dua puluh tujuh

10.6K 667 5
                                        

Melangkahkan kakinya memasuki ruang rawat khusus, Alena duduk di bangku tepat di samping Rosa yang sedang tertidur pulas.

Memandangi setiap lekukan wajah mamahnya, tangan Alena terulur menggenggam tangan Rosa. Sungguh terasa sangat dingin, Alena tersenyum begitu melihat Rosa yang sudah terbangun dan tersenyum hangat kearahnya. Hanya ada senyuman, tak ada yang berani membuka pembicaraan.

Hasil pemeriksaan CT scan sudah keluar, ternyata delapan dari dua puluh empat tulang rusuk yang Rosa punya bisa dibilang patah tapi tidak sampi melukai organ dalam.

"Masih sakit ga mah?" Tanya Alena setelah lama diam.

"Engga, kamu udah makan?"

"Udah." Jawab Alena berbohong, setelah kejadian itu Alena sama sekali belum mengisi perutnya.

Ceklek

Pintu terbuka, yang pertama kali terlihat adalah bara yang menenteng beberapa kantung. Bara masuk Lalau meletakkannya di atas meja, diikuti Rafi yang langsung menghampiri Rosa.

"Gimana mah?" Tanya Rafi.

"Udah gapapa." Jawab Rosa tersenyum kecil.

"Makan sana, Bara bawa makanan." Rafi menunjuk meja yang sudah penuh dengan makanan yang mereka bawa.

"Belum makan? Katanya udah." Cibir Rosa, Alena hanya menyengir.

"Sana nanti sakit."

Alena mengangguk lalu segera menghampiri Bara yang sudah mulai memakan makanannya.

"Papah mana?" Tanya Rosa.

"Ke kantor polisi."

Terlihat Rosa menghela napas sebelum kembali berucap, "Kamu udah makan?" Tanya Rosa ingin mengalihkan pembicaraan.

"Belum, nanti aja."

"Sekarang, sana makan."

Rafi menurut, beranjak lalu bergabung bersama Alena dan Bara. Sementara itu Rosa mulai larut dalam pikirannya, mencoba memprediksi apa yang harus diketahui.

"Mamah disini berapa lama?" Tanya Alena.

"Kayaknya sih masih lama ya, tadi aku disuruh ambil baju ganti." Jawab Bara memasukan suapan terakhirnya.

"Iya, tapi nanti kita pulang kok." Rafi menjawabnya seraya menatap Alena.

"Kita pulang?" Tanya Alena lagi memastikan, dan Rafi mengangguk.

"Disini aja deh kak."

"Besok kan sekolah sayang, pulang aja kalian juga harus istirahat." Rosa menyahut.

"Tap-"

"Makan nih makan!" Bara memasukan makanan Alena yang masih tersisa lalu segera berlari keluar.

"Kak Bara!?"

Waktu berlalu, kini Alena dan bara sedang berada di kediaman keluarga Harsana. Lebih tepatnya Alena sedang berada di kamar orangtuanya, menyiapkan baju-baju Harsa yang akan menemani Rosa di rumah sakit.

"Bawa berapa ya?" Gumamnya.

"Udah?" Tanya Bara yang ikut masuk.

"Belum, mau bawa berapa?" Tanya Alena.

"Secukupnya dulu aja, besok kalo kurang kita ambil lagi. Aku ke toilet bentar." Bara beranjak pergi.

Alena beranjak lalu melangkah ke arah lemari, membuka lemari putih itu dan langsung mendapati banyak tumpukan baju.

Alena mengambil beberapa diantaranya lalu membawanya kembali ke ranjang, kembali beranjak Alena mengambil handuk.

Tangannya yang terulur untuk mengambil handuk itu mengambang di udara, matanya tertuju pada bingkai foto yang ada di pojok lemari. Beralih mengambil foto itu Alena mengamatinya, terlihat foto Rosa dan Harsa beserta tiga anak kecil. Bibirnya tertarik, senyum tipis tercetak.

AFIA or ALENACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang