Niat pergi untuk kembali menjadi pribadi yang lebih baik sepertinya tidak akan berjalan dengan mudah. Adara dibuat kaget saat mengetahui Radewa sang mantan kekasih akan melangsungkan pertunangan belum genap sehari sesampainya dia di Indonesia.
Cint...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
* * *
Tidak perlu menunggu berhari-hari, kemaren, setelah barang-barang pameran yang asli sudah tertata dengan rapi, hari ini pameran itu telah selesai diselenggerakan.
Meski tidak sesuai ekspetasi karena jumlah pengunjung yang berkurang, namun pesanan mengenai barang-barang tersebut sudah membludak. Itu semua berkat teman-teman Vio dan juga Dara yang kini menjadi kesayangan mereka. Dalam waktu semalam, Dara bisa membaur meski hanya melalui group chat. Dara juga gencar memberi kabar tentang bagaimana keunggulan produk BATARI GROUP, layaknya seorang sales handal.
Para staff sudah mulai membereskan kembali aula. Sesuai janji, mereka akan diberi bonus oleh Maxim. Kecuali mereka yang berkhianat, sanksi telah menanti untuk mereka. Termasuk model yang tersetrum kemaren. Usut punya usut, dia hanyalah berakting. Karena ternyata, kabel penghubung sama sekali belum dicolokan pada stop kontak oleh staff yang bertugas.
"Om, ayo kita pergi. Rapat sebentar lagi akan dimulai," ujar Dara melihat jam di tangannya.
"Kamu tidak perlu datang. Biar Om yang urus. Kamu pergi ke rumah sakit buat cek kondisi kamu, ya."
"Tapi, Om. Dara harus bertanggung jawab menenangkan mereka setelah kekacauan kemaren."
Tangan yang berada di dalam saku celana dikeluarkan. Maxim mulai mengusap lembut kepala gadis itu. "Kamu tenang saja, Ra. Tema rapat sudah diubah. Setelah mendengar fakta bahwa ada yang menyabotase pameran, mereka menjadi sedikit tenang. Dan tiga puluh menit lalu, mereka mulai kembali tertawa karena semua barang ludes terjual. Kita untung banyak. Barang-barang buatan BATARI kali ini sangat memuaskan konsumen. Pesanan dari luar negri pun mulai berdatangan."
"Jadi, pergilah. Dokter Shanna sudah menunggu. Om yang mengosongkan jamnya, khusus untuk kamu."
Maxim menoel hidung Dara gemas. Baginya, gadis itu masih menjadi gadis kecil yang lucu. "Satu lagi, biarkan Om yang menghukum mereka. Kamu bersantailah, jangan diambil pusing. Kalau perlu, pergi liburan sebentar. Om, pergi dulu," katanya mengacak rambut Dara, "Bumi, Angkasa, hati-hati bawa mobilnya. Jangan sampai keponakan saya lecet," ucapnya pada Bumi dan Angkasa sambil terus berjalan.
"Siap Tuan," jawab Bumi dan Angkasa serentak.
Mata Dara berkaca-kaca. Dia terharu karena Maxim benar-benar menepati janjinya pada mendiang Ayahnya. Janji untuk selalu menjaga serta membuat Dara bahagia.
"Thanks for always loving and always beside me in every situasion, Om," gumam Dara menyeka air matanya, "ayo," ajaknya pada Bumi dan Angkasa untuk segera pergi.
Setelah melihat betapa banyaknya orang yang jahat pada Dara, Angkasa menjadi semakin canggung. Dia merasa bersalah atas apa yang telah ia perbuat. Tapi dia sendiri tidak bisa membantah apa kata Selina. Memang seharusnya ia tidak ikut campur. Karena Dara sendiri selalu baik padanya.