42 - Against the Rules

1.1K 72 16
                                        

Saat Killian bilang mengantuk dan aku memintanya tidur, dia benar-benar tertidur di sofa dengan berbantalkan bahuku. Karena tidak bisa ke mana-mana, aku pun ikut tertidur. Kurang lebih ada satu jam kami tertidur sampai akhirnya terpaksa bangun oleh kedatangan Gabby dengan maksud mengantar mobil Killian. Namun, apa yang wanita itu bawa menunjukkan bahwa dia ingin berlama-lama tinggal. Padahal hari ini aku sudah berniat tidak ke Macy's dan pergi belanja bulanan bersama Killian setelah dia mendapat tidur yang cukup. Kalau begini, akhir pekanku jadi membosankan.

Mereka berdua kutinggal mandi. Aku tidak mau menemui tamu dengan aroma alkohol yang masih menguar, alasan lainnya adalah tidak ingin melihat mereka bermesraan. Aku tidak tahan, jujur saja. Tidak peduli berapa kali aku terus berusaha untuk merasa baik-baik saja, tetapi tetap tidak bisa menghilangkan rasa cemburu yang bersarang di dada. Percuma terus-terusan mengelak, perasaan itu tidak akan hilang dengan mudah.

Aku duduk di kasur, memandang ke luar jendela sambil menggosok rambut yang basah dengan handuk. Pikiranku masih dipenuhi oleh wajah semringah Killian saat tahu Gabby datang, seperti dia tidak merasa lelah sebelumnya. Mau sampai kapan seperti ini terus? Apa yang terjadi seandainya Killian tahu apa yang kurasakan padanya? Mungkin situasinya akan jauh lebih buruk dari ini. Kecanggungan akan terus menyelimuti kami. Sejauh ini kami baik-baik saja saling memberi perhatian tanpa harus merasakan apa-apa. Namun, rasa tidak ingin ditinggalkan yang muncul justru berkembang menjadi jatuh cinta.

Sudah diputuskan, setelah ini aku akan mengurung diri di studio sampai Gabby pulang. Melanjutkan rancanganku akan menjadi pengalihan terbaik dari semua hal menyebalkan yang mengganggu pikiran. Sebenarnya aku bisa pergi, entah itu ke Macy's, atau mengunjungi suatu tempat, atau mengajak Allen pergi, mungkin. Sayangnya aku masih tidak punya keberanian sebesar itu untuk sering-sering menyita waktu Allen. Dia memang mengaku senang menghabiskan waktu denganku, tetapi aku perlu tahu jadwalnya dulu sebelum menyeretnya pergi. Well, seperti aku yang tahu kapan Killian sibuk dan tidak.

Guntingku tidak terlihat di mana pun. Aku yakin sebelumnya kuletakkan di atas meja, bersama alat-alat menggambar. Tidak berserakan, tetapi tertata rapi di sebuah rak susun tiga tingkat kecil. Terakhir kupakai memotong pola dua hari lalu dan sekarang aku tidak menemukannya di mana pun. Aku mulai mencari di setiap tumpukan kain, tumpukan pola, membuat susunannya menjadi berantakan dan aku harus merapikannya lagi nanti agar tidak salah menjahit, sampai dengan memeriksanya di laci. Hari ini mungkin aku memang mau kena sial--walau akhir-akhir ini rasanya keberuntungan tidak benar-benar berada di pihakku. Gunting itu berada di laci di mana Emma menemukan rahasia kami, tepat di sebelah tumpukan foto pernikahan kami yang berukuran 4R dan tidak dipasangi pigura.

Gaun pengantin impian, yang sebenarnya saat kupakai waktu itu masih belum sepenuhnya selesai, harus kukenakan tanpa kesiapan yang matang. Obsesi orang tua kami agar kami terus bersama-sama tiba-tiba menjadi tidak masuk akal. Padahal tanpa menikah pun kebersamaan itu masih bisa terjalin. Bahkan ada banyak pasangan yang memutuskan bersama tanpa harus menikah, tanpa harus berucap janji, tetapi saling berkomitmen pada satu sama lain. Sedangkan kami, ya ... harus berjanji bersama tanpa sesuatu yang mampu mengikat kami dalam konsep seperti itu. Parahnya, kami bahkan tersenyum begitu manis di foto tersebut.

Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin sejak awal memang kami yang salah. Untuk apa menulis sesuatu tentang pernikahan ketika masih di usia yang belum paham apa artinya berkomitmen. Kami gila juga ternyata.

Pintu studio yang terbuka membuatku buru-buru menyimpan kembali foto tadi ke laci, bahkan tidak ingat mengeluarkan gunting yang mau kupakai. Aku tidak berani membuka laci lagi takut siapa pun yang membuka pintu akan melihat foto kami. Namun, ternyata hanya Killian yang datang.

"Kau membuatku kaget." Aku menegurnya. Jantungku berdebar kencang sekali, waswas kalau saja Gabby yang membuka pintu, meski kedengarannya agak mustahil.

Catching Feelings [✔]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang