CHAPTER ONE

671 231 1K
                                        

Buat kalian yang baca
♡♡♡♡♡♡
H
A
P
P
Y

R
E
A
D
I
N
G

💌💌

Siang ini, matahari begitu panas membuat dua orang bocah yang sedang duduk didekat ruko tak berpenghuni itu mengeluh.

"Abhi."

"Hmm."

"Iyan lapar, tapi kita gak punya uang."

Orang yang di panggil "Abhi" pun langsung memeluk Iyan. Ia juga sama lapar, sangat malah.

"Nanti Abhi cari uang dulu yah, Iyan tunggu di sini dulu, jangan kemana-mana."

"Siap Abhi!"

Sebenarnya Iyan takut di tinggal sendirian di tempat yang sama sekali ia tidak ketahui.

"Duh, perut jangan bandel dong! Kan nanti Abhi bawa makanan," ucap Iyan sambil memukul mukul perutnya yang terus berbunyi.

"Kamu lapar yah?" tanya seorang anak perempuan.

"Iya, Iyan lapar."

"Ini ada sedikit makanan buat kamu,  tapi jangan bilang ke orang itu yah," pesan anak perempuan itu sambil menunjuk ke arah wanita.

"Makasih yah, kamu cantik, baik lagi," puji Iyan dengan senyum tengilnya.

"Apaan sih!" Anak perempuan itu menundukkan kepalanya dengan wajah yang memerah.

"Aku makan yah."

"Iya, kalo gitu aku pergi dulu yah. Dah," pamit anak perempuan tadi

"Nama kamu siapa?!" tanya Iyan dengan suara yang lantang.

"Ara! Namaku Ara!" Dengan wajah yang masih bersemu merah, Ara berusaha menjawab pertanyaan Iyan dengan lantang.

"Ara. Hmm, nama yang indah," gumam Iyan sambil menunduk. "Nam-eh, dia udah pergi?"

Iyan kikuk, dirinya ditinggal sendiri. Sebenarnya, saat Iyan menunduk, Ara berbalik lalu pergi tanpa pamit.

"Iyan, ini ada roti sama air putih." Iyan menengok dan mendapatkan Abhi yang sedang membuka botol aqua.

"Abhi, Iyan dapat makanan dari orang." Iyan menunjukkan kotak bekal yang sudah ia buka.

"Lucu nasinya yah Bhi," ucap Iyan dengan riang.

"Kamu dapat dari mana makanan ini Iyan?" tanya Abhi sambil memincingkan matanya.

Pasalnya, ia tahu kotak makan ini pasti punya orang kaya, ia takut Iyan mencuri karena tidak bisa menahan laparnya.

"Tadi, Iyan ada yang ngasih makanan."

"Beneran nih?" tanya Abhi kembali.

"Bener Abhi! Iyan di kasih sama cewek cantik." Iyan membayangkan wajah Ara saat tersenyum.

Abhi memutar bola matanya jengah. "Mata kamu, kalo sama yang cantik aja langsung nangkep."

"Ya gimana yah Bhi, ini tuh bidadari kecil."

"Terus?"

"Aku jadi suka sama Ara."

"Ohhhh, jadi namanya Ara."

"Iya Ara, cantikkan namanya."

"B aja."

"Yah, Abhi mah kagak bisa di-"

"Lari! Lari! Lari, Dek!" teriak seorang penjual kaki lima.

"Ada apa, Bhi?" tanya Iyan sambil berlari.

"Kita lari aja dulu, jangan di lepas peganga-."

"Berhenti!" Ucapan Abhi potong oleh petugas keamanan. Mau tak mau Iyan menuruti permintaan Abhi, mereka terus berlari.

"Abhi! Iyan capek!" teriak Iyan sambil berjongkok.

"Iyan! Kalo kamu berhenti, kita bisa di tangkap oleh petugas keamanan."

"Tapi A-"

"Iyan cepet, mereka makin deket."

Iyan memaksakan kakinya untuk berlari kembali, ia benar benar lelah. Sebenarnya Abhi juga ingin istirahat, tapi di belakang sana ada petugas keamanan yang mengejar mereka.

Beberapa menit kemudian, lagi-lagi Iyan memanggil Abhi.

"Ada apa lagi Iyan?!" tanya Abhi dengan geram.

"Iyan punya ide, gimana kalo ...."

🍍🍍🍍

"Ke mana mereka?" tanya satpol pada rekannya.

"Tadi kayaknya ke arah sini deh."

Duk

Kedua satpol itu pingsan karena pukulan tepat di area lehernya.

"Tuhkan Bhi, rencana Iyan gak pernah gagal," ucap Iyan sambil menepuk nepuk dadanya.

"Terbaik."

Mereka kembali berlari sebelum kedua satpol itu bangun. "Abhi," panggil Iyan.

"Iya Iyan, ada apa lagi?"

"Kayaknya kita harus lari ke arah samping aja deh." Iyan segera menarik Abhi.

"Emang kenapa sih?"

"Di depan tadi banyak satpol."

"Yan."

"Apa, Bhi?"

"Kita harus pindah lokasi lagi, deh,"usul Abhi.

"Ke mana?"

"Kita jalan aja dulu."

"Tapi kita udah beberapa kali pindah tempat."

"Iyan, kamu mau tetep hidup gak?"

Iyan mengangguk, ia juga ingin merasakan masa masa remaja seperti yang lainnya.

"Nurut yah sama Abhi." Iyan kembali mengangguk.

Iyan dan Abhi sama sama di buang oleh orang tua mereka, tapi Abhi lebih lama tinggal di jalanan di banding dengan Iyan.

"Sini tangan kamu," pinta Abhi sambil menyodorkan tangan kanannya.

"Mari kita jadi si bolang!" Seru Iyan.

"Kita adalah ..." jeda Abhi

"Si bocah lunglang!" teriak mereka berdua kompak.

Selama perjalanan, Abhi dan Iyan tertawa, menertawakan hal yang menurut mereka lucu.

"Iyan, gimana kalo kita ke taman itu?"
tanya Abhi.

"Ayo," ucap Iyan dengan riang.

Abhi hanya tersenyum tipis, ia senang mendapatkan teman seperti Iyan, walau Iyan sering membuatnya repot.

"BHI!"

"EH? Iyan! Jangan lari ke sana!" larang Abhi.

Tapi Abhi terlambat, Iyan sudah menghilang dari pandangannya. Dengan kecepatan lari yang ia punya, Abhi mencari Iyan ke semua penjuru taman.

"IYANN!"

Abhi berhenti tepat di samping danau dan mengedarkan pandangannya, kemudian kembali meneriaki nama. "IYANN!"

Abhi menajamkan matanya untuk memperjelas penglihatannya ke arah air.

"It-Kak tolong!"

"Ada apa, dek?"

"Itu ...."

Hola! Hola!
Apa kabar epbadeh?
Nih gue bawain cerita baru🍍🍍🍍
Salam dari bikini beton nangka🍍🍍🍍
Gimana gimana?
Oh gitu, hmm jadi kek gitu ceritanye?
Apa apa? Gue kagak denger!
Oke skip lah🍍🍍🍍

Because He's BentalaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang