Huhft!
Entah sudah berapa kali gadis itu membuang nafas selama berdiri disana, memandang entah apa yang ditangkap netranya dari atap sekolah. Mengabaikan angin kencang yang menerbangkan rambut gelapnya, juga sosok pemuda yang duduk bersandar langkan sembari memperhatikannya.
"Orang-orang akan mengira kau sedang mimikirkan hutang negara jika melihat ekspresimu sekarang"
Ucapan pemuda itu diabaikannya, seolah tak ada siapapun disana.
"Astaga.. Ini pertama kali seorang gadis mengabaikanku. Sampai kapan kau akan berdiri disini? Pipimu tidak sakit?"
"Ck!"
Hanya decakan, tapi si pemuda tersenyum dibuatnya. Setidaknya gadis itu memberikan tanggapan kali ini.
"Aku tidak tau harus sedih atau senang. Kang Daniel rupanya tidak sepintar kelihatannya. Bagaimana bisa dia lebih percaya pada gadis itu, padahal sudah mengenalmu sejak dulu?"
Senyum miring yang semula menghiasi wajah pemuda itu semakin lebar saat akhirnya si gadis menatapnya. Mata tajam yang bagi sebagian orang terlihat merendahkan, tapi entah kenapa terlihat begitu menarik baginya.
"Kenapa kau hanya menunjukan wajah aslimu yang seperti ini padaku?"
"Karena hanya kau yang tidak terpikat dengan wajah palsuku, Park Woojin"
"Sepertinya ketua OSIS kita punya banyak waktu luang untuk mencampuri urusan orang lain"
"Aku hanya kebetulan berada di posisi yang tepat untuk mengamati, akhir-akhir ini entah kenapa kita jadi sering bertemu"
Si pemuda bangkit dari posisinya semula, berdiri menjulang hingga bahu lebarnya menghalangi angin yang membuat rambut gadis itu berantakan. Wajah tampannya yang kini tanpa ekspresi terlihat bagai patung dewa yunani.
"Sebagai ketua OSIS yang baik, sekarang aku harus membawamu ke Ruang Kesehatan. Wajahmu harus dikompres. Kau tidak ingin pulang dengan wajah seperti ini, kan?"
"Terkadang kau terlalu mendalami peranmu, Hwang Minhyun"
Orang lain mungkin akan menganggap sikap penuh perhatiannya sangat menyentuh, tapi Woojin tidak akan masuk perangkap yang sama. Dia masih ingat bagaimana wajah yang selalu tersenyum ramah itu membuat seseorang yang tidak bisa berenang terjatuh ke kolam hanya karena membuatnya kesal. Yang lain bahkan tidak curiga, karena mereka percaya pemuda itu tidak akan melakukannya dengan sengaja.
"Sepertinya Daniel menunggumu. Aku bisa mengantarmu pulang kalau kau mau"
Woojin melihat kearah yang sama, dimana sosok yang sejak tadi memenuhi kepalanya berdiri dengan ekspresi wajah tak terbaca. Tubuh besarnya yang semula bersandar di pintu mobil kembali tegak begitu pandangan mereka bertemu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Park Woojin - One Shoot
FanfictionHanya berisi koleksi cerita One Shoot GS Woojin as Girl - always Disini pairingnya campur-campur cem gado-gado, ena kan 😁 Selamat menikmati 🤗
