06 : Menyeramkan

5.1K 401 21
                                        

“Ikuti dia.” ucap Suho pada supirnya.

Tadi, Jaemin pergi dengan motornya. Keluarga Zhong ikut melihat Jaemin yang pergi dengan kecepatan super dengan raut marah yang kentara sekali.

“Maaf ya Pak Zhong, anak saya yang satu itu memang luar biasa bandelnya.” ucap Suho tersenyum.

“Iya, tidak apa-apa Pak Suho.” ucap Papa Zhong.

“Chenle, ayo masuk lagi. Maaf ya kamu jadi ngga bisa ngobrol sama Jaemin.” ucap Irene.

“Ngga papa Tante.” ucap Chenle.

Semuanya masuk kembali ke dalam. Chenle melihat Jeno yang sudah duduk dengan tenang melihat meja makan seolah tak terjadi apa-apa. Sungguh aneh rasanya, Chenle bisa merasakan rasa yang aneh dari keluarga ini.

“Silahkan duduk kembali.” ucap Suho.

Keluarga Na dan Zhong mulai berbincang mengenai bisnis saat ditengah menyantap hidangan. Chenle mulai merasa bosan karena hanya diam menyimak saja.

“Mi, Chenle pengen ke toilet.” ucap Chenle.

“Iya Le.” balas Ibu Zhong.

“Sama Kak Jeno ya Le. Jen, anterin Chenle gih, ngobrol-ngobrol juga ngga papa.” ucap Irene tersenyum.

“Iya Ma.” balas Jeno menurut.

Chenle mengikuti langkah Jeno dari belakang. Punggungnya tegap, ada aura dingin yang sangat besar meski Jeno hanya berjalan.

“Tinggal lurus.” ucap Jeno menunjuk lorong toilet mewah khusus tamu.

“Iya Kak.” balas Chenle sopan.

Jeno menunggu Chenle, entah kenapa Jeno tidak ingin buru-buru kembali ke meja makan. Sebenarnya moodnya sudah rusak karena Jaemin.

Ceklek

Chenle keluar setelah sepuluh menit. Chenle agak kaget saat tahu ternyata Jeno menunggunya. Keduanya berjalan depan belakang lagi.

“Jaemin, dia...kira-kira kemana Kak?” tanya Chenle ragu.

“Ngga tau.” jawab Jeno cuek.

“Oh.” balas Chenle kikuk.

“Ehm, Kak.” panggil Chenle pelan.

“Gue...juga sering tengkar sama Kakak gue, minta maaf aja Kak, pasti nanti dia balik.” ucap Chenle.

Jeno berhenti. Menoleh menatap Chenle tajam.

“Minta maaf?” tanya Jeno dingin.

Mata Chenle melihat kesana-kemari karena takut dengan aura Jeno.

“Lebih bagus dia ngga balik.” ucap Jeno tegas.

“Ke-Kenapa Kak?” tanya Chenle nekat.

“Bukannya kalian Kakak Adik.” tambah Chenle.

Jeno berjalan mengikis jarak dengan Chenle.

“Gue ngga punya adik.” ucap Jeno.

Dimata Chenle, sekarang Jeno sangat menyeramkan. Jeno berbalik, berjalan meninggalkan Chenle.

Dengan tarikan nafas panjang, Chenle bersandar di tembok yang ada, mengusap-usap dadanya. Chenle membayangkan, bagaimana dia akan berteman dengan Jaemin nanti.
Chenle akui Jaemin seram, tapi Jeno dua kali lipat lebih seram.

“Cepet jalan!” panggil Jeno menoleh.

Chenle langsung berjalan cepat menyusul Jeno.

“Hahaha iya Jeng, Jeno itu anak yang manis dan hangat, dia sangat penurut. Saya aja sampe heran dengan sifatnya yang sangat baik.” ucap Irene tertawa senang.

RIVAL | Jeno Jaemin ✔ endCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang