Kenapa?
Kenapa memaksa tawa jika tercecik air mata?
Kenapa kesakitanmu itu, tidak kau akui saja?
Kenapa terus menalan luka yang meracun?
Kenapa kau tidak berhenti?
Untuk siapa lukamu itu?
Apakah lukamu baginya berarti?
Apakah dia bahkan peduli?
Kenapa terus memaksa diri?
Tidak seorang manusia pun yang ada di sini dapat memahamimu;
Lukamu;
Sakitmu;
Tangismu;
Hanya dirimu yang mengerti.
Kenapa?
Kenapa begitu jahat pada dirimu sendiri?
Hanya kau yang tahu seperti apa rasanya tikaman di dadamu;
Beban pada pundakmu;
Panas dan basah pada matamu;
Sesak napasmu;
Isak tangismu;
Jerit bisumu;
Kenapa masih kau paksa dirimu?
Mengapa kau tega terus menyiksanya?
Kenapa tak kau bolehkan dirimu bahagia?
Jika kau tidak memilih kebahagiaan itu untuk dirimu,
siapa yang peduli?
Jika kau tidak melakukannya sendiri,
siapa yang peduli?
Semua sibuk dengan sakit dan luka yang mereka miliki.
Ingin membahagiakan orang lain kau bilang?
Bagaimana?
Dirimu sendiri saja tak bahagia.
Jika kau tak bahagia;
Soal membahagiakan orang lain itu.
Ah, lupakan saja.
Kudengar kabar angin dari utara,
Tuhan lebih suka hamba yang taat dengan bahagia.
Entah, kau lebih suka bahagia atau berkutat dengan luka?
Aku hanya ingin bilang.
Tidak ada yang mengerti tentang sakitmu selain kau yang merasakannya.
Dan tidak ada yang akan membahagiakanmu jika bukan kau yang memilihnya.
Atau kita bisa memulai:
"Hi, apa kabar? Masih sedih? Terlalu sakit?
Kau bisa cerita hari ini, atau dilain hari."
KAMU SEDANG MEMBACA
PULAU PUISI
PoetryMasuk ke dalam puisiku, sebetulnya salah kamar. Tak perlu buru-buru keluar, kau tersesat di tempat yang benar. Kumpulan puisi-puisi yang kutulis 2 tahun yang lalu hingga sekarang. Akan update waktu suka-suka.
