CHAPTER TWELVE

122 57 198
                                        

Selamat datang dan selamat menikmati.
Jangan lupa emot nangkanya.

🍍🍍🍍

Sesuai janji tadi siang, Iyan berjalan bersama Abhi menuju danau. Tadinya, Abhi tidak ingin ikut, katanya sih lebih baik tidur daripada bermain tidak jelas begini. Tentu  Iyan tidak menyerah begitu saja, ia terus merengek dan mengancam dengan berbagai cara agar Abhi bisa ikut.

"Emang mau ngapain sih Yan?!" tanya Abhi dengan menggeplak bahu Iyan.

"Mana Iyan tahu?!" sahut Iyan dengan enteng, ia tidak berbohong. Mungkin saja Ara akan memberi sesuatu yang mewah.

"Abhi diem aja, nanti juga tahu." Abhi mendahului Iyan, ia sedikit kesal karena jam tidurnya terganggu.

"Maaf telat Ra," ucap Iyan sambil duduk di dekat Ara disusul oleh Abhi.

"Iya Yan, Ara juga baru datang."

"Mau ngapain Ra?" tanya Abhi dengan nada yang masih terdengar kesal.

"Main aja, Abisnya Ara bosen di rumah. Ifa sama Bian gak ada." Abhi mengangguk-anggukkan  kepalanya, ia sedikit bingung harus bilang apa lagi. Melihat Iyan merebahkan diri, Abhi pun melakukan hal sama. Dirinya sudah begitu menahan rasa kantuk akibat ia ikut dengan Iyan. Tak lama, matanya terpejam bersama pikirannya yang mulai memasuki alam mimpi.

Iyan mendengus melihat Abhi yang malah tidur nyenyak, sangat menjengkelkan.

"Iyan," panggil Ara tanpa menoleh ke arah Iyan.

"Ada apa Ara?"

"Ke rumah Ara yuk." Abhi dan Iyan spontan melihat ke arah Ara.

"Mau ngapain Ra?" tanya Abhi.

"Main aja. Abisnya Ara di rumah sendirian mulu," lirih Ara sambil menatap kedua orang itu dengan penuh harap. Abhi mendengar itu, matanya yang terpejam tiba-tiba terbuka dengan perlahan. Padahal dirinya, baru saja hendak nyenyak. Eh malah mendengar obrolan yang sedikit mengganggunya.

Iyan dan Abhi saling pandang, pikiran mereka seakan sudah terikat, kemudian mengangguk sebagai jawabannya. Ara yang melihat itu pun merasa senang. Tanpa pikir panjang, menarik tangan Abhi dan Iyan.

"Eh?" Iyan terkejut saat dirinya jatuh akibat tarikan Ara, ia yang belum siap hampir saja wajahnya mencium rumput yang ada kotoran ayam.

Abhi terkekeh melihat Iyan jatuh, bukan jahat. Tapi, ketika Iyan sedikit lagi mencium kotoran ayam itu. Untung saja, tangan Abhi dengan cekatan menarik kerah baju Iyan.

"Se-sak Bhi." Abhi pun melepaskan cekalannya setelah menarik Iyan agar duduk.

"Hehehe, sorry Yan, Abhi refleks."

Ara memukul keningnya sambil menggelengkan kepala, ia heran dengan tinggah keduanya. "Ayo, jemputan aku sudah datang."

Iyan dan Abhi mengekori Ara, mereka berdua tidak sabar untuk melihat rumah Ara. Sepertinya sangatlah bagus.

Setelah tiba di rumah Ara, Abhi dan Iyan tercengang melihat rumahnya, rasa sudah lama mereka tidak menginjakkan kakinya ke dalam rumah. Perasaan aneh mulai muncul dihati keduanya, antara takut dan sedih.

"Mainnya di taman belakang aja yah, biasanya aku main disana." Mereka berdua mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Ara.

Lagi dan lagi, mereka terkejut dengan interior taman belakang. Sangat indah dan menyejukkan mata.  Banyak tanaman hijau yang di rawat dengan baik, terdapat pula sofa dan sebuah ruangan kecil yang di cat dengan warna abu-abu pekat dan warna putih. Di sebelahnya, terdapat tempat duduk gantung berwarna putih disertai bantal berwarna abu-abu lagi. Iyan sangat suka dengan perpaduan warna yang menurutnya sangat pas, di tambah dengan bunga dandelion yang seolah menyambut kedatangan mereka.

Because He's BentalaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang