Teruntuk: VII

60 9 0
                                    

Dinda

Tibalah hari saya kembali teringat.
Pada hari setelah lima tahun kamu melepas nyawa.
Tersudutlah saya berpangku rasa dalam getar gemuruh hampa.
Teguh memegang cinta laksana merpati yang tak pernah ingkar rasa.

Kematian kamu tak ubahnya kehancuran bagi saya.
Langit saya terbelah;
Bumi saya retak;
Tiada lagi berisi;
Tinggal koyaknya sahaja.

Terkatung-katunglah saya terlempar kesana-kemari,
yang berseri-seri di depan layar, tapi menangis di belakang layar.

Cita-cita kita tiada sekejap pun sempat bersua.
Hilanglah akhirnya separuh waras saya.
Tidur tak lelap, makan tak kenyang.
Raga disini, ruh dimana-mana.

Biarlah saya bermukim di persimpangan nestapa sebatang kara.
Menolak sadar akan pahitnya realita.
Memeluk tetap bayang dan haru.
Meski kadang tahu betul bahwa kamu tiada di sana.

"Tiap-tiap celaka pastilah ada guna." Ucap cakrawala.
"Hujan jatuh, yang indah tumbuh." Ucap semilir senja.
Sia-sialah Dinda memutar timur saya.
Tak ada guruh untuk si tuli, dan tak ada kilat untuk si buta.

Kamu berlalu, tapi tidak dengan saya.
Waktu bergulir, tapi tidak hati saya.
Semayam tetap nama indah "Dinda".

Restuilah saya dalam sendiri.
Timang-menimang harapan yang tak tentu pasti.
Memupuk sendu dan terus meyakini.
Bahwa esok hari saya, kamu, kita pastilah kembali.

PULAU PUISITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang