Niat pergi untuk kembali menjadi pribadi yang lebih baik sepertinya tidak akan berjalan dengan mudah. Adara dibuat kaget saat mengetahui Radewa sang mantan kekasih akan melangsungkan pertunangan belum genap sehari sesampainya dia di Indonesia.
Cint...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
"Abian!" teriak Miranti hingga membuat seseorang di dalam rumah itu memecahkan gelas tehnya.
Tamu yang ada di rumah Miranti adalah Ramos. Dan yang memecahkan gelas tehnya adalah Pandu. Abian terkekeh sendiri. Betapa kagetnya pria itu melihatnya.
Miranti yang hendak memeluk Abian terpaksa menundanya. Dia berlari ke arah dapur, memanggil Bibi untuk membereskan pecahan beling dan air teh yang tumpah.
"Ayah," sapa Dara. Dia mendekat lalu bersalaman dengan Pandu diikuti oleh yang lain.
Abian menjadi yang terakhir. Wajah Pandu seketika berubah menjadi gugup. "Lama nggak ketemu, Yah," ucap Abian.
"Eh-eh iya, Bian. Kamu sudah keluar, sejak kapan?" tanya Pandu basa-basi.
"Kemaren. Dara mencabut berkas tuntutannya," jawab Abian.
"Dara sempat bercerita pada Bunda waktu itu. Dia meminta saran tentang apa itu ikhlas. Ternyata omongan Dara benar adanya. Kamu bebas. Bunda seneng banget, tau nggak." Miranti berkata sambil memeluk Abian. Mengusap punggung cowok itu dengan lembut.
"Kalian duduk di rumah sebelah, ya. Lagi ada tamu," bisik Miranti. Dia mengedipkan matanya pada Dara, "ayo," ajaknya.
"Loh, mau pada ke mana?" tanya Ramos.
"Rumah sebelah. Kalian silahkan melanjutkan obrolan," jawab Miranti tersenyum. Dia menggiring mereka seperti seorang ibu bebek menggiring anak-anaknya. Sudah lama dia tidak merasakan sensasi seperti ini. Dulu rumahnya kerap kali ramai dengan tawa mereka.
Ramos menatap sinis pada Dara yang terus dirangkul oleh Miranti. Dan Dara yang tidak takut pada pria itu sesekali juga menoleh ke belakang. Balik menatap Ramos dengan lirikan tak kalah tajamnya.
Bukan hanya Pandu, Ramos juga ikut dibuat bingung. Dia akan ikut terseret jika Abian mengatakan yang sebenarnya. Dulu, Ramoslah yang membuat bukti palsu hingga semua tuduhan mengarah pada Abian.
"Anak itu tidak akan macam-macam, kan?" tanya Ramos pada Pandu yang urat lehernya sudah menegang.
"Tidak akan. Dia sebatang kara, siapa pula yang akan membantunya. Kita bawa saja Dara untuk mengancamnya agar bungkam. Dia sangat menyayangi gadis itu layaknya adik sendiri." Pandu menjawab dengan netra yang masih memandang lurus ke depan. Tanganya mengepal. Mengingat betapa menjengkelkannya wajah Abian saat menyapanya tadi.
"Pastikan semuanya aman, Pandu. Ini tugas kamu!" seru Ramos. Dia sudah pusing dengan banyak masalah. Abian hanya akan menambah bebannya makin berat.
"Baik. Akan saya lakukan," jawab Pandu.
Rumah kecil di sebelah rumah utama Dewa menjadi tempat penuh kenangan mereka. Selama setahun, setelah dulu mereka pindah ke Athena, rumah kecil itu selalu ramai dengan kumpulnya anggota ROABIGON.