Sungai membentang luas di matamu. Tiba-tiba aku bukan lagi pengembara, tetapi pelaut. Menyelam tanpa perahu, tak akan membuatku mati terkapar digigit hiu atau pun ditelan paus. Sebab aku akan tenggelam, mengunjungi dasar laut sembari tinggal dalam karang-karang.
"Perayu, tukang bual." Katamu sewaktu-waktu, saat kusamakan kau dengan kilap berlian dalam lautan. "Aku bukan satu-satunya berlian." Ucapmu ketus.
Duhai nyonya, aku tak pandai merayu. Aku hanya bisa merangkai kata, seperti kau merangkai rumus-rumus dalam tatapmu, dalam tuturmu, untuk membuat laki-laki sepertiku terpikat.
Puisiku bukan lidah laki-laki, nyonya. Puisiku bocah-bocah yang riang gembira bila berada di dekatmu, serupa kembang-kembang penawar madu bagi para kupu-kupu, yang kau cinta.
Maka seandainya, aku bisa menciptakan satu tubuh puisi bersama kedua kaki, aku akan melakukannya. Berbait-bait puisi, akan kupahat pula sepasang kaki untuk mencarimu, untuk menemuimu, dan menceritakan dirinya, dan diriku.
Bila saja puisiku punya kaki, berdiamlah saja dalam kamarmu sampai matahari menyapa ombak-ombak di matamu, dia akan mengetuk kamarmu pelan-pelan, dan kau akan terkejut membukanya.
"Hi, siapa kau?"
"Aku puisi."
"Dari mana datangnya?"
"Aku di sini untuk menceritakan diriku, dan seorang laki-laki, yang telah membuatkanku sepasang kaki untuk mencintaimu."
KAMU SEDANG MEMBACA
PULAU PUISI
PuisiMasuk ke dalam puisiku, sebetulnya salah kamar. Tak perlu buru-buru keluar, kau tersesat di tempat yang benar. Kumpulan puisi-puisi yang kutulis 2 tahun yang lalu hingga sekarang. Akan update waktu suka-suka.
