CHAPTER SEVEN

218 105 487
                                        

Kembele lege dengen eyen yeng mengecelken

Salam dari

Bikini beton nangka🍍🍍🍍

Sepertinya, aku harus menjadi Zulaikha yang mendekatkan dirinya pada sang pencipta.


"Iyan takut."

Abhi tak kuasa menahan air matanya saat mendengar Iyan mengigau, ia segera memeluk Iyan dengan erat.

"Abhi juga takut Iyan. Tapi, kalau Abhi takut, nanti kita akan mati di dunia yang kejam ini," gumam Abhi dengan air mata yang terus mengalir.

Dor
Dor
Dor

Abhi langsung berdiri saat mendengar suara tembakan itu, ia segera melihat ke arah jendela. Terlihat 3 polisi yang sedang berlarian menuju danau, tempat dimana Abhi dan Iyan berada.

"Mereka mau ke sini?" tanya Abhi pada dirinya sendiri.

Dengan cepat ia membangunkan Iyan, entah kenapa tengah malam seperti ini masih ada polisi. Sebelumnya, Abhi sudah mengunci pintu rumah pohon, ia hanya sedikit berjaga jaga.

"Iyan, bangun." Abhi terus membangunkan Iyan, ia gelisah.

Dor
Dor
Dor

Suara tembakan semakin mendekat, Abhi kembali membangunkan Iyan sambil menutup kedua telinganya.

Brak
Brak
Brak

Suara itu berasal dari luar, entah siapa yang mendobrak pintu. Dengan cepat Abhi mengambil kursi untuk menghadang pintu, ia menariknya dengan pelan. Agar suara dari tarikan kursi tidak terdengar sampai luar.

Brak
Brak
Brak

Suara dobrakan itu kembali terdengar, untung saja kursi yang Abhi tarik sudah siap untuk menghadang pintu. Jantung Abhi berdetak kencang saat mendekati pintu, ia sangat takut. Mana Iyan tidak mau bangun lagi.

"Duh jantung, jangan berdetak kencang kayak gini dong, nantinya Abhi nambah takut."

"Enghh," gumam Iyan. Ia mulai membuka matanya, dan melihat Abhi yang sedang membenarkan posisi kursi.

"Abhi kok nyimpen kursi di depan pintu?" tanya Iyan.

"Shuttt, jangan berisik." Iyan hanya mengangguk, walau ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

"Emangnya apa ada apa sih Bhi?" tanya Iyan dengan bisikan.

"Ada polisi, tapi entah kenapa larinya menuju tempat kita ini."

Iyan segera memeluk Abhi, ia juga takut ketika melihat polisi. "Mungkin polisi sedang patroli," ucap Abhi sambil mengusap-usap rambut Iyan.

Abhi hanya memiliki Iyan, dan begitu sebaliknya. Iyan hanya memiliki Abhi.

"Apapun yang terjadi, Iyan harus tetep hidup yah," desis Abhi, tapi masih bisa di dengar oleh Iyan.

"Abhi juga sama, harus nemenin Iyan sampe sukses. Kita akan berjuang bersama-sama, walau kata sukses hanya satu persen dari yang kita harapkan."

"Semoga saja Yan, karena umur kita gak ada yang tahu." Abhi mengucapkannya dengan suara yang parau dan mata yang mulai meneteskan air.

"Selamat malam Abhi dan bumi," gumam Iyan sambil menutup matanya, Abhi juga sama.

Mereka tidur dengan berpelukan satu sama lain, dengan berselimutan sarung satu. Seakan saling menguatkan, Iyan dan Abhi mengeratkan pelukannya.

🍍🍍🍍

"Bi! Bibi!" Pagi-pagi, Ara sudah mendengar siara teriakan dari kakaknya. Entah apalagi yang akan di masalahkan pagi ini.

Ara terpaksa bangun saat kakaknya kembali meneriaki kepala pelayan itu, padahal ia masih mengantuk. Apalagi semalam ia tidur saat jam satu pagi, akibat papi yang terus mengawasinya  belajar untuk ulangan harian yang akan di laksanakan pagi ini.

"Pada berisik banget sih," gerutu Ara.

Ara turun ke bawah, Ara mengusap perutnya menandakan bahwa ia lapar.

Prang

"Bibi ini gimana sih! Masa bikin pasta aja gak bisa!" Hardik Rama setelah memecahkan piringnya.

"Maaf Tuan Muda,"

"Kakak kenapa sih?!"

"Diem bocahh!" sentak Rama.

"Kakak marah cuma gara-gara pasta doang?!"

"Maafin bibi tuan muda," ucap bibi sambil bersujud di kaki Rama.

"Bibi bangun," suruh Ara dengan tegas.

Bi Siti akhirnya bangun, tapi ia masih menunduk karena takut akan tatapan Rama yang mengerikan.

Rama berlalu begitu saja, meninggal Ara yang sedikit kesal karena kelakuan kakaknya itu.

"Bibi, boleh bikinin aku nasi goreng gak?"  tanya Ara ketika melihat Rama sudah keluar dari rumah.

"Mau porsi lengkap?"

"Pake sosis aja, jangan pake sayuran. Soalnya takut gak abis, hehehe."

"Baik non," ucap bi Siti. Kemudian pergi ke dapur untuk memenuhi permintaan Ara.

"Perasaan, kalau ada kak Rama pasti ada aja pertengkaran," keluh Ara.

Ara menenggelamkan kepalanya di meja, ia masih mengantuk. Tapi, ia juga kasihan pada cacing-cacingnya.

"Nasi goreng sudah siap non," ucap bibi sambil menata nasi gorengnya ke dalam piring.

"Non," panggil bi Siti, tapi tidak ada sahutan dari Ara.

Bi Siti melihat Ara yang sedang menenggelamkan kepalanya di meja, mungkin saja nona kecilnya ini ketiduran.

"Non bangun, nasi gorengnya sudah siap."

"Ah iya bi, makasih yah," sahut Ara dengan keadaan masih menutup matanya.

"Kalau gitu bibi ke belakang dulu yah," pamitnya.

"Iya bi. Oh ya, bibi udah makan?" tanya Ara yang menghentikan langkah bi Siti.

"Udah kok non, emangnya ada apa non?"

"Boleh temenin aku dulu gak? Soalnya agak takut makan sendiri, hehehe."

"Baik non."



Spam bikini beton nangka🍍🍍🍍

Because He's BentalaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang