Niat pergi untuk kembali menjadi pribadi yang lebih baik sepertinya tidak akan berjalan dengan mudah. Adara dibuat kaget saat mengetahui Radewa sang mantan kekasih akan melangsungkan pertunangan belum genap sehari sesampainya dia di Indonesia.
Cint...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
"Gimana? Kaget? Atau sudah jantungan? Itu hanya gertakan kecil, see you di gertakan lain yang jauh lebih besar, Nona Adara!" sarkas Dara setibanya dia di depan Reina yang sedang memegangi nampan makanan.
Nampan yang Reina bawa dengan hati-hati langsung terjatuh membuat bunyi prang begitu keras. Makanan dan minuman yang ada di atasnya pun jatuh berserakan tidak berbentuk lagi. Mereka seketika menjadi pusat perhatian seluruh karyawan stasiun televisi tersebut.
"Mau ke mana?" cegah Sebastian menahan tangan Reina. Dia hendak lari, menghindar dari keduanya.
Reina di bawa ke sebuah ruangan kecil dengan tiga kursi dan satu meja. Ruangan itu sudah disiapkan khusus oleh Sebastian dengan bantuan pria berbrewok tipis tadi. Sebastian memiliki akses ke sana, karena dia kenal dengan direktur utama stasiun televisi tempat Reina bekerja.
"Maksud lo apa neror gue?!" hardik Dara menggebrak meja.
"Ma-maksud lo apa, Ra. Gue nggak ngerti." Reina tertunduk ketakutan. Tangannya meremas celana kain yang ia kenakan.
Dara mengambil ponsel, menghubungi nomor yang digunakan Reina untuk menerornya. Panggilan terhubung, ponsel Reina berdering nyaring. "Masih mau ngelak?" tanyanya sinis.
Reina langsung bersujud di kaki Dara. Dia menangis memohon ampun. "Maafin gue, Ra. Gue disuruh Selina. Kalau nggak nurut, gue bakal dilaporin ke polisi. Kelakukan gue bakal disebar sama dia. Gue terpaksa. Dalang utamanya bukan gue. Gue cuma disuruh buat neror lo lewat pesan. Selain itu, gue nggak tau apa-apa. Maaf, Ra."
"Gue nggak akan semudah itu percaya sama lo, Rei. Lo sama liciknya dengan Selina." Dara menepis tangan Reina dari kakinya. Dia mundur dua langkah lantas berjongkok di depan gadis itu.
Dara mengangkat dagu Reina agar gadis itu menatapnya balik. "Buktikan kalau lo emang dipaksa sama Selina," ucapnya.
Buru-buru Reina membuka ponselnya. Menunjukan pada Dara roomchat miliknya dengan Selina. "Gue juga ada screenshoot chat lama. Gimana awal mulanya gue jadi nurut sama dia."
"Katakan apa saja yang lo inget tentang itu. Gue bakal baca chat ini sambil dengerin omongan lo." Dara memberi perintah.
Reina mengangguk. "Bokap gue dulu punya utang banyak ke bokapnya Selina. Tapi dia kabur. Nyokap gue yang akhirnya harus bayar dan kerja sama mereka tanpa bayaran. Nyokap gue jadi stress karena dia sering disiksa batin dan fisiknya sama bokap Selina. Nyokap gue hampir tiap hari diperkosa."
Mendengar itu, Dara menghentikan gerakan tangannya yang sedang menarik layar. Dia memberikan semua fokusnya pada Reina.
"Gue terpaksa bunuh nyokap supaya dia nggak kesiksa lagi dengan bantuan Selina. Gue pikir Selina emang bener-bener bantu dan menyembunyikan semuanya. Tapi ternyata gue salah. Dia menggunakan rahasia pembunuhan itu buat nekan gue supaya nurut. Kalau enggak, gue bakal dibunuh atau dimasukan ke penjara."