I'll Never Love Again

345 27 35
                                        

Pria dengan kaki jenjang itu berjalan santai diantara orang-orang yang berlalu lalang di daerah perkantoran yang selalu sibuk. Dia seharusnya bergabung dengan mereka yang mengantre di halte bus di jam pulang kerja seperti ini, tapi seseorang menghubunginya beberapa menit lalu dan mengajaknya bertemu. Akhirnya dia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar, berkeliling di sebuah taman kecil tidak jauh dari gedung kantornya.

Semilir angin sore meniup helaian poninya yang sudah mulai panjang. Seharusnya sudah waktunya potong rambut, tapi laki-laki itu terlalu malas melakukannya.

Dulu, ada yang selalu merapikan rambutnya, menyuruhnya duduk di kursi makan yang diletakkan di depan wastafel. Meski kemampuannya sangat meragukan, tapi dia tidak keberatan, dia senang-senang saja saat gadis itu duduk dipangkuannya.

Dia akan memanfaatkan moment itu untuk mengamati wajah manis kekasihnya dari dekat saat jari-jari ramping itu sibuk mengurus rambutnya.

Bibirnya yang terkadang mengerucut saat fokus menggunting, mata tajamnya yang sesekali menyipit saat mengamati hasil potongannya, juga gigi taring atasnya yang sesekali terlihat saat bibirnya sedikit terbuka.

Kalau boleh jujur, saat-saat sederhana seperti itulah yang terasa begitu indah baginya.

Gadis itu selalu mengatakan, pasti akan jadi kenangan indah jika mereka melakukan perjalanan jauh bersama, berjalan berdua tanpa ada seorangpun yang mengenal mereka.

Tapi baginya, saat mereka menghabiskan waktu berdua di dalam apartemen kecilnya, meskipun hanya menonton acara komedi membosankan sambil bersantai di sofa, itu semua kenangan indah baginya.

Segala tentangnya adalah kenangan indah yang terekam permanen dalam ingatannya.





Seorang pemuda berpipi chuby mengangkat tangannya dan tersenyum saat melihatnya mamasuki pintu cafe tempat pertemuan mereka.

"Daniel hyung!"

Daniel menepuk pundak yang lebih muda, "Kau masih terlihat sama, Jihoon. Sudah lama menunggu?"

"Belum, kopiku bahkan belum sempat kuminum. Aku memesankan yang sama untukmu, tak apa kan?"

"Aku tak pilih-pilih soal kopi, tidak seperti temanmu"

Jihoon tersenyum canggung. Dia tidak menyangka kalimat itu akan meluncur dari bibir seniornya. Belum sempat menanggapi, sosok yang bertubuh lebih besar darinya tiba-tiba mengalihkan topik.

"Kau sudah menyiapkan semua persyaratannya? Kirim lewat email saja, aku akan teruskan ke bagian HRD besok"

"Terimakasih, Hyung. Aku tidak akan melupakan jasamu kalau aku diterima disana"

"Jangan berlebihan, aku hanya membantu juniorku, lagipula kau memang memenuhi syarat. Bagaimana kabar teman-temanmu, Daehwi baru saja lulus kan?"

"Dia masih sama cerewetnya, dan masih sama merepotkannya. Aku salut Seongwoo Hyung sanggup menghadapinya sampai sekarang, tak kusangka mereka bisa bertahan selama ini"

Mereka tersenyum saat membicarakan kedua teman mereka, tapi dimata Jihoon, senyum Daniel terlihat begitu dipaksakan.

"Lalu bagaimana kabarnya?"

Park Woojin - One ShootCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang