Dua hari demam sudah lebih dari cukup untuk membuatku tersiksa dengan betapa posesifnya Killian. Belum lagi Jaden akan cerewet kalau aku tidak segera minum obat. Bagi banyak orang, mungkin menyenangkan dikelilingi orang yang penuh perhatian. Namun percayalah, sekali mendapatkannya dari Killian atau Jaden, rasanya ingin langsung sembuh detik itu juga.
Sayangnya, makin lama menghabiskan waktu bersama Killian membuatku terus merasa bersalah. Maksudku, karena cerita Emma waktu itu. Dia menjadi orang pertama yang menentang keras keputusan kami untuk menyembunyikan status.
Aku baru selesai mengancing kemeja dan melakukannya seperti anak kecil yang masih belajar. Tidak susah menyelipkan kancing-kancing itu ke lubangnya, tetapi tangan kananku masih belum bisa bergerak leluasa karena lukanya yang baru-baru saja kering. Bergerak banyak bisa membuat lukanya terbuka lagi. Setidaknya luka di jari-jari sudah cukup kering.
"Kau yakin pergi ke Macy's hari ini? Demamnya bagaimana? Sudah turun? Tanganmu bisa digerakkan? Kalau masih pusing, jangan lupa minum lagi obatnya. Kau belum sarapan, jadi sarapan dulu. Setelah itu baru kuantar."
Jaden baru muncul di ambang pintu dan sudah bicara sepanjang itu tanpa jeda. Kapan dia selesai dengan pekerjaannya?
"Lihat aku." Aku berbalik menghadapnya dan meletakkan kedua tangan di pinggang. Tangan kiri melakukannya dengan sempurna, sedangkan tangan kananku agak canggung karena tidak mampu mencengkeram pinggangku. "Apa yang seperti ini tampak sakit di matamu?"
Jaden mendengkus, seperti sedang menahan tawa. "Jangan lupa pakai lipstik, wajahmu masih pucat." Dia mengatakan itu sambil berlalu pergi.
Mari buktikan kalau ucapannya tidak benar. Aku menghadap cermin sekali lagi dan tersenyum masam. Kali ini saja aku menurut dan memakai lipstik yang lebih merah dari yang biasa kupakai. Aku bahkan tidak ingat pernah membelinya atau tidak ketika menemukan ada satu di rak lipstik milikku.
Mungkin pernah kuterima sebagai hadiah dan aku melupakannya.
"Warna itu bagus untukmu."
Killian berkomentar di ambang pintu--posisi yang sama seperti Jaden sebelumnya. Aku membalas tatapannya melalui cermin sebelum dia berjalan masuk ke kamar, dan aku segera menyimpan kembali lipstik yang keberadaannya sangat misterius.
"Jaden bilang wajahku pucat, jadi aku memakainya." Aku tidak ingin Killian berpikiran macam-macam, jadi aku langsung menjelaskan alasannya meski tidak diminta.
"Dipakai setiap hari juga tidak apa-apa. Kau tampak menggoda untuk dicium."
Masih melalui cermin, aku mendelik tajam padanya yang sudah duduk di sofa. Namun, aku tidak jadi marah padanya setelah sadar apa yang sedang dia lakukan.
"Kenapa sarapannya dibawa ke sini?"
Killian rupanya membawa nampan ke sini, dengan dua gelas susu dan dua piring berisi dua lembar roti panggang di atasnya. Itu semua sudah diletakkan ke atas meja di depan sofa. Aromanya baru tercium dan mengingatkanku pada rasa lapar. Sekarang Killian sedang memotong-motong roti di salah satu piring yang akan jadi milikku.
"Jaden sudah pergi, jadi kuputuskan untuk makan di sini. Kupikir kau kesulitan jadi aku bermaksud ingin membantumu sekalian."
"Aku sudah sehat." Aku menghampiri Killian dan duduk di sebelahnya. "Hanya belum bisa menggunakan tangan kanan."
Killian menempelkan punggung tangan ke dahiku sebelum aku sempat menghindar. Dahinya berkerut selama melakukan itu, seolah-olah sedang menunggu angka suhu tubuhku di sana. "Masih agak hangat."
KAMU SEDANG MEMBACA
Catching Feelings [✔]
Romance#MarriageSeries Pernikahan menjadi dambaan setiap orang, Ana tahu itu. Namun, sebagai seorang wanita karier yang memiliki target pencapaian dalam hidupnya, Ana tidak bisa memenuhi keinginan orangtuanya untuk segera menikah. Sayangnya, takdir sedang...
![Catching Feelings [✔]](https://img.wattpad.com/cover/279418696-64-k168350.jpg)