delapan belas ✓

16.6K 1.1K 11
                                        

"Ini yang papah takutin," Harsa menghela napasnya, meletakan kertas yang sedari tadi ada di genggamannya ke atas meja.

"Lena udah tidur kan?" Rosa bertanya, memastikan.

"Udah mah."

"Alfin ini anak pertama keluarga Pramana, papah udah cerita kayaknya dulu," Harsa mengangkat kepalanya, "Kita rubah aja semuanya, Lena homeschooling lagi," kayanya lalu beranjak, meregangkan otot-ototnya yang kaku karena sedari tadi hanya duduk.

Rafi membelalakkan matanya, merasa tak setuju dengan keputusan sepihak yang papahnya ambil, "Pah, jangan gitu lah, papah nggak lihat seseneng apa Lena bisa sekolah?" kata Rafi memberikan pendapatnya.

"Iya pah, kasian dia, tapi mamah juga nggak mau Lena tau semuanya," Rosa terlihat gusar. Jujur ia senang jika anak-anaknya senang, tapi jika kesenangan itu akan merusak keluarga mereka secara perlahan, jujur saja ia tidak rela.

"Aku juga udah kasih peringatan tadi, aku bakal jagain dia lebih dari hari ini pah," kata Rafi yang entah kenapa menolak keras keputusan Harsa.

"Ya gimana, apa kalian mau Lena tau tentang semuanya ini? Diluar sana terlalu bahaya, apalagi si Alfin itu udah tau Lena dimana, dia pasti nggak akan berhenti gitu aja dengan peringatan yang kamu kasih."

Terjadi hening karena ketiganya sama-sama tidak tahu apa yang harus dilakukan. Rafi pun bingung bagaimana harus menyanggah pendapat Harsa agar Alena tetap bisa bersekolah.

Namun tiba-tiba sebuah kalimat terlintas dipikirannya, "Apa papah yakin setelah papah balikin Lena homeschooling lagi dia nggak bakal penasaran kenapa sekolahnya dihentiin? Apa papah yakin bisa jawab kalau dia tanya alasannya apa?"

Harsa terdiam dengan pertanyaan itu, hatinya seperti dihantam sebuah beban yang mampu menjawab jika dirinya belum mampu menjelaskan semuanya, batinnya belum siap jika harus kembali merasakan kehilangan. Akhirnya helaan napas keluar dari mulutnya, "Awasin terus, jangan biarin Alfin terlalu bebas interaksi sama Lena," katanya. Setelahnya ia melangkahkan kakinya keluar dari sana, meninggalkan Rosa dan Rafi yang masih diam tak bergerak.

Rosa meraih jemari putranya, digenggamnya tangan yang kini terlihat jauh lebih besar itu, "Udah sayang, mamah percaya kamu bisa jaga Lena. Udah malem, istirahat dulu sana," katanya mengajak Rafi keluar dari sana, menyusul Harsa untuk istirahat.

Rafi menghela napasnya, walaupun sekarang keputusan yang Harsa berikan terkesan tidak jelas, tapi Rafi dengan bulat bertekad akan lebih menjaga Alena.

***


Pagi telah datang, matahari mencari celah untuk membangunkan penghuni dalam rumah bercat putih itu. Seorang gadis yang tak lain adalah Alena sudah selesai menyiapkan semua yang perlu ia bawa hari ini. Tangannya dengan lihai menyisir rambutnya lalu mengikatnya menjadi satu.

Setelahnya ia turun, matanya menangkap beberapa orang yang sangat ia kenal sudah duduk manis di meja makan.

"Selamat pagi orang-orang hebat," katanya menyapa, ia menempatkan diri duduk di kursi yang berhadapan dengan Rafi.

"Pagi sayang, gimana tidurnya?" tanya Rosa sembari mengoleskan selai roti.

"Nyenyak kok mah."

"Oh iya pah, nanti mampir ke warung depan ya," Alena sembari menuangkan susu ke gelasnya menoleh ke arah Harsa.

"Ngapain?"

"Beli kopi, kopinya mamah habis," balas Alena memberi tahu.

"Ngapain beli kopi?" tanya Harsa lagi, terdengar heran. Kemarin Alena sudah membawa banyak stok kopi yang ada di dapur, lalu sekarang lagi?

AFIA or ALENACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang