Mempunyai rumah adalah impian kami, para anak jalanan.
~Abhipraya~
Dunia anak jalanan itu lebih kejam. Jika kau tidak pandai dalam mencari uang, kau akan mati karena lapar yang menguasai dirimu.
~Bentala Ryan~
🍍🍍🍍
Iyan dan Abhi terus menatap bingung kepada seorang pria tua yang berada di depan rumah mereka. Iyan sampai menguap karena sejak tadi hanya ada keheningan. "Bapak siapa?" tanya Iyan, mulutnya sudah gatal ingin menanyakan hal tersebut.
"Hamba Allah," ujar Pria tua itu.
"Iya tahu. Tapi, untuk apa Bapak datang kemari? Jika tidak ada keperluan, Bapak lebih baik pergi." Setelah berkata tersebut, Abhi menarik Iyan untuk masuk ke dalam rumah.
"Bapak di sini ada yang ingin dibicarakan," tukasnya.
Abhi langsung berhenti dan membalikkan badan untuk menatap Pria itu, ia mengernyitkan dahinya. "Apa?"
"Mari, kita bicarakan hal ini sambil duduk," saran Pria tersebut.
Abhi dan Iyan saling pandang, kemudian duduk menuruti perintahnya. Sepenting itukah hal yang akan dibicarakan? Sampai mereka harus duduk. Abhi menatap karung yang ada di belakang Pria itu, ia takut ada senjata tajam di sana. Jantungnya sudah berdetak kencang, takut-takut ada hal yang tidak terduga.
Tangan Abhi sampai berkeringat, ia meremas baju lusuhnya. Hati ia berdebar tidak karuan, bahkan ia terus menahan Iyan agar tetap di belakang tubuhnya.
"Bapak ingin ...."
"Ingin? Ingin apa?" tanya Iyan ketika Bapak itu tidak meneruskan kalimatnya.
"Kalian jadi anak Bapak," ucap Bapak itu dengan cepat.
Refleks Abhi mundur beberapa langkah, ia masih tetap tidak percaya kalau orang yang ada di hadapan ia. Abhi melihat ke arah Iyan yang sedang menatap Abhi dengan pandangan yang malas.
"Bapak tahu, kalian mungkin gak mau jadi anak angkat Bapak," lirihnya.
Abhi kembali menghadap ke depan saat mendengar lirihan itu. Bukan tidak mau, ia takut seperti teman-temannya yang di adopsi oleh orang seperti ini, dan kabarnya mereka telah di jual. Abhi takut kejadian itu menimpa ia dan Iyan.
"Bukan begitu Pak, saya hanya takut."
"Bapak hanya ingin kalian hidup dengan baik, tidak luntang-lantung seperti ini." Bapak itu menundukkan kepala.
Iyan yang sedari tadi ada di belakang Abhi pun maju ke depan. "Bapak jangan nunduk, itu gak baik kata Nenek."
"Nama Bapak siapa?" tanya Abhi.
"Panggil saja Bapak Adit."
Abhi mengangguk, ia tidak tahu siapa Bapak Adit ini. Lagian, kenapa juga tiba-tiba mau mengadopsi ia dan Iyan? Apakah karena kejadian tadi siang?
"Kalian kalau mau jadi anak Bapak, kalian bisa tinggal di rumah singgah Balarenik.Kalian juga enggak akan kelaparan seperti hari ini." Ternyata, benar dugaan Abhi. Bapak Adit ini sedang mengasihi ia dan Iyan.
"Bapak hanya seorang pemulung sampah, dan kalian gak mungkin mau di adopsi oleh Bapak," ucap Pak Adit.
Abhi bingung mau menjawab apa. Jika ia di adopsi, ia takut tidak bisa mendapatkan kebebasan sepenuhnya. Lalu, jika ia menolak, ia dan Iyan bisa saja mati karena kelaparan. Seperti hari ini.
"Kita mau kok Pak." Abhi langsung menatap Iyan tajam saat mendengar Iyan begitu saja menerima hal ini. Padahal ia belum memikirkannya dengan sempurna, tapi Iyan malah menjawab pertanyaan ini dengan enteng.
"Alhamdulillah kalau kalian mau. Kalau begitu, kita pergi sekarang. Malam sebentar lagi akan tiba, ayo," ajak Pak Adit.
Abhi masuk ke dalam rumah untuk mengambil beberapa barang ia dan Iyan. Hanya sarung dan gelang yang ia punya. Menghela napas, Abhi keluar dari rumah kardusnya. Rumah yang terbilang sangat sederhana, tapi ... kenangan di dalamnya begitu berharga.
"Sudah selesai? Ayo." Iyan dan Abhi mengikuti langkah besar Pak Adit. Abhi masih kesal pada Iyan karena memyetujui begitu saja. Ya walaupun itu demi kebaikan atau bahkan keburukan.
"Kenapa gak ngomong dulu?" tanya Abhi tanpa menoleh ke Iyan.
"Abhi pasti gak akan mau. Lagian nih ya Bhi, kata mereka di sana enak," bisik Iyan.
"Enak apanya?!" Volume suara Abhi seketika naik saat Iyan mengatakan hal tersebut, ia tidak mengerti dengan pemikiran Iyan. Pak Adit mendengar hal tersebut langsung menghentikan langkahnya, mengakibatkan kepala mereka berdua menabrak punggung Pak adit.
"Kalian akan tahu kok nanti di sana," ujar Pak Adit dengan kedua sudut bibir yang di tarik, serta sambil mengusap kening Iyan dan Abhi.
Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit untuk sampai di rumah singgah Balarenik. Iyan menatap kagum dengan rumah itu. Ia tidak menyangka kalau ia bisa tinggal di 'rumah' seperti ini. Hati berdebar-debar, dan muka menampilkan mimik yang berseri-seri. Ia teramat bahagia.
Banyak anak-anak yang sedang berlarian, para wanita yang sedang bergosip dan ada juga yang sedang mengangkat jemuran. Serta, kumpulan para pria dengan di temani kopi.
Abhi berharap, bahwa ini adalah awal kehidupan yang baik. Jangan sampai, kejadian tadi siang dan di masa lalu terulang lagi. Ia tidak ingin memberikan kesempatan untuk hal yang buruk di kehidupan kali ini. Ya ... mungkin saja, itu adalah hal mustahil.
"Di sini kamar kita," jelas Pak Adit ketika mereka sampai di sebuah pintu berwarna biru.
"Mari masuk, di dalam saja Bapak jelaskannya," ajaknya.
Abhi dan Iyan memasuki ruangan tersebut, hal pertama yang singgah di pikiran mereka adalah kamar ini begitu luas. Terdapat dua kasur serta lemari plastik berwarna hijau dengan gambar kumbang terbang. Cat dinding berwarna cokelat susu berpaduan merah maroon. "Di kamar ini, bapak yang mendekornya."
Iyan mengangguk-anggukan kepalanya. "Bapak tadi mau ngejelasin apa?" tanya Iyan sambil duduk di sebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu.
"Kalian bisa belajar membaca di sini. Kalian ingin bisa membaca bukan?" Mendapat pertanyaan itu, seketika Iyan dan Abhi mengangguk antusias. Sudah lama, Abhi tidak belajar membaca dan menulis.
"Besok pagi, guru kita akan datang pada jam delapan. Jadi, kalian harus tidur lebih awal setelah makan malam di antarkan."
Tidak berselang lama dari ucapan Pak Adit, makanan pun datang. Dengan cepat, Iyan dan Abhi menyantap nasi uduk dan tempe kecap. Mereka sudah tidak kuasa menahan lapar, tadi siang pun ia tidak mendapat bagian dari jualan koran. Pak Adit yang melihat itu pun tersenyum, matanya berkaca-kaca.
Semoga kalian hidup dengan baik, dan tidak pernah menyerah dengan rintangan yang ada dihadapan kalian nanti.
🍍🍍🍍
Emotnya nangkanya kakak yang cantik yang ganteng.
🍍🍍🍍
KAMU SEDANG MEMBACA
Because He's Bentala
Teen Fiction"Ini makanan buat kamu, tapi kamu jangan bilang ke orang itu yah." "Nama kamu siapa?" "Ara, kalo gitu aku pergi dulu." "Tante, saya itu bukan orang miskin." "Mana buktinya?" "Buktinya atap rumah saya seharga lebih dari 1 triliun." "Kamu maling yah?"...
