Setelah lama membolos di pagi hari. Kini tiba saatnya jam istirahat. Varo dan Sheilla melangkah ke kelas, sedangkan teman Varo yang lainnya menuju ke kantin untuk mengisi perut merkea.
"Shei, lo sama Varo kenapa ngga masuk hampir seminggu si? Kompakan banget lagi" tanya Amel, teman kelas mereka berdua.
Sheilla dan Varo baru saja duduk di kursi mereka, namun sudah banyak pasang mata yang melihat mereka dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Shei, lo denger pertanyaan gue kan?" tanya Amel menegaskan
"A-ah? Eh iya, gue anu itu...." jawab Sheilla sembari menatap Varo, semoga saja Varo peka jika Sheilla bingung harus menjawab apa.
"Dia sakit" ucap Varo. Memang benar bukan, jika beberapa hari lalu Sheilla koma.
"Terus lo? Pacarnya ikut-ikut jagain gitu?" tanya Amel menyilangkan tangannya di dada.
"Bukan urusan lo!" jawab Varo sembari menatap tajam wajah Amel, nada bicaranya juga sangat di tekan sebagai bentuk penegasan.
Amel sedikit tersinggung, lalu pergi dengan bibir yang mengerucut dan mengentakkan kakinya.
"Var, apa sikap kamu ngga terlalu berlebihan?" tanya Sheilla setelah mendengar apa yang Varo katakan pada Amel.
"Biarin aja si sayang, dia terlalu ngurusin urusan orang lain" jawab Varo seraya mengelus punggung tangan Sheilla.
"Tapi kan-" kata Sheilla
"Sst, jangan dipikirin" potong Varo sambil beberapa kali mengecup punggung tangan Sheilla.
Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi. Terlihat banyak kelas sudah kembali mengikuti pembelajaran dengan guru mapel, tak terkecuali kelas Varo dan Sheilla.
Proses belajar mengajar berjalan dengan lancar. Bahkan guru yang mengajar juga tidak menanyakan penyebab hampir seminggu absennya dua murid dalam kelas ini. Padahal sedari tadi Sheilla telah berpikir keras jika guru menanyakan alasan ia tidak berangkat selama berhari-hari.
"Baik anak-anak kalian bisa mengerjakan tugas kelompok sesuai dengan kelompok yang sudah saya buat" ucap guru itu mengakhiri proses pembelajaran kali ini.
Sekolah di hari Sabtu memang pulang jam 11.30 di lanjutkan extra bagi yng mengikuti. Jam pulang di hari ini memang berbeda dari hari lain yang sampai jam 14.00 dan ada beberapa siswa yang harus mengikuti kegiatan extrakulikuler.
"Shei, lo kok ngga pernah bersosialisai sama anak yang lain sih" celetuk Amel saat berjalan di dekat Sheilla.
Sheilla memang sedang berjalan ke arah parkiran terlebih dulu, karena seusai pelajaran Varo langsung meminta izin untuk menemui teman-temannya.
"Gue canggung aja" jawab Sheilla seadanya.
"Lo anak baru kok bisa langsung deket sama Varo si? Padahal temen yang lainnya aja belum bisa deket sama dia. Ngobrol aja ngga pernah" tanya sekaligus ucap Amel keheranan.
"Ngga tau" kata Sheilla, ia malas untuk menjelaskan pada orang lain.
Amel sedikit mencibir setelah melihat respon Sheilla yang menurutnya sangat tidak sopan. "Dih" ucap Amel seraya pergi begitu saja.
Melihat respon Amel yang kesal dengannya, Sheilla justru menghendikkan bahunya acuh. Sifat yang ada pada raganya yang dulu memang seperti ini. Bahkan sudah sekian lama Sheilla berusaha menahan dirinya untuk mengeluarkan sifat aslinya.
Sheilla melanjutkan langkah kakinya sampai ke parkiran. Terlihat hanya tinggal beberapa kendaraan siswa yang masih terparkir di situ.
Merasa belum ada tanda-tanda kehadiran Varo, Sheilla memilih duduk di bangku dekat parkiran, toh yang penting ia sudah dekat dengan parkiran.

KAMU SEDANG MEMBACA
TRANSMIGRASI! OVER PROTECTIVE?! (END)
Teen FictionWALAUPUN UDAH END, HARUS TETAP VOTE DAN RAMAIKAN KOMEN YA! ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Namanya Sheilla Alisya. ia tak pernah membayangkan kejadian itu membuatnya harus menjalankan misi agar bisa berpindah ke kehidupannya yang asli. "LO!? KENAPA LO...