sembilan belas ✓

15.8K 990 9
                                        


Alena memegangi kepalanya yang sekarang berdenyut nyeri, sangat sakit. Kata-kata dari perempuan tadi terus berputar di otaknya, berputar dan terus berputar tanpa bisa dikendalikan, menggema dengan lancangnya mengganggu pikirannya.

"Lo kenapa masih hidup sih?!" tanya orang itu berteriak.

"Harusnya lo mati aja!!"

"Belum puas lo hancurin gue?!"

"Belum puas?!"

"Lo siapa?" tanya Alena yang belum mengerti. Terlihat perempuan dihadapannya itu berdecih sebelum kembali berucap.

"Gue Alia kalo lo lupa, dan lo..." seseorang yang baru saja memperkenalkan dirinya sebagai Alia itu menunjuk Alena dan menatapnya tajam, bisa Alena lihat semburat kebencian dalam mata itu.

"Lo Afi kalo lo nggak inget, orang yang udah hancurin hidup gue! Orang yang bikin gue hampir mati di tangan kakak gue sendiri!!" pekik perempuan itu, air matanya menetes membasahi wajahnya.

"Lo udah bikin hidup gue hancur Fi!"

"Harusnya lo nggak usah balik! Semua orang bisa makin benci sama gue kalau lo balik!"

"Hidup gue sekarang udah hancur sehancur hancurnya!"

"Apa lo belum puas?!"

"Penghancur keluarga ini belum puas?!" tekan perempuan itu pada dua kata pertama dengan jarinya yang menekan bahu Alena

"Iya?!"

PLAKK

Tangan Alena reflek menampar pipi perempuan itu begitu saja, entahlah hatinya terasa sakit mendengar semua yang dia ucapkan. Tidak ada angin tidak ada hujan, perempuan yang tidak ia kenal datang begitu saja dengan amarah yang luar biasa membara.

"GUE GA KENAL YA SAMA LO!!" pekiknya tak terima.

Alia meraba pipinya yang terasa panas, tangan kirinya terkepal erat, emosinya mulai memuncak. Mengangkat tangannya berniat membalas tamparan Alena sebelum tangannya ditahan oleh seseorang.

"Stop!" seorang yang mencekal tangan Alia maju beberapa langkah.

"Jangan ganggu Afi lagi, belum cukup lo bikin dia menderita?" tanya orang itu yang ternyata adalah Alfin.

"Apa sih kak?! Dia yang bikin aku menderita selama ini!"

"Kamu Lia! Kamu yang bikin Afi menderita."

"Lo gapapa?" Tanya Tristan membuyarkan lamunan Alena. Menggeleng pelan mereka melanjutkan langkahnya memasuki kelas.

Bruuk

Seketika itu juga Tristan membelalakkan matanya terkejut, baru beberapa langkah mereka memasuki kelas Alena jatuh dan tidak sadarkan diri. "Len?!" berjongkok menghampiri Alena, dipangkunya kepala gadis itu.

Teman-temannya yang lain terlihat hanya menonton, Tristan yang kepalang panik tak tau harus melakukan apa. "Ada yang bawa minyak kayu putih gak? Gue minta," tanyanya pada mereka, hanya pikiran itu yang terlintas di otaknya sekarang,

"Ada nih," salah satu dari mereka memberikan minyak itu.

"Makasih," buru-buru setelah mendapatkannya, Tristan membukanya lalu mengambil tindakan, mengarahkan minyak kayu putih itu pada hidung Alena, harap-harap Alena segera bangun.

"Aduh, Len bangun!" Tristan menepuk pelan pipi Alena.

"Gimana nih?"

"Minggir-minggir!"

AFIA or ALENACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang