Seharusnya ini sudah menjadi hal yang biasa setelah memasuki semester kedua, tapi gadis itu masih saja terkejut saat mendengar ketua kelas menyebutkan nama orang itu sebagai si 'nilai tertinggi' saat membagikan hasil ulangan harian.
"Kang Daniel"
Bahkan si pemilik nama yang duduk di samping kanan gadis itu hanya mengerjapkan matanya yang baru saja terbuka karena kegaduhan di kelas mereka.
Akhirnya bangun juga.
"Niel, sebenarnya apa rahasiamu?" tanya Jaehwan, pemuda berpipi chuby yang duduk di depan Daniel.
"Apa?"
"Bagaimana bisa kau selalu mendapat nilai bagus jika kegiatanmu dikelas hanya tidur siang?"
"Aku hanya menggunakan otakku, kurasa kau juga bisa melakukannya jika tidak terlalu sibuk menggunakan matamu untuk melihat jawaban orang lain"
Sombong sekali, tapi itu memang benar.
"Kau menyombongkan otakmu? Huhft! Aku iri.." ujar si pemuda berpipi chuby.
"Park Woojin!" suara yang tidak asing terdengar dari arah pintu kelas yang terbuka.
Satu lagi pemuda berpipi chuby muncul, dia melenggang santai sambil mengayunkan kantung plastik transparan berisi banyak sekali makanan, lalu meletakannya di meja gadis bermata tajam yang ada dibelakang tempat duduknya.
"Apa ini?"
"Donghyun hyung menitipkannya padaku"
Gadis itu membongkar kantung itu sambil menggelengkan kepalanya, "Untuk apa makanan sebanyak ini?"
"Untuk Jinnie yang manis"
"Hentikan, Ji! Menjijikan"
"Bukan aku yang mengatakannya, tapi Donghyun hyung" ucap si pemuda sambil tersenyum lebar menunjukan giginya.
Woojin memilih tidak menanggapi dan mulai membongkar isi kantung itu.
"Ambil sisanya!" gadis itu mendorong sisanya setelah mengambil dua batang coklat dan sekotak jus apel favoritnya.
Tak disangka, ada tangan lain yang tiba-tiba mendarat dimejanya, mengambil sebungkus roti dari sana. Mata gadis itu menatap pemilik tangan itu, mendapati seorang pemuda tinggi bermata sipit berdiri disana, Kang Daniel.
"Aku minta satu, boleh? Lapar sekali, aku malas ke kantin"
"Ambil saja, Niel. Lagipula aku sudah makan banyak di kantin tadi"
Bukan gadis itu yang menjawab, tapi pemuda gembul di depannya, Jihoon.
"Terimakasih, Park Woojin" si pemuda Kang kembali ke tempat duduknya setelah berhasil mendapatkan satu roti dan sebungkus permen jelly.
"Kenapa dia malah berterimakasih padamu? Dan kenapa Donghyun hyung memberimu semua jenis makanan manis yang ada di kantin?" gumam Jihoon sambil memasukan kembali sisa makanan yang masih berserakan di meja sahabatnya.
"Harusnya kau menghentikannya tadi, kenapa mengeluh belakangan? Ah, hasil ulangan harian sudah keluar, aku sudah memasukannya ke tasmu tadi"
KAMU SEDANG MEMBACA
Park Woojin - One Shoot
FanfictionHanya berisi koleksi cerita One Shoot GS Woojin as Girl - always Disini pairingnya campur-campur cem gado-gado, ena kan 😁 Selamat menikmati 🤗
