSeries Pernikahan menjadi dambaan setiap orang, Ana tahu itu. Namun, sebagai seorang wanita karier yang memiliki target pencapaian dalam hidupnya, Ana tidak bisa memenuhi keinginan orangtuanya untuk segera menikah. Sayangnya, takdir sedang...
![Catching Feelings [✔]](https://img.wattpad.com/cover/279418696-64-k168350.jpg)