6. Resiko Melawan Restu

1.4K 95 1
                                        

Langit sudah menggelap sempurna

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Langit sudah menggelap sempurna. Bulan di atas sana bersinar penuh ditemani bintang gemintang yang memenuhi angkasa. Sementara di atas bumi, Dewa sendirian melajukan motornya di tengah jalan yang begitu sepi.

Rindang pepohonan berdiri kokoh di tepian. Sesekali tiupan angin kencang membuat ranting bergoyang mengugurkan dedauan. Angin itu juga membuat Dewa yang hanya mengenakan kemeja hitam menggigil kedinginan.

Arah motornya berbelok pada jalan setapak dipinggir jalan besar. Jalan kecil yang menanjak itu menuju ke vila mendiang kakeknya. Tengah malam seperti ini biasanya ada Mang Asep yang berjaga.

Mang Asep yang tengah tertidur di bale depan Vila terbangun karena sorot lampu dari motor Dewa. "Den, kok ke sini malam-malam, Ada apa?"

"Nggak ada apa-apa, Mang. Saya cuma lagi kangen sama Kakek. Mang Asep tidur lagi aja. Maaf, Dewa nggak sengaja bangunin." Dewa menjawab dengan cepat dan buru-buru masuk ke dalam vila. Mang Asep bingung melihat tingkah Adennya tapi dia terlalu ngantuk dan lebih memilih untuk tidur kembali. Menarik sarung menutup tubuhnya dari ujung kaki hingga kepala.

Dewa berdiri menatap lamat-lamat foto besar mendiang kakeknya yang terpajang di dinding ruang tengah. Foto paling mencolok diantara foto-foto lainnya. Foto dengan pigura emas dimana sang kakek memakai baju kebesarannya sebagai seorang Jendral besar.

"Ayah berubah sangat banyak, Kek. Terlalu banyak sampi Dewa nggak kenal sosoknya lagi."

Desiran angin dari luar masuk melalui lubang udara di atas jendela. Menyibak tirai panjang yang menggantung menutupi kaca.

Dewa terdiam cukup lama di sana sampai akhirnya dia masuk ke dalam kamar utama. Kamar bernuansa kuno itu merupakan kamar Kakeknya dulu jika menginap. Ranjang yang digunakan masih menggunakan ranjang besi yang setiap kali diduduki akan berbunyi.

"Kakek bilang ranjang ini bisa membawa ketenangan sampai-sampai Kakek melarang kita buat buang ranjang ini."

"Apa kali ini akan berhasil? Masalah yang Dewa pikul sangat besar, Kek."

Perlahan Dewa membaringkan tubuhnya. Menatap langit-langit rumah yang warna putihnya sudah mulai menguning. Satu tangannya dijadikan bantalan. Dewa memejamkan mata mencari ketenangan yang dirasa hanya sementara.

***

Pagi-pagi sekali, Dara sudah bangun hanya untuk melihat notifikasi di ponselnya. Bahkan semalam, dia terus terbangun setiap satu jam sekali. Dara menunggu kabar dari Dewa. Sejak kemaren Dewa tidak menghubunginya sama sekali. Dia rindu dan juga kesal karena Dewa belum tau pasal keadaan tangannya yang sedang terluka.

Dara terus menghentakan kaki, menyibak selimut asal hingga selimut itu jatuh ke lantai. Bantal dan guling pun menjadi bahan amukan. Ditendang, dipukul bahkan hingga digigit olehnya.

Dewa❤

Segitu senengnya atur tanggal nikah sampe nggak kasih kabar apa-apa ke aku 😭
Aku marah😡

ADARADEWA2 [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang