Jangan terlalu percaya dengan apa yang matamu tunjukkan tentang dunia dan isinya. Dunia selalu penuh tipu daya dan manusia selalu berkamuflase.
Begitu pula tentang Jarvis dan Kania. Mereka memiliki banyak rahasia yang ditutupi dengan kepura-puraan.
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kania hanya mampu terdiam sembari menatap punggung Jarvis yang kian menjauh. Semakin hari, pemuda itu semakin gila saja.
Saat berhasil membuat kepala Kania dijahit, dia meminta kania menjadi pacarnya. Beberapa hari yang lalu, dia menawarkan hubungan serupa untuk memanas-manasi Deswita. Dan sekarang, Jarvis mengajaknya pacaran di depan umum. Jangan lupakan klaim sepihak bahwa hubungan mereka resmi mulai detik ini.
“Kania.”
Gadis itu menoleh, dan mendapati Bagas berlari kecil ke arahnya. Ekspresinya juga sama, menatap tak suka ke arah Jarvis.
“Dia ngomong apa, sih?” tanya Bagas, ada nada kesal di sana.
“Gue juga gak tahu,” jawab Kania sembari mengangkat bahunya tak acuh. “Jarvis itu gila. Dia sering gak pakai otak kalau bertindak atau ngomong.”
“Tapi dia siswa paling pintar di sekolah kita, lho, Ni. Kayaknya, gak mungkin dia asal ngomong begitu, apalagi di depan banyak orang begini.” Bagas terdengar lebih sewot dari sebelumnya. Dia melirik Kania dari sudut mata. “Kalian pacaran, ya?”
“Ikut gue!”
Belum sempat Kania menjawab, ia sudah ditarik paksa oleh Deswita. Untuk beberapa saat, Kania kaget dengan kedatangan gadis itu yang terlalu tiba-tiba. Namun, setelah sadar siapa yang mencengkram pergelangannya, Kania segera menepis kasar tangan itu dan mengekori ke mana Deswita melangkah. Dan akhirnya, mereka berhenti di belakang ruang OSIS.
“Jauhi Kak Jarvis,” cetus Deswita begitu ia berhenti. Dia berbalik, melipat tangan di depan dada dan menatap Kania dengan tajam. “Selama gue masih bicara baik-baik, lo harus jauhi Kak Jarvis.”
Kania mengangkat sebelah alisnya.
“Kalau kesabaran gue berkurang lagi, gue akan buat lo menyesal.”
“Buat gue menyesal?” Kania terkekeh dan tersenyum miring. Dia bersandar pada tembok dan menatap Deswita lekat-lekat.
Tentu saja, tatapan tajam, nada rendah, dan ekspresi marah Deswita ini sama sekali tidak berarti untuk Kania. Dia sudah sangat sering berhadapan dengan Jarvis, lelaki yang lebih menyeramkan dari gadis di hadapannya. Yang ada, Kania menganggap lucu gertakan Deswita ini. Dia malah ingin membuatnya semakin marah.
“Kalau lo lihat kejadian tadi dari awal sampai akhir, lo pasti tahu bukan gue yang kejar Jarvis. Jadi, seharusnya, lo ngomong kayak gini bukan sama gue, tapi sama Jarvis. Minta sama dia untuk jauhi gue dan belajar untuk terima lo,” ucap Kania. Suaranya terdengar lembut dan mendayu, tetapi jelas tidak ramah di telinga.
“Kak Jarvis pasti akan menjauh kalau lo mau jaga jarak dari dia! Dia gak akan kejar-kejar lo kalau lo kasih penolakan yang jelas!” teriak Deswita tiba-tiba.
Tentu saja, Kania masih bersikap tenang. Dia malah berdecak sembari mengusap daun telinga kanannya.
Deswita membuang napas kasar. Dia berdeham, berusaha menekan amarah. “Kalau lo gak mau menjauhi Kak Jarvis secara sukarela, lo tinggal sebut aja apa yang lo mau. Lo gak usah sungkan, gue akan kasih apa pun yang lo minta.”