Kenapa masalah harus bisa dibeli oleh uang?!
🍍🍍🍍
Kucing hitam melangkahkan kakinya di atas genting, matanya menyala di antara kegelapan malam. Tidak ada cahaya bulan dan bintang seperti biasanya.
Dua remaja duduk berhadapan di atas lantai tanpa alas apapun, mengabaikan rasa dinginnya. Suasana mencekam sangat terasa di antara dua laki-laki itu.
Mimik muka tidak santai, deru napas memburu. Salah satu di antara mereka, tangannya mengepal serta matanya menatap nyalang pemuda yang di hadapannya.
"Iyan, santai."
"Gimana gue bisa santai? Kita hari ini gak makan. Sedangkan orang yang seenaknya nyuruh mereka mecat kita lagi berleha-leha! Bahkan, dia lagi makan enak!" Iyan menaikkan nada suaranya, lalu menghembuskan napas kasar. Tangannya mengusap kasar area wajah. Sekali lagi, ia mendengus kasar.
"Iyan, dengerin Abhi! Ki---"
"Abhi, gue tahu apa yang bakal lo omongin! Lo mau nyalahin diri sendiri lagi, kan?" Iyan berhenti sejenak.
"Ini bukan salah lo! Kita ada di sini karena keegoisan mereka! Sekali aja Bhi, lo dengerin kata gue. Gue tahu lo selalu anggap gue masih kecil dan belum dewasa. Tapi Bhi ... gue---"
Belum usai Iyan berucap, Abhi beranjak dari duduknya. "Gue gini karena gue ingin ngelindungi lo dari orang-orang jahat. Belum tentu orang lain menganggap kita selalu baik. Adakalanya mereka menganggap kita sebagai orang jahat."
Abhi menghela napas perlahan, kini ia berbalik menatap langit yang tidak ada hiasan. "Lo tahu, Yan. Saat lo mencuri karena lapar, di situ gue selalu berpikir kalau gue gagal melindungi bahkan memberi lo sesuap nasi. Apalagi, saat itu gue masih anak yang labil yang gak tahu apa-apa."
Iyan ikut beranjak dan mendekat ke arah Abhi. "Yan, untuk bertahan hidup ke depannya aja gue gak tahu cara ngatasinya gimana. Lo masih inget gak kejadian saat lo masih kecil dan mencuri."
Iyan mengangguk, ia kembali menerawang saat pertama kali berada di lingkungan tanpa keluarga. Waktu itu, ia bahkan tidak diberi uang sepeser pun hanya untuk sekedar mengganjal perut.
Sudah berkali-kali Iyan mencuri karena lapar, ia berhenti saat bertemu dengan Abhi di depan toko yang sudah tutup pada malam hari.
"Bhi, gue pernah baca di pelajaran PKN. Di situ gue nyimpulin. Bukankah setiap warga negara berhak atas perkerjaan dan penghidupan yang layak." Iyan menghela napas sejenak untuk meredamkan rasa sesak.
Lalu melanjutkan kalimatnya yang sempat tertunda, "Tapi kenapa orang kaya selalu berhak menentukan hak hidup kita?!"
Terdapat suara bergetar dalam nada tingginya. Abhi menepuk bahu Iyan, sekesal apapun pada bocah di sampingnya ini, dirinya tetap tidak bisa memarahi lebih keras lagi.
Iyan meringis kecil saat merasa perutnya sakit, ia mencengkeram kuat perutnya. Ia terduduk di bawah naungan langit malam. Matanya terpejam untuk menetralkan rasa sakit. Perutnya seperti terkoyak oleh sesuatu yang tidak terlihat.
"Arrghh!" Abhi segera mengambil air putih yang berada tak jauh dari tempat ia berdiri. Kejadian ini terulang lagi.
"Kita ke rumah sakit yah, Yan." Abhi memberikan minum pada Iyan.
Iyan menggeleng, tapi pemuda itu masih saja meringis. Rasa sakit malah lebih sangat terasa lagi, padahal tangannya sudah sekuat tenaga menekan rasa sakit itu.
"Yan," lirih Abhi.
"Dibawa tidur juga nanti sembuh." Iyan berkata dengan sangat pelan.
Abhi memapah tubuh Iyan menuju kasur, tubuhnya sangat lemas. "Gue beliin obat dulu."
Iyan menahan lengan Abhi. "Emang lo punya duit? Dahlah, nanti juga sembuh. Tidur lo, kalau lo sakit, gue juga yang repot."
Abhi memukul kaki Iyan. "Lo yang lagi sakit sekarang, bego!"
Iyan memamerkan giginya. "Gue mau tidur. Awas lo ngutang obat lagi, mana tuh tukang warung nagihnya ke gue. Katanya, kalo sama lo dia segan sama gugup. Aneh."
"Abisnya aura gue terlalu berkhasrima buat si neng tukang warung."
Iyan menarik selimut sampai menutup tubuhnya. Laki-laki itu tidak mau mendengar kata-kata seperti tadi dari Abhi. Iyan kembali memegang perut dan tidur meringkuk.
🍍🍍🍍
Benar apa kata Iyan tadi malam, perutnya sudah tidak sakit saat dibawa tidur. Terbukti sekarang, dia sudah bisa menggoda cewek-cewek cantik sepanjang jalan.
Mata Iyan terkunci pada satu orang yang ia kenal dan juga benci. Dengan langkah cepat laki-laki yang di tangannya terdapat lembaran koran menghampiri dan menarik kerah pemuda itu.
"Apaan ini?!" seru Bian terkejut karena tiba-tiba Iyan menarik kerah bajunya.
Tanpa pikir panjang, otak Iyan menyuruh untuk memukul pemuda di hadapannya ini.
Bian yang tak sempat menghindar pun terkena pukulan di pipinya. "Apaan sih lo, datang-datang langsung nyerang kek gini? Emang gue punya salah apa sama lo, hah??"
Napas Iyan kian memburu tatkala mendengar hal tersebut, ia kembali memukul secara brutal tanpa memikirkan orang di depan kafe sedang merekam aksinya.
"Lo tahu, gak? Nyari uang itu gak segampang yang lo pikirin. Lo enak kalau mau apa-apa tinggal minta sama nyokap bokap lo. Gue? Dari kecil gue harus nyari sendiri, maling, bahkan gue hampir mati karena lapar. Beda sama hidup lo, bangsat!"
Iyan menghentikan pukulannya pada Bian ketika merasa sedikit kebas pada tangannya. Ia kembali berkata, "Lo seenaknya nyuruh bos gue memberhentikan pekerjaan gue yang sebelumnya baik-baik aja. Gue udah cape nyari pekerjaan yang nerima tanpa ijazah, dan dengan santainya lo nyogok mereka pake uang!"
Bian berusaha berdiri dengan bantuan tembok di sampingnya. "Oh soal itu, emang dasarnya lo gak pantas dapat kehidupan layak. Tenang saja, mau gue bayar berapa buat lo gak ngerasa dirugiin," cemooh Bian.
Iyan menatap nyalang. "Gue gak butuh uang lo, bangsat! Yang gue butuhin sikap lo benerin!"
Bian tertawa remeh. "Lo siapa gue, nyuruh gue benerin sikap gue. Hei, ngaca. Lo udah bener belum. Tukang maling aja bangga," ledeknya.
"Anjing lo!" Iyan kembali memukul Bian, emang dasarnya Bian tidak bisa bela diri atau lemah hingga tidak bisa menghindari serangan dari Iyan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Because He's Bentala
Teen Fiction"Ini makanan buat kamu, tapi kamu jangan bilang ke orang itu yah." "Nama kamu siapa?" "Ara, kalo gitu aku pergi dulu." "Tante, saya itu bukan orang miskin." "Mana buktinya?" "Buktinya atap rumah saya seharga lebih dari 1 triliun." "Kamu maling yah?"...
