Ara terdiam karena mendengar ucapan Iyan. Gadis yang rambutnya di kepang satu itu tidak ada niat melerai perdebatan di depannya itu. Dia bahkan tidak bergerak sedikit pun dari tempat duduknya.
Suara pukulan serta pekikan terus bergema di area itu. Orang-orang berdiri dengan memegang handphone-nya. Ara menatap sekeliling. Benar-benar tidak ada yang mau menghentikannya, batinnya.
Sejenak ia mendengus, mau tak mau ia harus menghentikan perkelahian ini.
"Iyan, sudah!" teriak Ara.
Hanya saja, teriakan itu tak dihiraukan oleh kedua pemuda tersebut. Dengan cepat, tubuh mungil itu menerobos kerumunan manusia yang kurang berguna.
Ara menarik kasar baju bagian belakang Iyan. "Lo mau bikin dia mati, hah?" bentak Ara.
"Dia pantas mati," desisnya.
Plak!
Iyan memegang sebelah pipi bagian kanan, tamparan perempuan di depannya ini sangatlah keras hingga sudut bibirnya sobek.
Iyan mengusap sudut bibirnya itu menggunakan dua jari sembari menatap Ara datar. Jantungnya berdetak cepat dan hatinya berdenyit sakit.
"Itu anak orang terpandang, Ryan!"
"Lah, siapa yang bilang dia anak dedemit sebelah?"
"Gila lo. Ayo Bian, gue antar lo ke rumah sakit."
Ara mengalungkan sebelah tangan Bian ke pundaknya. "Lo jangan bertindak gegabah lagi," ucapnya tanpa berbalik badan.
Iyan terdiam, bola mata cokelat gelap itu menatap punggung Ara. Bertepatan menghilangnya Ara, tubuh Iyan jatuh ke tanah. Ia memegang tangannya yang tergores pisau lipat Bian, cukup dalam hingga darah tidak mau berhenti mengalir dan merembes keluar dari baju merahnya.
"Kalo gue di posisi Bian, gue bakal di rawat gak yah?" lirihnya.
Di balik pohon, Abhi keluar dari persembunyian. Bukannya takut, hanya saja ia tidak ingin ikut terbawa emosi seperti Iyan tadi.
"Kita obati luka lo."
"Luka kecil doang, Bhi. Biarin aja, nanti juga sembuh kok."
Abhi menggeleng keras. "Coba, sekali aja nurut buat di obatin. Lukanya cukup dalam, Yan. Lo mau tuh tangan kagak berfungsi lagi?"
"Ya, kagaklah!" seru Iyan.
"Makanya jangan keras kek batu."
Abhi menekan luka Iyan. Sudah dua jam, tetapi Iyan tidak mau membuka lipatan tangan yang terluka. Padahal Abhi sudah susah susah meminta obat merah pada tetangga sebelah.
Dengan geram, Abhi menarik paksa tangan kiri Iyan. "Iyan."
Inilah yang Iyan takutkan ketika mendengar suara rendah seorang Abhipraya. Matanya juga ikut menatap tajam Iyan.
"Kalo lo gak mau tuh tangan di obatin, besok kita ke rumah sakit."
"Gila lo, Bhi."
"Lo yang gila. Tinggal buka lengan baju lo, terus di obatin. Udah, selesai. Apa susahnya?!" Saking kesalnya, Abhi meninggikan suara.
"Bhi---"
"Obatin sama lo sendiri, gue gak mau ngurus orang yang keras kepala!" Abhi melangkah pergi, meninggalkan Iyan dengan segala pikiran yang berkecamuk.
"Gue alergi sama obat merah, bangsat!" teriak Iyan.
Belum sempat menutup pintu, Abhi kembali berbalik. "Lo kenapa gak bilang dari tadi, astaga."
"Gue takut lo nertawain gue."
Abhi mengusap wajahnya dengan kasar. "Terus gue harus ngobatin luka itu pake apa kalo lo alergi?"
"Ya mana gue tahu, gue 'kan manusia."
Abhi ingin sekali melempar Iyan pada bunga bangkai. Sepertinya akan menyenangkan jika itu terjadi. "Gue coba cari daun obat-obatan yang bisa nyembuhin tuh luka."
Mendengar hal itu, kali ini jawaban Iyan tidak menggelengkan kepala lagi. Melainkan menganggukkan kepala.
🍍🍍🍍
"Bian, lo keterlaluan banget sih!" bentak Ara saat mereka sudah berada di dalam rumah Bian. Tadi, mereka hendak ke rumah sakit. Hanya saja, Bian menolak keras dengan alasan ia takut akan suntik.
"Apaan sih, Ra. Mendingan kamu obatin luka aku aja."
"Bian, sikap lama dari dulu gak pernah berubah. Bahkan sekarang semakin semena-mena sama orang yang ada di bawah lo!"
Bian berdiri, lalu menyimpan tangannya di pundak Ara dan menuntunnya untuk duduk di kasur.
"Ara, dengerin aku---"
Belum selesai Bian menyesaikan kalimatnya, Ara malah menyela, "Dengerin gimana? Tadi udah jelas banget masalahnya! Lo dengan seenaknya nyuruh temen lo itu buat mecat Abhi dan Iyan yang jelas-jelas mereka gak punya salah apa-apa!"
"Gue gini karena lo, Ara!" hardiknya. Tanpa sadar, ia sudah tidak menggunakan aku-kamu lagi
Bian menghela napas sejenak. "Kenapa gak ada sedikit pun hati lo buat gue? Apa ada di otak lo selain mereka berdua? Apa istimewanya, sih? Gue bahkan lebih kaya dari mereka, Ara! Kenapa?!"
Ara menatap Bian dengan pandangan sulit diartikan. "Lo tahu, gue gak mau sama orang yang sifatnya suka banget ngerendahin orang lain. Kita itu sama, Bian!"
"Apanya yang sama, hah?! Gue gak sama sama mereka! Gue lebih kuat dari mereka! Gue gak lemah, Ara! Sifat gue juga gak kayak gitu!"
"Lo terlalu pengecut! Jelas-jelas, lo berbeda dengan Ryan. Secepat mungkin, gue bakal batalin pertunangan kita."
Tak ingin beradu mulut panjang dengan Bian, gadis itu pun melangkah keluar dari kamar tersebut. Untung saja, saat mereka bertengkar tidak ada yang mendengarnya, karena orang tua dan pembantu di rumah ini kebetulan sedang pergi keluar. Kecuali satpam.
Memang, pembantu di rumah Bian hanya ada empat. Katanya sih, mereka tidak ingin ada banyak orang karena itu sangat merepotkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Because He's Bentala
Teen Fiction"Ini makanan buat kamu, tapi kamu jangan bilang ke orang itu yah." "Nama kamu siapa?" "Ara, kalo gitu aku pergi dulu." "Tante, saya itu bukan orang miskin." "Mana buktinya?" "Buktinya atap rumah saya seharga lebih dari 1 triliun." "Kamu maling yah?"...
