BUGH!
Satu pukulan mendarat di dagunya, Ryan yang tak lain adalah pelakunya menunjuknya dengan sorot mata kesal.
"Lo goblok tau gak?!"
"Mau mati Lo?!"
"Iya."
"Bar! Rubah sifat jelek Lo ini! Gak akan selesai kalau gini terus!"
"Gue harus gimana?! Harus apa hah?!" Tanya Bara tak kalah ngegas.
"Bar, gak akan selesai kalau Lo terus-terusan lari gini." Sahut Grey, mendekati kedua sahabatnya itu lalu menyuruh mereka untuk lebih ke tengah.
"Lu mau ldr lagi?" Tanyanya tiba tiba membuat kedua manusia dihadapannya mengerutkan keningnya bingung.
"Ldr surga neraka sama Alen, mau Lo? Gak capek ldr surga bumi? Kalau Lo mati sekarang, Lo gak akan mungkin masuk neraka secara dosa Lo masih banyak." Sarkasnya membuat Ryan terkekeh.
"Nah iya tuh bener, mau Lo ldr surga neraka?"
"Bangsat kalian." Bara menghela napasnya, memutuskan untuk duduk dengan kepala yang bertumpu pada tangannya.
"Balik deh Bar, kasian mamah." Ucap Ryan lagi yang kini duduk bersamanya.
Mereka disini sekarang, ditempat tinggi tempat orang-orang bekerja. Tempat yang biasanya Bara sebut 'atap' walaupun sebenarnya tidak memiliki penutup yang bisa digunakan untuk berteduh dari matahari ataupun hujan. Di rooftop kantor Harsa.
Setelah keliling dunia, Ryan dan Grey menemukannya disini. Yang membuat mereka kesal adalah saat pertama kali melihatnya, Bara tengah duduk di pembatas yang seharusnya digunakan untuk pengaman agar tidak jatuh. Gila bukan? Cari mati.
"Nanti gue balik, pamitan dulu. Lo berdua pulang sana." Ujarnya, tangannya bergerak mengambil handphone dari dalam tasnya.
"Kenapa sih anjir? Lo berantem sama dia?" Tanya Ryan saat melihat layar handphone Bara, terlihat disana pesan yang Bara kirim hanya bertanda centang satu.
"Dia marah sama gue, gara-gara gue ikutin saran kalian."
"Lah gila nyalahin orang, salah Lo sendiri gak jujur dari awal. Dahlah terserah, gue mau balik banyak urusan." Grey beranjak, melangkah menjauh meninggalkan mereka.
"Lo gak balik?" Tanya Bara, pandangannya kini beralih pada langit yang mulai menguning, angin yang berhembus terasa begitu sejuk mendukung kesuraman hatinya.
"Ayo balik, gue jajanin sate deh." Ajak Ryan yang sudah beranjak lalu menendang kakinya.
Bara terkekeh, "Duluan aja, gue nanti."
"Ck! Awas lu ya! Kalau gue nanti dapet kabar Lo mati, gue gak akan ngelayat." Ucapnya sebelum benar-benar pergi.
Meninggalkan Bara sendirian ditempat yang seperti itu bukanlah pilihan yang baik, Ryan harap pilihan yang sudah ia tentukan tidak ia sesali nanti.
Sedangkan Bara masih menatap layar handphone ditangannya dengan tatapan sendu. Seseorang yang Bara harapkan bisa menjadi tempatnya bercerita justru marah saat masalah sebesar ini datang. Meletakan handphonenya begitu saja lalu ia mendongak, memejamkan matanya. Berandai-andai jika semuanya hanyalah mimpi buruk yang menghantuinya, berharap jika semuanya hanya sebuah film yang terasa sangat nyata.
Ting!
Notifikasi pesan masuk itu berhasil membuka matanya untuk melihat sekilas.
081345××××××
Bisa minta waktunya sebentar? Kita harus bicara
Sore itu berlalu begitu saja, hari Senin memang semengerikan itu. Kini Alena tengah merebahkan tubuhnya, matanya terpejam namun pikirannya berkelana. Rafi yang sampai sekarang masih sibuk, dan Bara yang tidak tahu ada dimana membuat suasana rumah yang sebelumnya ramai menjadi sepi. Papahnya yang sudah mulai bekerja setelah mengambil cuti beberapa saat juga membuat keadaan dirumah semakin kosong. Hanya ada mamahnya, sore tadi Alena dan Rosa berjalan mengelilingi perumahan mereka, sekalian mencari Bara katanya. Mereka juga mampir ke rumah di depan rumahnya, rumah Dera. Atmosfer disana berubah menjadi seram, Alena bergidik ngeri saat memasukinya. Lalu saat mereka pulang, tepatnya saat membuka pintu dengan wajah mereka yang sudah terlihat lelah dan pasrah handphone Rosa berbunyi menandakan panggilan masuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
AFIA or ALENA
Randomfollow dulu [LENGKAP] AFIA REYNA PRAMANA gadis yang terlahir triplets. Sempat merasakan kasih sayang, kehangatan, dan keperdulian dari keluarganya, hingga saat usiannya menginjak 12 tahun dengan alasan yang belum diketahui, ia dijauhi oleh orang tua...
