Kembali lagi di bikini beton nangka🍍🍍
Sinar matahari yang mengandung radiasi ultraviolet mulai menembus pada kain yang menyebabkan peluh keringat bercucuran pada tubuh Iyan dan Abhi. Sedari tadi, mereka berdua belum menemukan pedagang koran yang bisa di jual oleh mereka berdua.
Dengan sabar, mereka mencoba lagi dengan pedagang koran yang lainnya. "Bang, korannya boleh kami jual?" tanya Abhi ketika ia sampai di toko koran yang pemiliknya berjengkot putih.
"Boleh saja, tapi nanti kita bagi dua hasilnya yah." Abhi menghela napas lega saat mendengar jawaban membolehkan dari mulut si pedagang itu.
"Baik bang, terima kasih banyak."
"Ini korannya." Abhi dengan cepat mengambil koran dari tangan pedagang itu, lalu membagi menjadi dua dengan Iyan.
"Ayo kita ke lampu merah," ajak Abhi.
Iyan yang notabenya masih baru dan belum pernah jualan koran, ia hanya diam dan mengikuti Abhi. Mungkin nanti ia akan berjualan setelah melihat cara Abhi menjualkan koran tersebut. Mereka berdua menunggu lampu menjadi merah, agar mereka bisa berjualan.
"Abhi," panggil Iyan.
"Iya, ada apa Yan?"
"Gimana cara jualan korannya? Kan Iyan baru kali ini."
Abhi berpikir sejenak. "Kamu nanti datangin satu persatu mobilnya, kemudian tawarin koran. Gitu aja," jelas Abhi.
Iyan mengusap-usap dagu yang belum tumbuh jenggot itu sambil diangguk-anggukkan. Tak lama, lampu pun menjadi merah. Abhi dan Iyan mulai berpisah untuk berjualan.
"Hati-hati Yan!" teriak Abhi sambil melambaikan tangannya.
"Oke Bhi!" Mendapat jawaban dari Iyan, Abhi membalasnya dengan mengacungkan jempolnya.
"Koran-koran!" Abhi dan Iyan mulai mendatangi mobil satu persatu.
"Korannya Pak?"
"Koran-koran! Koran sindo!"
Iyan mengetuk kaca mobil. "Permisi Pak, mau korannya?" tanya Iyan ketika mendapati kaca yang dibuka setengah.
"Tidak."
"Koran ini banyak informasinya loh Pak, apalagi Bapak sepertinya seorang pengusaha. Jadi, Bapak butuh informasi bukan dari handphone saja. Di koran juga bapak bisa mengetahui informasi yang tidak jauh beda dari internet, harganya juga pas disaku kok Pak."
Orang yang panggil Iyan Bapak tersebut pun akhirnya meraih satu koran. Ia sedang malas berdebat dengan seorang bocah.
"Duhh, makasih yah Pak. Jadi gak enak," ucap Iyan dengan senyum andalannya.
"Iyan!" panggil seorang anak gadis dengan riang yang berada di dalam mobil tersebut.
"Emm, Ara yah?" tanya Iyan sambil sedikit menyembulkan kepalanya ke dalam mobil agar ia bisa mengetahui siapa yang memanggilnya.
"Iya Iyan, aku Ara!" Ara segera membuka kaca mobilnya, ia ingin sedikit leluasa berbicara dengan Iyan.
"Apa kabar Iyan?"
"Baik kok."
"Bagaimana kalau nanti sore, kita bertemu di taman?"
"Taman mana?"
"Taman yang ada rumah pohonnya."
Iyan mengusap lehernya bagian belakangnya, Ara yang melihat itu mengernyitkan keningnya. "Ada apa Iyan?" tanyanya ketika tidak mendapatkan jawaban dari orang yang ada di depannya ini.
"Rumah pohonnya sudah ada yang nebang."
"Kan kita bisa di tempat lain ketemuannya," ucap Ara dengan wajah yang masih berseri-seri.
"Iya yah, terus mau dimana?" tanya Iyan.
"Dekat danau aja, gimana?" usul Ara.
"Oke, jam berapa?"
"Sekitar jam 3 sore." Setelah mengatakan itu, lampu lalu lintas berganti menjadi hijau. Ara melambangkan tangan kepada Iyan yang sudah ada di trotoar.
Iyan berlari ke arah Abhi, ia baru mendapatkan satu koran yang terjual dengan harga 3.000,00. Padahal ini hari pertama ia jualan koran.
"Abhi, Iyan hanya dapat segini. Lampu merahnya kecepatan jadi hijaunya, Iyan dapat satu doang yang terjual," keluh Iyan sambil mencebikkan bibirnya lalu memberikan uang dan koran yang tersisa masih banyak.
"Tenang, kan sebelah sana belum lampu merah tuh. Jadi, Iyan harus semangat dong," ucap Abhi, lalu memberikan kembali koran kepada Iyan.
"Inikan hari pertama jualan. Tidak semua jualan harus habis. Kita lakukan dengan cara pelan-pelan," lanjut Abhi sambil merangkul pundak Iyan yang sedikit pendek darinya.
"Iya juga yah. Berarti Iyan harus semangat dong!" seru Iyan dengan mata yang kembali berbinar menatap sang surya.
"Duh, cahaya ilahi masuk ke retina mata!" teriak Iyan dengan dramatis, Abhi menggelengkan kepalanya. Ia tak habis pikir dengan sikap Iyan yang sedikit absurd. Setiap harinya, pasti ada saja sikap yang tidak terduga. Tapi Abhi tidak mempermasalahkan itu, selama itu tak merusak kehidupannya dengan Iyan.
Mereka berdua kembali berjualan koran ketika melihat lampu kuning sudah menjadi merah, Abhi berjualan dengan sopan. Sedangkan Iyan, dengan gaya rayu-merayunya. Tak ayal, dengan gaya rayu-merayu, koran yang ia jual hampir habis.
"Abhi liat!" teriak Iyan sambil melambaikan koran yang ia pegang kepada Abhi yang masih ada di seberang jalan.
"Apa Iyan? Abhi gak denger!" jawab Abhi dengan berteriak pula sambil menggerakkan tangannya ke telinga, seolah memberi isyarat pada Iyan.
Iyan sejenak berpikir, lalu ia menggunakan isyarat seperti Abhi dengan tangan yang seakan menyuruh untuk ke tempat Ia berada. "Abhi udah belum jualannya? Kalo udah! Abhi ke sini! Sekalian pulang! Udah sore nih!"
Abhi hanya mengacungkan jempolnya, kemudian ia menyeberangi jalan yang masih lampu merah. "Bagaimana hasil jualan koran?" tanya Abhi ketika sudah berada di dekat Iyan.
"Lumayanlah Bhi, Iyan dapat seratus nih. Kalo Abhi?"
"Abhi belum ngitung uangnya, mending sekarang kita kembaliin koran yang tersisa ke toko sambil setoran."
"Oke. Tapi Iyan pengen beli minum boleh?"
"Jangan pakai uang itu, uang Abhi aja dulu. Kebetulan ada uang nyisa," Abhi merogoh uang yang ada di kantung bajunya.
"Nih, air putih saja. Biar kita sehat, sekalian bisa menghemat," ucap Abhi sambil memamerkan giginya. Sungguh, melihat wajah Abhi yang begitu, ia sedikit menjadi kesal. Iyan berlari menuju stan minuman, ia mengambil air putih, lalu membayarnya.
"Abhi mau minum?" tanya Iyan sambil membuka tutup botol aqua.
"Mau, setelah Iyan saja. Jangan lupa duduk minumnya."
Iyan menuruti perintah Abhi, ia duduk di pinggiran jalan lalu meminum air tersebut. Ladang yang kering, kini mulai di siram oleh air yang bisa menghilangkan kekeringan tersebut. Setelah meminum air, Iyan memberikan botol air yang tersisa setengah itu. Abhi terkekeh melihat Iyan yang kehausan, ia kemudian meminumnya dengan hanya sekali teguk. Hari ini ia tidak begitu haus, juga mungkin karena ia tidak terlalu menyukai air minum berwarna putih ini.
🍍🍍🍍
Jangan lupa votmennya guys
Salam dari bikini beton nangka
Tertanda
Isterinya mas blasteran surga.🍍🍍🍍
KAMU SEDANG MEMBACA
Because He's Bentala
Teen Fiction"Ini makanan buat kamu, tapi kamu jangan bilang ke orang itu yah." "Nama kamu siapa?" "Ara, kalo gitu aku pergi dulu." "Tante, saya itu bukan orang miskin." "Mana buktinya?" "Buktinya atap rumah saya seharga lebih dari 1 triliun." "Kamu maling yah?"...
