.
.
.
"Dia cantik gitu kamu gak mau Ndra? Masih muda... Umur 21 tahun..." ujar Roy saat di dalam mobil.
"Ya sudah, buat kamu saja... Aku capek.. Gak usah banyak omong.. tolong segera antar ke apartemen Roy.." kata Indra yang benar-benar ingin beristirahat.
Di kantor, orang tua Indra termenung.
Setidaknya Pak Cokro dan Bu Cokro harus merelakan sekian milyar untuk membuat mantan calon besan mereka itu tidak banyak membuat masalah, sementara anak perempuan mereka tersenyum dengan lebar karena tidak jadi dijodohkan dengan Indra.
Dalam benak Pak Cokro dan istrinya, mereka benar-benar merasa kapok untuk menjodohkan anak semata wayang mereka, tapi di lain sisi mereka juga merasa terselamatkan dari keluarga yang sepertinya lebih berminat pada harta mereka dibanding menjadi satu keluarga.
"Untung Indra tidak mau Pa..." ujar Bu Cokro cemberut, sedangkan Pak Cokro hanya diam dan mengiyakannya di dalam hati.
"Hanya uang segitu.. Indra pasti akan menghasilkan uang lebih dari itu.." gurau Pak Cokro sambil tersenyum, yang kemudian sukses membuat istrinya tertawa.
============================
.
.
Hari yang ditunggu oleh Ziyah tiba. Sejak pukul 2 siang ia sudah berada di rumah Bu Rindang. Banyak tetangga yang sudah mulai sibuk sambil bercengkrama. Tidak lupa Ziyah sering melihat Fakhri yang sedag berbincang akrab dengan para tetangga sambil menggendong Ara yang tertidur begitu saja di gendongan Fakhri.
"Mbak Ziyah beruntung ya.. Dapat suami yang kayaknya sweet gitu... Mau ngurus anak lagi... Saya tadi lihat Mas Fakhri dengan telaten mengganti baju Ara di depan saat baju Ara basah karena main air sama anak-anak lain.." tutur seorang tetangga.
"Iya.. Suamiku mah lebih fasih nge-game dibanding fasih ikut ngurus anak.. Masangin celana anak aja kebalik.." gerutu seorang tetangga lainnya yang disusul dengan gelak tawa para tetangga di dapur.
"Ketemunya dimana sih Bu Ziyah? Di tempat kerja?" tanya seorang ibu-ibu yag sedang memotong-motong sayuran untuk dibuat lalapan.
"Hmm.. Dulu sih sempat satu sekolahan Bu.. Terus ketemu lagi... singkatnya kemudian kami menikah,.. dan gak lama udah ada Ara sebagai pelengkap..." ujar Ziyah yang terus menyunggingkan senyum kebahagiaan.
"Tidak mau tambah lagi Mbak?" Tanya Mbak Sita.
"Iya... Mbak Ziyah dan suami kan masih muda.. Mumpung masih muda... Ara juga pasti senang kalau punya adik.." tambah yang lain.
Pertanyaan itu hanya dijawab dengan senyuman, bahkan tanpa kata. Tentu Ziyah tidak akan mengatakan bahwa Ara memang sudah memiliki calon adik, meskipun itu bukan dari rahimnya sendiri. Kemudian obrolan lain mengalir begitu saja hingga melupakan obrolan mengenai Ziyah dan keluarganya.
=================
.
.
"Bangun Indra!" Suara perempuan yang Indra begitu kenal langsung membuat Indra setengah terperanjat.
"Mama! Kenapa? Jangan teriak-teriak begitu.. Masih capek ini Indra.." racau Indra.
"Bangun.. Kamu harus ke kantor.. Ada rapat.." ucap Bu Cokro sambil menarik selimut yang digunakan anaknya itu.
"Apa sih ma...!? Masih aja ngotot jodoh-jodohin... No! Indra gak mau tertipu lagi..!" ujar Indra yang benar-benar malas dan tidak berminat untuk ikut ke dalam permainan kedua orang tuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kesempatan?
RomanceSeorang laki-laki yang berusaha memperbaiki kesalahannya kepada perempuan yang pernah ia curangi
