Ayam mulai berkokok, bertanda subuh akan segera tiba. Abhi segera membangunkan Iyan agar bisa membereskan tempat yang sudah mereka tiduri dan menyapu.
"Iyan bangun dulu, kita bereskan tempat tidur dulu."
"Hoaamm. Tapi Abhi, Iyan masih ngantuk."
"Iyann!" ucap Abhi dengan suara rendahnya.
Mendengar suara Abhi, Iyan segera bangun dan langsung menilap karpet, tempat yang sudah mereka tiduri tadi malam. Abhi mulai menyapu seluruh ruangan dan Iyan bagian mengepel ruangan tersebut.
Setelah semuanya sudah selesai, Iyan dan Abhi bergegas pergi ke tempat wudhu. Iyan memakai sarung dan pecinya ketika selesai berwudhu, begitupum dengan Abhi. Mereka pergi ke dalam mushola untuk ikut salat berjamaah. Tapi, di dalam mushola hanya terdapat 3 orang saja. Apakah selalu begini saat salat subuh?
"Bhi," panggil Iyan sambil berbisik.
"Iya Yan?" Abhi menjawab tanpa menengokkan wajah pada Iyan.
"Ini kenapa sepi sekali?" tanya Iyan sambil mengedarkan matanya ke seluruh penjuru mushola.
"Mungkin masih pada tidur Yan," jawab Abhi seadanya.
Iyan mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian tak lama adzan mulai berkumandang. Iyan dan Abhi mendengarkannya dengan serius, karena waktu adzan adalah waktu doa yang ampuh. Itu yang mereka dengar dari Pak ustadz.
Matahari mulai menampakkan diri di ufuk timur, semua orang mulai menyibukkan diri. Mulai dari yang berkerja, hingga yang pengangguran. Iyan dan Abhi sudah sampai di lokasi, mulai menyusun kardus membentuk rumah. Ya, walau tidak besar, tapi itu mungkin akan muat hanya untuk mereka tidur dan duduk.
"Iyan, tolong plastiknya sobek yah. Dibikin persegi panjang aja," pinta Abhi yang sibuk menempelkan solasi pada kardus.
"Iya Abhi." Iyan mengambil cutter yang ada di samping Abhi untuk menyobek pinggir plastiknya.
Waktu terus berjalan, Abhi dan Iyan hampir menyelesaikan pekerjaannya. Matahari mulai meninggi tepat di atas kepala, menunjukkan bahwa sudah pukul jam 12 siang.
"Iyan, kamu beli minum dulu gih. Ini biar Abhi yang nyelesainnya." Abhi memberikan uang tiga ribu untuk membeli minum.
"Minumnya apa Bhi?"
"Itu cukup beli air putih yang di aqua." Setelah Abhi mengatakan itu, Iyan segera pergi. Warungnya tepat di seberang jalan, dan Iyan harus menyeberang untuk membeli minum itu.
Abhi mulai memasangkan plastik pada atap dan pinggir rumah mereka, agar saat hujan tiba, air tidak akan masuk banyak. Abhi sengaja mencari tanah yang sedikit turun, agar airnya tidak masuk ke dalam rumahnya.
"Huff! Akhirnya selesai juga." Abhi mengelap keningnya yang banyak mengeluarkan keringat. Matanya sedilit buram karena air keringat.
"Nih Bhi." Iyan memberikan minumnya yang tadi ia beli pada Abhi.
"Kamu sudah minum?" tanya Abhi sambil membuka tutup botol.
"Belum, kan harus yang lebih tua dulu, baru yang muda." Abhi mendengar itu tersenyum, Iyan sebenarnya mempunyai sikap sopan dan menghargai. Tapi, itu semua tertutup dengan kelakuan yang sangat menjengkelkan.
Abhi memberikan minum pada Iyan, dengan cepat Iyan meneguknya hingga habis setengah. "Haus Yan?"
"Bukan Bhi, Iyan lapar," timpal Iyan dengan nada jenakanya.
"Nanti kita makan, tapi sepertinya hari ini kita tidak bisa makan nasi. Karena uangnya tinggal sedikit." Abhi menatap langit siang dengan sendu, ia tidak bisa begini saja. Ia harus mencari pekerjaan agar mereka bisa makan nasi.
"Gak apa-apa Bhi, yang penting perut Iyan dan Abhi ke isi."
Abhi melirik pada Iyan, entah kenapa ia dan Iyan mempunyai nasib yang sama. Abhi juga bersyukur karena bertemu dengan Iyan, hidupnya tidak begitu monoton setelah mengenal Iyan.
"Besok kita cari tukang koran yang bisa di dagangkan oleh kita," ucap Abhi sambil mengusap-usap bajunya yang kotor.
"Emang ada yah Bhi?"
"Ada, sekarang kita pergi ke warung dulu untuk membeli roti." Abhi dan Iyan menyeberangi jalan untuk pergi ke warung tempat Iyan membeli minum tadi.
Abhi memberikan satu bungkus roti yang tadi mereka beli kepada Iyan, lalu ia membuka plastik roti miliknya. Untung saja uangnya cukup untuk membeli 2 roti dan satu minum.
🍍🍍🍍
Matahari mulai menyembunyikan diri, hari semakin gelap, Iyan dan Abhi membereskan tempat mereka agar layak untuk pakai tidur. Mulai dari menyapu, membereskan kardus-kardus yang tersisa, dan membersihkan daun yang berserakan di sekitar rumah baru mereka.
"Abhi udah beres belum?" tanya Iyan ketika ia sudah mengembalikan sapu yang ia pinjam dari rumah tetangga.
"Sebentar lagi, kalo mau tidur, duluan aja gih," ucap Abhi tanpa menoleh ke arah Iyan.
"Oke, Iyan duluan tidurnya. Selamat malam Abhi."
"Malam."
Hening. Abhi melihat sekelilingnya, tidak ada orang yang berada di luar rumah. Sepertinya memang sudah larut malam, dengan cepat Abhi menyelesaikan pekerjaannya.
"Iyan," panggil Abhi ketika masuk ke rumah barunya. Ia melihat Iyan yang masih duduk.
"Kenapa belum tidur?"
"Nunggu Abhi, biar enak tidurnya. Iyan takut kalo ada hantu pas Iyan lagi tidur." Abhi terkekeh mendengar ucapan Iyan.
"Kalo gitu, mari kita tidur. Sudah malam, besokkan kita harus kerja."
"Selamat malam Abhi, dan terima kasih untuk hari ini."
Abhi tersenyum mendengarnya. "Terima kasih kembali."
Tak lama, mata mereka menutup dengan perlahan. Dengan pikiran yang sudah ada di alam bawah sadar, seakan-akan mereka berada diatas kasur yang begitu nyaman dan empuk.
Salam dari bikini beton nangka🍍🍍🍍
jangan lupa spam buah nangka.
See u
KAMU SEDANG MEMBACA
Because He's Bentala
Teen Fiction"Ini makanan buat kamu, tapi kamu jangan bilang ke orang itu yah." "Nama kamu siapa?" "Ara, kalo gitu aku pergi dulu." "Tante, saya itu bukan orang miskin." "Mana buktinya?" "Buktinya atap rumah saya seharga lebih dari 1 triliun." "Kamu maling yah?"...
