Semenjak dokter yang menangani Iyan keluar dan mengatakan Iyan harus di operasi karena ada retakan di dalam tulang belakang, Abhi sekarang sedang mencari pinjaman. Tidak hanya Abhi, Ara dan Ifa juga sedang berusaha membantu Abhi.
Suara perut Abhi terus berbunyi, laki-laki itu tidak memikirkan rasa lapar. Toh, sekarang ia membutuhkan uang untuk biaya penanganan operasi Iyan. Walaupun tadi Abhi sudah memohon untuk melangsungkan operasi, namun dokter menolak karena Abhi belum membayar administrasi.
Dengan langkah yang tidak semangat, Abhi memasuki ruangan UGD yang kini terdapat seorang laki-laki. Di tubuhnya terdapat beberapa alat medis.
"Yan, bertahan yah. Gue pasti nemuin cara buat tuh dokter ngejalanin operasi lo. Tenang aja, lo pasti keluar dari ruangan yang bau obat ini. Lo pasti kuat, Yan. Gue tahu itu," gumam Abhi.
Rasanya, sudah lama ia tidak merangkul tubuh kurus itu. Rasanya, sudah lama ia tidak melihat senyum jahil dari Iyan. Meskipun baru semalam. Ya, Abhi merindukan tawa dan suara jahil Iyan.
Sudah hampir delapan tahun mereka bersama. Melewati rintangan yang begitu sulit. Tumbuh besar di lingkungan yang kurang baik. Mencari makan sangatlah susah, menghadapi polisi, di pinta uang oleh preman, dijauhi oleh warga setempat, dan banyak lagi yang mereka lewati bersama.
Tanpa sadar, air mata Abhi mengalir deras kala mengingat kejadian-kejadian yang tak pernah ada di dalam otaknya. Seperti ini. Abhi tidak tahu harus ke mana mencari pinjaman.
Sore ini, begitu sunyi. Tidak ada celotehan dari Iyan. Tidak ada senda gurau. Tidak ada yang mengganggu ketenangannya. "Yan," panggil Abhi dengan suara lemah.
Abhi mengalihkan pandangannya ke suara pintu yang dibuka oleh Ara. "Dapet, Ra?" tanya Abhi penuh harap.
Ara memberi gelengan kepala, ia tidak mendapatkan uang dari mamanya. "Maaf, gue gak bisa bantu lo. Gue cuma punya uang segini." Ara memberikan uang sebesar lima juta rupiah, ini hasil tabungannya selama beberapa tahun.
"Makasih sebelumnya. Gue tahu, pasti uang itu buat beli sesuatu yang belum lo capai. Sorry, gue tolak uangnya."
Abhi sebenarnya tak enak hati pada Ara, apalagi selama ini Ara banyak membantu. Ara, perempuan terbaik menurut versi Abhi. Bahkan hatinya pernah jatuh cinta pada sosok gadis di depannya ini.
"Gak apa-apa, Bhi. Lagian gue gak bisa ngebantu banyak."
Abhi tetap menolak. "Ra, urusan biaya operasi dan pengobatan Iyan, biar gue yang urus. Gue keluar dulu."
Abhi melangkahkan kakinya keluar ruangan. Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding dekat pintu. Sungguh, pikirannya sangat lelah kali ini. Tidak berguna. Kalimat itulah yang singgah di otaknya.
"Gini amat jadi orang miskin," keluhnya.
Kali ini. Abhi ingin ada yang mendengar keluhannya. Ia ingin berkeluh kesah dengan seseorang. Namun, orang itu malah terbaring kaku tak berdaya. Tidak ada lagi yang menjadi pendengar setia.
🍍🍍🍍
Ara menatap Iyan dengan pandangan sulit diartikan. Gadis dengan rambut di kucir satu itu menyimpan tangan Iyan di pipinya. Senyuman sendu terpatri di wajah mulus Ara.
"Lo udah janji 'kan, Yan. Kalo lo akan ikut liat penampilan lomba gue. Ayo dong bangun. Masa lo gak rindu sama omelannya gue dan Abhi."
"Iyan, katanya lo mau liat gue di barisan paling depan. Kenapa lo masih tidur di sini. Lo tahu gak, Yan? Di sini gak enak tahu. Mana bau obatnya nyengat banget. Lo kan gak suka kalo bau obatnya kek gini."
"Yan, gue rindu."
Ya. Gadis itu mengakui, hatinya sudah diambil alih oleh laki-laki yang sedang tertidur dengan nyenyak ini. Selama ini, ia tidak menyadari perasaan aneh ini.
Tanpa perintah dari sang empunya, air mata jatuh dengan lancang. Hatinya berdesir nyeri. Ara menangis di tangan Iyan.
"Masa Bentala lemah. Bentala itu, walau diinjak-injak ia tidak pernah menyerah. Ia terus memberi manusia asupan makanan dan oksigen. Dia sangat spesial."
Lelah karena terus menangis, Ara tertidur dengan bantalan tangan Iyan. Abhi melihat itu tersenyum miris dibalik pintu. Sedekat apapun dirinya dengan Ara, ia tidak akan pernah bisa mendapatkannya.
Memang, ia adalah laki-laki pecundang yang tidak berani mengakui perasaannya pada gadis di samping Iyan.
Selama ini, Abhi hanya jadi pengamat bagi keduanya. Ia diam ketika Ara dan Iyan bersenda gurau meski di hatinya terdapat perasaan sakit, cemburu akan kedekatan mereka.
Abhi. Lelaki munafik yang tidak berani akan berbuat sesuatu hal yang besar. Acap kali, Abhi memikirkan tentang dirinya yang tidak seberani seperti Iyan.
"Gak."
Kata itu yang timbul kala Abhi ingin mengakui perasaannya pada Ara. Abhi menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran yang kurang bermutu. Sekarang bukan waktunya. Yang harus dikerjakan adalah mencari uang.
Ya. Mencari uang sebanyak mungkin.
"Andai ... takdir gue jadi anak orang kaya, pasti gue kagak pusing mikirin bagaimana esok hari, bagaimana perut bisa terisi, bagaimana operasi Iyan berjalan dengan baik, dan tidak mikirin tidur di mana."
KAMU SEDANG MEMBACA
Because He's Bentala
Novela Juvenil"Ini makanan buat kamu, tapi kamu jangan bilang ke orang itu yah." "Nama kamu siapa?" "Ara, kalo gitu aku pergi dulu." "Tante, saya itu bukan orang miskin." "Mana buktinya?" "Buktinya atap rumah saya seharga lebih dari 1 triliun." "Kamu maling yah?"...
