Niat pergi untuk kembali menjadi pribadi yang lebih baik sepertinya tidak akan berjalan dengan mudah. Adara dibuat kaget saat mengetahui Radewa sang mantan kekasih akan melangsungkan pertunangan belum genap sehari sesampainya dia di Indonesia.
Cint...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
* * *
Dara pikir ucapannya kemaren saat dia mengatakan pada Dewa untuk datang subuh akan ditanggapi sebagai candaan, nyatanya tidak. Jam empat pagi, Dewa sudah di sana, di depan rumahnya. Untung saja Bi Asih sudah bangun. Dia yang membukakan pintu dan menyuruh Dewa menunggu di ruang tamu.
"Astaga, Dewa. Kamu kenapa datengnya sepagi ini?" tanya Dara dari lantai dua.
"Kan kamu yang bilang suruh datang subuh. Aku naik ya?"
Dengan berlari Dewa menaiki satu persatu anak tangga begitu lincah. "Kangen banget sama kamu," ucapnya manja dan langsung memeluk Dara.
"Baru beberapa hari doang nggak ketemu udah kangen."
"Emang kamu enggak?"
"Ya kangen juga sih, hehe."
"Tangan kamu kenapa?" Dewa baru menyadari tangan Dara diperban saat gadis itu melepaskan pelukannya. Mengibaskan tangan yang terasa nyeri.
"Kena pecahan gelas," cicitnya manja.
"Yaampun, By. Kok bisa? Kapan?"
"Dua hari lalu." Dara menjawab begitu lirih. Takutnya Dewa akan marah karena tidak diberitahu secepat mungkin. Benar, kan. Dewa sudah bersedekap dada meminta penjelasan.
"Gelas aku jatuh, aku mau pungutin, eh malah jadi kepleset. Dan ini hasilnya. Yang kiri udah mendingan, yang kanan ada tiga goresan. Kamu jangan marah, aku bukannya nggak mau kasih tau lebih awal, tapi aku nggak mau kamu jadi khawatir. Maaf ya."
"Maafin please ...."
Dara memeluk Dewa, menggoyangkan tubuhnya. Mendongak, membuat pout bibir dengan mata yang melebar dan dikedipkan berulang-ulang.
"Aku nggak bisa marah sama kamu, Ra, kalo kaya gini caranya."
"Emang tadinya mau marah?"
"Enggak."
"Ish, dasar!"
Dara begitu menggemaskan. Dia juga cantik meski baru bangun dari tidur. Dewa selalu suka memandangi wajah Dara. Tidak pernah sekalipun dia memalingkan pandangan saat gadis itu tengah berbicara padanya.
Tangan yang dibalut perban diusap pelan oleh Dewa. "Sakit ya?"
Dara mengangguk. "Hmm. Tapi lebih sakit pas aku tau kamu tunangan sama dia."
"Jangan bahas ini ya. Aku maunya pas bareng kamu, bahasnya ya tentang kita aja. Jangan bahas yang lain. I'm yours,remember it."
Hanya anggukan yang menjadi jawaban dari Dara. Dia dipeluk lagi. Dagunya disandarkan pada bahu Dewa. Jari jemari cowok itu menyisir surai gadisnya yang tergerai panjang.
"Mau cuddle?" bisik Dewa.
"Mau. Tapi nanti kita perginya jam berapa. Nanti ketiduran jadi kesiangan dong."