Kehilangan tidak hanya dirasakan oleh Kania, tetapi juga oleh seluruh warga SMA Lentera Bangsa. Sebagian besar murid murung setelah mendengar kabar menghilangnya Jarvis.
“Sekolah gak sama kalau gak ada Kak Jarvis.”
“Gak bakal ada lagi cowok yang punya senyum manis, dong?”
“Kenapa hal setragis ini bisa terjadi ke Kak Jarvis, sih? Padahal, dia orang baik.”
Kalimat duka saling bersahutan dari murid satu ke murid yang lainnya. Mereka menyayangkan takdir yang dimiliki Jarvis memiliki bagian seburuk ini. Padahal, dia sudah menjadi inspirasi banyak orang, mendapatkan banyak cinta, dan ingin digapai banyak kaum hawa. Tidak ada yang menyangka bahwa hidupnya akan berakhir seperti ini.
“Ni?”
Kania terperanjat dari lamunannya. Dia menoleh dan menyahut, “Hm?”
“Makanannya jangan diaduk doang, masukin ke mulut juga,” ucap Bagas. Sedari tadi ia perhatikan, Kania seperti tidak ada minat menyantap makan siangnya. “Jangan dengerin apa kata orang. Mereka cuma tahu luarnya, bukan cerita sebenernya.”
“Iya. Gue gak peduli, kok.”
Kania mengambil bento dan menyantapnya penuh keterpaksaan. Ia berdusta pada Bagas. Kenyataannya, beberapa hari ini ucapan para siswa berhasil menyita sebagian besar perhatiannya.
“Si Kania sebenernya sayang sama Kak Jarvis, gak, sih? Kok, bisa-bisanya dia gak antisipasi kejadian itu?”
“Dia gak becus jadi pacar Kak Jarvis.”
“Sebelum kejadian itu, Kania lagi ada di mana, sih? Kenapa bisa sampai kecolongan?”
Beberapa saat sebelum kejadian, Kania sedang tidur satu ranjang bersama Jarvis. Dia terlelap nyenyak karena pengaruh obat. Sebelum Jarvis menantang maut, mereka masih bisa bersantai dan saling mengutarakan perasaan masing-masing. Bisa-bisanya Kania tidak sadar setelah sejumlah pesan yang diucapkan Jarvis. Bisa-bisanya Kania tidak paham bahwa itu adalah ucapan perpisahan.
Jangan tanya sebesar apa penyesalan Kania saat terbangun dari tidur dan menyadari Jarvis sudah tidak ada di sampingnya. Jangan tanya sehancur apa perasaan Kania saat Bagas berkata diutus Jarvis untuk datang ke apartemen. Jangan tanya sebesar apa ketakutan Kania saat Jarvis tidak bisa dihubungi sampai 10 jam sejak kepergiannya.
“Jarvis tiba-tiba telepon gue. Dia kasih tahu unit apartemen sama pinnya, nyuruh gue ke sini untuk periksa keadaan lo. Terus, dia juga bilang gue jarus jaga lo, pastiin lo gak terluka.”
Cap pengecut langsung Kania layangkan pada Jarvis setelah mendengar penjelasan Bagas saat itu. Jika Jarvis berani dan percaya, seharusnya dia melibatkan Kania dalam perjuangannya.
“Apa mau lo?” tanya Kania dengan nada rendah.
Deswita menggigit bibir bawahnya. Dia sengaja menghalau jalan Kania untuk mengajaknya bicara. “Udah ada kabar mengenai Kak Jarvis?”
Kania menggeleng lemah.
“Gue denger, besok pencarian terakhir, ya?”
Kali ini, Kania mengangguk.
Mata Deswita mulai berkaca-kaca. Dia memalingkan wajah untuk menyembunyikan kesedihannya. “Gue emang suka sama Kak Jarvis. Dan gue emang benci sama lo. Tapi, bukan berarti gue seneng sama kejadian ini, bukan berarti gue puas lihat keadaan lo ini.”
“Terus?”
“Kalau emang Tuhan berkehendak, Kak Jarvis pasti selamat, kok. Kalau emang begini jalannya dia pergi, kita juga gak bisa berbuat apa-apa. Dan gak salah kalau lo sedih, gue juga sedih. Tapi, gue percaya kita akan sembuh seiring berjalannya waktu.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Caliginous [Tamat]
General FictionJangan terlalu percaya dengan apa yang matamu tunjukkan tentang dunia dan isinya. Dunia selalu penuh tipu daya dan manusia selalu berkamuflase. Begitu pula tentang Jarvis dan Kania. Mereka memiliki banyak rahasia yang ditutupi dengan kepura-puraan. ...
![Caliginous [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/296112618-64-k488485.jpg)