11. Maafkan Rio, Papa

1.2K 186 57
                                        

Rose mengusap kasar air mata nya, ia pergi begitu saja tanpa berpamitan pada Rio dan Yoong, Yuri menatap curiga, tapi ia tak ambil pusing "mungkin Rose sedang bertengkar dengan Yoong" batin Yuri.

"Ayo, aku antar kalian pulang" ajak Yuri.

"Gumawo hyung" ucap Yoong tak enak.

"Tak masalah Yoong, kita ini bukan orang asing" balas Yuri sambil memutar kemudi mobil nya ke rumah Yoong, Rio duduk di bangku belakang, diam memperhatikan pemandangan di luar jendela sepanjang jalan yang mereka lewati.

Setiba di rumah, Rio langsung ke kamar nya, dan Yoong duduk di sofa ruang keluarga, memikirkan mantan kekasih nya yang menangis lagi karena perbuatan Yoong, menjelang malam, Rio pun turun untuk makan malam, dan dari ujung tangga tempat nya berdiri sekarang, ia melihat sang ayah tengah kerepotan mengganti perban nya sendiri.

"Aww" beberapa kali Yoong terdengar mengaduh karena tanpa sengaja menyentuh luka nya sendiri, Rio menatap iba sang ayah, ia kemudian buru-buru menghampiri Yoong.

"Papa"

"Eh, boy, sudah lapar ya? Sebentar papa bereskan ini dulu, setelah itu papa akan membuatkan mu makan malam, Yoong nampak mengemasi obat dan perban nya ke dalam kotak pppk, Rio melirik tangan kiri sang ayah yang perban nya nampak asal-asalan membungkus luka yang masih basah itu.

"Maafkan Rio, pa" ucap nya lirih, tapi berhasil membuat Yoong menghentikan aktivitas nya, ia mendongak menatap sang putra dengan perasaan tak karuan atas ucapan Rio, Yoong nampak canggung dan tak membalas ucapan Rio selain mengangguk, sang anak pun kemudian duduk di samping sang ayah, meraih tangan kiri nya, dan membuka perban nya untuk ia ganti dengan yang baru dan lebih rapi, Yoong tersenyum haru, lalu mengusap kepala Rio yang tengah fokus mengganti perban sang ayah.

"Papa juga meminta maaf" ucap nya, setelah itu pun mereka ke dapur, dimana ahjuma tengah membereskan meja makan.

"Maaf tuan, makan malam sudah siap, saya tahu tuan besar sedang tidak bisa menggunakan tangan kiri nya" ujar sang pembantu.


"Mian boy" Yoong takut Rio kecewa.

"Tidak masalah ahjuma, Rio bisa makan apa pun yang ahjuma masak, biarkan papa sesekali saja memasak untuk ku" jawab nya membuat ahjuma dan Yoong lega, Rio lalu mengambil tempat duduk disamping kanan Yoong, mengambil nasi untuk nya sendiri, sang ayah menatap heran melihat Rio memenuhi piring nya sendiri dengan nasi putih.

"Pa" Rio menyodorkan sesendok nasi dan lauk ke mulut sang ayah, Yoong menatap senang pada Rio, lalu membuka mulut nya, hubungan mereka kembali membaik sekarang, seperti semula.

Keesokan hari nya, Yuri menjemput Yoong untuk ia antar ke kantor.

"Ayo boy, uncle antar sekalian" ajak Yuri.


"Tidak uncle, terima kasih, Rio akan di jemput Seulgi" tolak nya halus.

"Ok, uncle berangkat kalau begitu" pamit Yuri.

"Bye boy" Yoong melambaikan tangan kanan nya pada Rio.


"See you pa" balas nya.



Hari ini adalah pelajaran Kimia mr Changmin, Rio di beri tugas untuk membawa peralatan praktek ke ruang lab, dan murid-murid yang lain pun sudah duduk manis di sana, termasuk Krystal, gadis itu meluruskan tangan kanan nya diatas meja dan menggunakan lengan nya untuk menyandarkan kepala nya, sambil menatap ke arah teman-teman nya yang asyik membahas tas baru Joy.

Rio sendiri sedang berada di meja praktik karena mr Changmin memberi nya tugas untuk membuat cairan sabun yang ia pompa menggunakan wadah refil korek api, hingga menciptakan gelembung sabun yang menumpuk, ia sudah di beritahu oleh sang guru, dan akan menggunakan kesempatan ini untuk menjahili Krystal, Rio mengambil gumpalan gelembung sabun di wadah tadi, dan meletakan nya diatas tangan kanan Krystal, gadis itu tidak menyadari nya karena asyik bercerita, Rio menyalakan korek api dan menyulut gelembung sabun tadi.

"Krystal!" Teriak Jennie menunjuk ke arah tangan sang sahabat, merasakan tangan nya hangat, Krystal pun terjengkit, menatap tangan nya yang terbakar.

"Krystal!" Teriak Jennie menunjuk ke arah tangan sang sahabat, merasakan tangan nya hangat, Krystal pun terjengkit, menatap tangan nya yang terbakar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kyaaaaaaaaaaaa. . . " teriak Krystal histeris, tanpa sadar ia pun menangis panik, tak ada yang menolong karena semua nya masih shock dengan kajadian yang begitu tiba-tiba tadi, Rio terbahak, tapi melihat sang musuh menangis ia pun tak tega.

Set

Rio meraih tangan kan Krystal dan mengusapkan nya ke baju seragam Rio sendiri untuk menghilangkan sisa gelembung sabun, guna memadamkan api ditangan Krystal, Rio memeriksa tangan gadis yang ia juluki penyihir jahat itu, yang masih terisak, seisi kelas pun memperhatikan mereka berdua, Rio meniupi telapak tangan Krystal yang tadi terbakar, sebenar nya itu tidak berbahaya, tapi karena Krystal belum tahu akan hal itu, tentu saja ia takut dan panik.

Sret


Krystal menarik kasar tangan kanan nya dari Rio, ia lalu berlari keluar menuju toilet, Jennie, Joy dan Yeri pun mengejar nya, Rio menghela nafas, menyesali perbuatan nya.


Krystal di antar Joseph pulang ke rumah, setelah jam pelajaran berakhir, Rio menatap gadis itu yang seperti nya masih shock.

"Oh Joseph, terima kasih telah mengantar Krystal" sambut Yuri yang sudah pulang dari kantor nya.

"Ne tuan, sama-sama" Joseph membungkuk hormat pada Yuri.

"Apa kita bisa bicara sebentar?" Tanya Yuri pada kekasih anak nya itu.

"Tentu tuan" Joseph pun masuk ke ruang tamu keluarga Kwon, dan berbicara serius dengan Yuri.

"Maaf ne" ujar Yuri

"Saya bisa mengerti tuan" jawab Joseph tersenyum palsu.

"Aku yakin, namja baik seperti mu pasti akan mendapatkan yeoja yang sepadan" ujar Yuri menepuk-nepuk bahu Joseph, Krystal yang menguping pembicaraan ayah dan kekasihnya itu pun menangis sambil menyandarkan kepalanya pada dinding rumah, kedua matanya terpejam menahan sesak di dada.




#TBC

Dear Pumkin HeadTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang