empat belas ✓

20.4K 1.4K 11
                                        


Waktu terus berjalan.
Hari berganti hari.
Minggu berganti minggu.
Hingga bulan berganti bulan.
Setelah proses yang sangat panjang dan sangat rumit semuanya sudah selesai.

"DIMANA MAH?! NANTI AKU TELAT!"

Saat ini di kediaman keluarga Harsana sedang digegerkan dengan Rafi yang mencari-cari baju olahraganya.

Berlarian kesana kemari mencari baju itu, mengganggu Alena yang sedang mengerjakan tugasnya di lantai bawah "Kak Rafi berisik banget sih!" kesalnya.

"Mana Kakak kamu?" tanya Rosa sembari meletakan segelas susu dimeja yang digunakan Alena. "Dia atas tuh, bilangin mah jangan berisik," jawabnya, tangannya menunjuk kamar Rafi.

"Yaudah mamah kesana dulu, dihabisin susunya ya," Rosa melangkah pergi meninggalkan Alena.

Menaiki setiap anak tangga yang membawanya ke sebuah ruangan yang tampak sangat berantakan, barang yang tidak pada tempatnya, dengan pemiliknya yang terlihat lelah dengan rambutnya yang acak-acakan, "Nih," kata Rosa menginterupsi, menyodorkan kain yang sedari tadi membuat putranya bingung.

"Kok kusut?"

"Ya salah kamu sendiri lah, udah tau kotor bukannya langsung ditaruh bawah biar bisa dicuci, ini malah seminggu nggak dikeluarin."

"Buruan udah ditungguin papah itu," tanpa menunggu balasan sang anak, Rosa meletakan kaos itu di sandaran kursi yang kebetulan tidak jauh dari jangkauannya.

Sedangkan Rafi, laki-laki itu menghela napasnya lalu mengambil baju olahraga itu dan memakainya. Sempat merutuk menyalahkan dirinya sendiri yang lupa menyiapkan tadi malam, setelah selesai Rafi keluar dengan tasnya.

***

"Lama banget sih kak, udah laper nih."

"Maaf," Rafi menampilkan giginya.

"Makan," sela Rosa sebelum mereka kembali ribut.

"Oh iya mah, pah, katanya beberapa hari lagi disekolah mau ada rekruitmen osis," kata Rafi memberitahu.

"Terus?"

"Kak Rafi mau jadi osis?"

"Ya justru itu, Rafi pingin nyalonin diri. Kira-kira gimana?" tanya Rafi balik, meminta saran.

"Emang bisa?" Harsa menggoda anaknya.

"Papah mah gitu," merasa tak mendapat dukungan dari sang ayah, Rafi beralih menatap Rosa, "Mamah gimana? Setuju nggak?"

"Mamah sih setuju-setuju aja."

"Tuh, mamah udah setuju. Papah gimana?"

"Kalau yakin bisa ya gass aja, tapi yang pasti harus ada perubahan dulu dari diri kamu itu," kata Harsa, meletakan sendoknya lalu tersenyum. "Belajar bagi waktu, di tata rapi itu kegiatannya, disiapin, jangan sampai besok pas udah jadi ketua osis kamu malah bingung nyari baju olahraga," katanya lalu tergelak, menertawakan ucapannya sendiri.

"Hus, papah ini. Udah makan dulu, ini udah jam berapa, nanti dibicarain lagi."

"Ayo Fi, telat ini."

***

Disinilah mereka berdua, Alena dan Rosa. Alena melirik Rosa yang tengah asik menonton siaran televisi di depan sana. Setelah sarapan pagi tadi, Alena yang seharusnya berada di ruang belajarnya untuk memulai kelasnya pagi ini akhirnya bisa bernapas lega. Pasalnya guru privat yang memang disewa Harsa untuk mengajari Alena itu tiba-tiba menelepon, mengatakan bahwa tidak bisa datang untuk mengajar Alena pagi ini.

"Mah, gabut banget deh," Alena menutup toples camilannya Lalau beranjak mendekati mamahnya, setelahnya Alena menidurkan dirinya dengan paha Rosa sebagai bantal. Sejujurnya dirinya bersyukur karena kelasnya hari ini 'diliburkan', tugas yang belum selesai dikerjakan menjadi faktor utamanya. Tapi sekarang ia bingung harus melakukan apa.

AFIA or ALENACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang