Pandemik Agnosia

31 4 0
                                    

Sebagaimana goresan ujung pena, yang mengisi di antara garis-garis secarik kertas putih yang telah menua. Kamu, satu-satunya prosa yang tertuang di atasnya. Aku, selembar kertas diisi hampa. Dan kita, dua kosa kata berbeda yang melukis satu kisah yang sama.

Aku kembali membenamkan diri pada pekat rayuan malam. Sibuk memunguti puing-puing hati yang tertancap begitu dalam sebagai rutinitas utama, sebelum sepasang mataku benar-benar terpejam.

Bersenandung riuh di antara denting gelas dan pekat aroma kopi. Menghirup keping-keping kenang yang mengitari. Meneguk dikit demi sedikit tentangmu yang menyapa hati, dengan secercah senyum yang terperangkap di dalam potret diri.

Barangkali akan tetap seperti ini. Saling memadatkan waktu, hingga aku lupa; bahwa ada suatu pernah yang kini telah punah. Bahwa ada suatu kasih yang kini menjadi potongan-potongan kisah. Bahwa pernah singgah secercah indah, untuk kemudian saling kurecah—huruf per  huruf, kata per kata.

Barangkali akan tetap seperti ini. Sirna seluruh bincang yang menghangatkan, berselang harap yang menikam dibalik kesunyian. Hingga rindu teriak memohon, mendekap segala kepergian—sebelum ia pulang, kembali kepada Sang Pembolak Balik Perasaan.

Barangkali akan tetap seperti ini. Bertahan pada siapakah yang menjadi paling? Terjebak dalam sebuah peran asing, dengan kenangan masing-masing.

Barangkali akan tetap seperti ini. Terbiasa menjadi sepasang pujangga, menceritakan keramah-tamahan luka yang hingga setiap genggaman yang dikisahkan serupa kiasan dalam buku sastra.

Barangkali, aku akan tetap seperti ini. Seorang yang berulang kali patah, menyumpahi diri atas musnahnya seluruh harapan dan rencana yang dulu pernah coba kusempurnakan. Hingga hadirku terhapus tanpa alasan. Hingga seluruh detak jantung berhasil kumakamkan.

PULAU PUISITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang