05 : Pergi

5K 434 7
                                        

Malamnya, Jaemin terkapar lemas di kasur sambil memijat keningnya sendiri. Materi lesnya benar-benar susah. Guru lesnya juga tidak main-main, mereka sangat tegas dan cepat.

Jaemin melihat jam dinding. Tinggal bertemu keluarga Zhong, lalu pergi les renang. Tapi Jaemin sudah lelah sekali. Jaemin menghela nafas.

Renjun, Haechan dan Jisung masih main futsal. Enak sekali hidup mereka. Kalau saja Jaemin lahir di keluarga biasa seperti temannya, sudah pasti kan hidup Jaemin tidak sesulit ini?

Renjun itu hidup berkecukupan, orang tuanya punya restoran masakan China. Dia juga anak satu-satunya yang terlihat sangat disayang.

Haechan? Ayahnya punya bercabang-cabang rental mobil. Kalau Haechan itu punya banyak adik, tapi dia terlihat sekali masih dimanja dan disayang juga.

Jisung, anak itu punya Ayah dan Ibu yang mengelola perkebunan sayur berhektar-hektar. Jisung juga punya adik, tapi sifatnya sangat dewasa. Jaemin yakin hidupnya juga penuh kasih sayang.

Menurut Jaemin, teman-temannya itu tidak miskin. Tapi Papa selalu bilang, Jaemin punya teman dari kasta rendahan. Maka dari itu Papa sampai bertindak mencarikannya teman dari kalangan konglomerat.

“Zhong Chenle.” gumam Jaemin membayangkan wajah tengik Chenle di sekolah.

Jaemin bangkit, mengganti bajunya dengan tuxedo hitam yang sudah disiapkan di lemari khusus baju formal. Jaemin harus membuat Chenle tidak mau berteman dengannya. Harus!

Jaemin keluar kamar setelah merasa rapi dan perfect.

Tak

Tak

Tak

“Jaem! Cepat turun, sedang apa kamu lama sekali!” panggil Irene.

Jaemin segera mempercepat langkahnya menuju meja makan yang penuh hidangan mewah dan berkilau dengan hiasan lilin putih dan mawar putih. Lagi-lagi berlebihan.

Sreekk

Jaemin duduk di sebelah Jeno, seperti biasa.

“Pa, kita tunggu mereka yuk di depan. Kita harus menyambut dengan baik.” ajak Irene.

“Oke.” ucap Suho.

Setelah kedua orang tuanya pergi, ruang makan mendadak dingin. Bibi yang berdiri berjejer-jejer sampai meneguk ludah karena merinding.

“Bi Darti.” panggil Jaemin tiba-tiba.

“I-Iya Den.” Bi Darti yang dipanggil maju mendekati Jaemin.

“Saya haus.” ucap Jaemin.

Bi Darti segera mengambilkan air putih untuk Jaemin. Jaemin menerimanya, namun tak meminumnya. Justru menatap Bi Darti tajam.

“Beli kopi.” ucap Jaemin.

“Akan saya buatkan di dapur Den.” ucap Bi Darti.

“Beli.” ucap Jaemin.

Bi Darti mendongak menatap Jaemin.

RIVAL | Jeno Jaemin ✔ endCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang