Tetes terakhir peluh telah jatuh.
Pada titian jarak temu yang semakin jauh.
Pada aksara-aksara rindu yang semakin gaduh atau pada heningnya sepi yang kini terasa sangat membunuh.Aku terpisah jauh dengan realita.
Tersesat merana dalam teka-teki asmara.
Mencari waras di sela-sela kalimat mesra,
dan biarkan dunia tetap mengira aku baik-baik saja.Aku lelah;
Aku jengah;
Memapah rindu yang kehilangan arah.Aku berdarah;
Aku menyerah;
Menggapai hati yang tak tahu caranya melangkah.Warna-warni harapan itu membiaskan fatamorgana.
Membuat aku rela menggadaikan kepala dan isinya.
Mengedepankan hati atas lika-liku luka.
Hingga aku jatuh terkapar tanpa bisa mengendalikan apa-apa.Aku tertawa;
sebab air mata telah habis tak tersisa.
Aku bahagia;
sebab luka membuat mata saya terbuka.Aku melihat bintang di wajah gulita.
Aku melihat pelangi di langit utara.
Aku menengadahkan cinta dan akhirnya menuai percaya—
bahwa keindahan akan terbit di puncak kesabaran manusia.Di ujung realita, selalu ada kata yang pandai merayu mesra.
Seolah mengajak berdansa di atas kertas yang digelitiki pena.
Mengisah juang tentang seorang petualang aksara.
—yang berhenti mencari cahaya dan memutuskan untuk menjadi salah satunya.

KAMU SEDANG MEMBACA
PULAU PUISI
PoesíaMasuk ke dalam puisiku, sebetulnya salah kamar. Tak perlu buru-buru keluar, kau tersesat di tempat yang benar. Kumpulan puisi-puisi yang kutulis 2 tahun yang lalu hingga sekarang. Akan update waktu suka-suka.