Jar of Hearts

343 32 27
                                        

"Niel.. Kumohon.." Gadis itu terus mencengkeram lengan kekar si pemuda.

"Kau gila? Aku bahkan tidak yakin itu anakku!"

"Ani.. Kau tau aku melakukannya pertama kali denganmu, Niel.. Hanya denganmu.."

Cairan bening itu mengalir deras menghiasi pipi chubby si gadis, matanya merah karena terlalu banyak menangis sejak semalam. Dan kini pemuda itu bahkan tidak mau menatap wajahnya.

"Hiks.. Kau jahat sekali.. Ini anakmu.. Hiks.."

BRAK!

Pemuda itu meninju pintu kamarnya dengan keras, membuat tangis si gadis berhenti seketika.

"HENTIKAN PARK WOOJIN! KAU MAU MENGHANCURKAN HIDUPKU? MENGHANCURKAN MIMPIKU?"

"Aniya.. Aku tidak akan mengatakannya pada siapapun. Tapi tolong bantu aku, Niel.. Aku harus mengatakannya pada orang tuaku"

"Dan membiarkan semua orang mengetahuinya?"

"Tidak. Aku janji.. Tidak akan ada yang tau kecuali keluarga kita, kau bisa melanjutkan pekerjaanmu sebagai model. Kumohon.." suara Woojin terdengar parau, isakan masih mengiringi setiap kata yang diucapkannya.

Tapi sosok pemuda berbahu lebar itu terlihat tidak peduli.

"Keluargamu akan menuntutku untuk menikahimu! Kita masih SMA, dan kau bahkan baru kelas 2!"

Rasanya seperti ada belati yang menghujam jantungnya.

"Bagaimana bisa kau begitu bodoh?! Kau tidak meminum obat yang kuberikan padamu? Sudah kukatakan sejak awal kau harus meminumnya setiap kali kita bertemu!"

"Maaf.. Aku melupakannya.. Guanlin datang dan ak-"

"Guanlin.. Apa kau juga bermain dengannya?"

Mata Woojin membola, dia tidak menyangka kalimat itu akan terlontar dari bibir Daniel.

"Kau tau dia sudah seperti adikku, Niel" bibirnya kembali bergetar, rasanya sakit sekali mendengarnya.

"Dia selalu tersenyum seperti orang tolol didepanmu. Kau kira aku tidak menyadarinya? Kau menikmatinya?"

Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya, dia merasa sangat pening, tapi tetap berusaha kuat untuk meyakinkan pemuda keras kepala didepannya.

Dering handphone Daniel menarik atensi kedua orang itu, si pemuda berjalan keluar kamar untuk menerima telepon.

"Halo, hyung?" -- "Oh? Bukankah seharusnya kita berangkat besok?" -- "Apa tidak ada photographer lain?" -- "Baiklah, aku akan segera kesana, tidak perlu menjemputku. Aku akan tiba dalam 30 menit"

Wajah Daniel terlihat lebih baik saat kembali kekamarnya, si gadis setengah berharap kekasihnya bisa diajak bicara dengan lebih tenang. Tapi harapannya sirna saat melihat pemuda itu hanya berjalan melewatinya untuk mengambil tasnya.

"Aku ada jadwal pemotretan diluar kota dan harus menginap selama beberapa hari. Pulanglah, kita akan membahasnya lagi setelah aku kembali"

Park Woojin - One ShootCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang