Jangan Ambil Cahaya Mereka

65 13 0
                                    

Suatu malam, aku terduduk merenung di beranda.
Pikiranku;
Arah hidupku;
Hatiku;
Sangat terasa buntu dan tak tahu harus kuarahkan kemana.
Aku seperti di dalam penjara.
Nestapa;
Gelap terasa;
Namun tak kasat mata.

Aku butuh warna, aku butuh cinta, aku butuh cahaya.

Lalu, aku mendengar keramaian di tengah kota.
Kuarahkan mataku ke sana; aku menyaksikan hingar-bingar dunia yang sangat terang menyilaukan mata.
Hingga aku sadar, pada akhirnya aku malah tidak bisa melihat apa-apa.

"Betapa kasihannya aku", ujar kalimat pertamaku.

Terus dan terus, aku menyaksikan mereka tanpa bisa berbuat apa-apa. Hingga aku mulai merasakan wujud cinta muncul menyeruak di dalam dada.

Mereka tertawa; aku juga.
Mereka menangis; aku pun sama.
Mereka berduka; aku sangat merasa.
Mereka bahagia; aku? Jangan ditanya.

"Mereka sedang dalam gelapnya nestapa tapi mengapa malah mata dan hatiku yang mendapatkan cahaya? Mereka sedang mencari cinta, tapi mengapa aku yang menemukannya ketika menatap mereka?", ujarku pada semesta.

Aku meletakkan kepalaku dan mulai menengadahkan tanganku.
Tuhan membisikkan sesuatu;
Tentang fenomena yang ada di depan mataku.
Aku malu,
sangat malu.
Bahwa sesungguhnya,
yang butuh dibantu itu bukan aku.
Tapi mereka.

"Betapa kasihannya mereka", ujar kalimat terakhirku.

PULAU PUISITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang