Jangan terlalu percaya dengan apa yang matamu tunjukkan tentang dunia dan isinya. Dunia selalu penuh tipu daya dan manusia selalu berkamuflase.
Begitu pula tentang Jarvis dan Kania. Mereka memiliki banyak rahasia yang ditutupi dengan kepura-puraan.
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jarvis bersumpah, sebelum ia menjadi sosok yang mengerikan seperti sekarang, dia adalah anak laki-laki yang periang, penyayang, dan memiliki hati yang bersih. He was a loveable boy with the cutest smile. Hingga dia melihat sesuatu yang tidak pantas di umur 5 tahun.
Saat itu, bundanya harus rekaman album terbaru sampai menginap di studio. Dia dititipkan pada sang ayah yang penuh kasih sayang, perhatian dan penyabar. Jarvis kira begitu. Jarvis kira, ayahnya memang malaikat pelindung paling baik yang dikirim Tuhan. Ternyata, dia tidak lebih dari monster mengerikan.
“Ayah ngapain?” tanya Jarvis.
Matanya tertuju pada seorang asisten rumah tangga yang sudah terkapar di lantai dan bersimbah darah. Lalu, matanya bergerak naik pada pisau yang dipegang sang ayah. Naik lagi, dia bisa melihat senyum hangat yang terpancar dari wajah itu.
“Sudah lama kamu berdiri di sana, Nak?” tanya lelaki itu, lengkap dengan napas terengah-engah.
“Bi Susi ... kenapa?” Sekarang, suara Jarvis sudah bergetar, matanya sudah berkaca-kaca. Bahkan, dia langsung mundur saat ayahnya mendekat.
“Hey, jangan takut, Jagoan,” ucap ayah Jarvis. Ia melepaskan pisau itu sampai terdengar suara nyaring. Ia mengangkat tangan dan terus mendekati putra semata wayangnya. “Bi Susi gak apa-apa. Dia cuma jatuh.”
Jarvis adalah bocah yang lebih cerdas dari anak seusianya. Jelas dia tahu ayahnya bohong. Ia terus mundur dan memeluk robot merahnya dengan erat. “Tapi, kenapa di kamar Ayah banyak darah? Kenapa Ayah pegang pisau?”
“Itu bukan darah, Jarvis. Itu hanya—”
Jarvis berteriak saat ayahnya semakin mendekat. Dia hendak keluar, meminta pertolongan pada siapa saja, tetapi langkah kecilnya kalah dengan pergerakan sang ayah. Tak peduli sebesar apa tenaga yang ia keluarkan untuk berontak, pelukan ayahnya tidak bisa ditandingi. Ia hanya bisa menangis histeris saat tangan dan bajunya ikut ternodai dengan darah asisten rumah tangga yang sudah tak bernyawa.
“Kenapa sampai kamu bunuh?” tanya bunda Jarvis dengan penuh frustrasi. Beliau langsung pulang setelah mendapat telepon dari sang suami.
“Kerja dia gak bener, Sayang. Kemeja kesayangan aku rusak, warnanya jadi luntur.”
“Ini salah kamu, lah. Kan, aku udah bilang, kemeja yang itu simpan di kamar mandi kita aja, jangan dimasukin mesin cuci. Biar aku yang cuci,” lirih bunda Jarvis.
“Ya udah, sih, udah mati juga. Gak bakal ada untungnya kita bahas siapa yang salah,” sahut ayah Jarvis, terdengar begitu santai.
“Terus sekarang gimana? Apa rencana kamu? Gak mungkin kita simpan mayat Bi Susi di gudang terus, kan?”
Terdengar embusan napas panjang dari bunda Jarvis. Dia melangkah mendekati suaminya. “Tapi, semuanya akan berjalan lancar, kan? Kamu gak akan ditangkap sama polisi, kan?”