Cinta dan Rahasia

71 11 2
                                        

"Park Woojin!"

Gadis itu mengerutkan kening saat pemuda tampan yang baru saja memanggilnya berjalan mendekat. Beberapa pasang mata memandang iri padanya, sebagian lagi bahkan terang-terangan memberinya tatapan sinis. Bukan hal yang mengejutkan, dan penyebab utamanya tentu saja sosok yang kini berjalan disisinya sembari menggendong case gitar di bahunya.

"Apa yang kau lakukan disini, sunbae?"

Pertanyaannya tidak aneh, meski pemuda itu memang mahasiswa seni seperti dirinya, tapi koridor yang mereka susuri saat ini berada dua lantai di atas studio musik.

"Aku baru saja bertemu dengan temanku. Dia meminjam salah satu studio kalian untuk berlatih teater"

"Oh.. Begitu.."

"Bagaimana kalau kita makan malam lebih cepat? Kau pasti lelah setelah berlatih seharian"

"Tapi-"

"Aku yang traktir. Kajja!"









Disinilah Woojin akhirnya, duduk di sudut restaurant dengan banyak tanaman hijau sepanjang mata memandang.

"Mereka punya menu vegan yang enak, kurasa cocok untukmu yang harus selalu menjaga berat badan"

"Aku tak pernah diet ketat, sebenarnya aku lebih suka daging" jawab si gadis jujur.

"Kalau begitu, lain kali kutraktir daging"

Ini bukan pertama kali mereka makan bersama, tapi biasanya bukan hanya ada mereka berdua. Ada satu orang lagi yang sebelumnya selalu duduk di samping pemuda itu.

"Sunbae, bagaimana keadaan eonnie?"

Pemuda di depannya terlihat susah payah menelan makanan di mulutnya, jadi secara reflek Woojin menyodorkan segelas air putih padanya.

"Gomawo.." setelah meneguk setengahnya, si pemuda baru menjawab, "Sudah jauh lebih baik. Kurasa dia hanya sedikit bosan karena tidak bisa leluasa bergerak seperti biasanya"

"Kudengar - dia tidak bisa menari lagi?"

"Prioritas kami saat ini agar dia bisa berjalan dan beraktifitas normal lagi"

"Mian, aku tidak seharusnya menanyakannya"

"Gwenchana.. Habiskan makanmu. Harganya lumayan mahal, sayang kalau dibuang" 

Karena pemuda itu mengatakannya sambil tersenyum, Woojin sedikit lega sepertinya dia sudah dimaafkan. Senyuman itu juga sedikit mengobati rasa rindunya, beberapa minggu ini dia tak bisa melihat wajah itu dari dekat.

Rindu. Ingin rasanya Woojin mengucapkan kata itu, tapi sisi dirinya yang lain menolak. Jika dia mengatakannya, apa pemuda itu akan tetap mau menemuinya dan tersenyum seperti ini? Bagaimana jika dia justru dijauhi?

Pilihan kedua adalah hal terakhir yang diinginkannya. Woojin lebih memilih terus diam seperti ini, mengagumi diam-diam wajah tampannya, dan melihat dari jauh saat si pemuda menggenggam tangan gadis lain yang selalu bersamanya. Gadis yang dia sebut kekasihnya.


















Setahun yang lalu,

Hari itu terasa seperti mimpi baginya. Disaat orang-orang rela mengantre untuk memberi ucapan selamat pada gadis mungil bergaun putih dengan senyum yang seolah tercetak permanen di wajahnya, seseorang justru berjalan menghampirinya yang berdiri agak jauh dari teman-temannya yang lain.

Park Woojin - One ShootCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang