Anaya P.O.V
Ada banyak hal yang ingin dan terwujud yang sudah aku raih. Begitu pun berbagai masalah yang harus aku hadapi untuk mendapatkan apa yang aku inginkan dengan kerja kerasku sendiri. Memiliki pengakuan dari orang lain atas apa yang aku usahakan dengan kerja keras adalah sebuah hal yang paling sulit aku dapatkan, terlebih jika mengaitkan apa yang aku miliki dari keluargaku.
Sejak orang tuaku meninggal, yang aku miliki hanyalah ketakutan tentang apa yang aku miliki bisa hilang begitu saja dan tidak bisa aku dapatkan kembali. Sakit? Trauma? Aku mungkin bisa dianggap sakit dan traumatis jika mengingkari itu semua, tapi jika dipikir, apakah tidak wajar jika manusia memiliki ketakutan untuk ditinggalkan sesuatu? Terutama jika ditinggalkan oleh orang-orang yang disayangi.
Aku sudah ditinggalkan oleh dua sosok terbaik dalam hidupku. Dan dalam perjuanganku untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, ada sosok yang ternyata menjadi pelipur hati dan ternyata juga menjadi pelengkap kebahagiaanku.
Sebut saja, Fakhri, suamiku, yang ternyata menduakanku dan aku merasa tertipu olehnya, bodohnya lagi, aku mempertahankan apa yang mungkin saja tidak pantas aku pertahankan. Dia. Suamiku. Orang pertama yang membuatku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya dan menyembuhkan kesendirianku, tapi ternyata, dia juga orang yang begitu membuatku menjadi perempuan bodoh dan membiarkanku untuk pasrah pada egoku.
"Andai aku tidak memiliki ego yang sedemikian ini sampai tak ingin melepaskan apa yang telah aku miliki,
Andai aku tidak memiliki rasa sayang pada dia yang telah kuberikan segalanya untuk pertama kalinya,
Andai aku tidak memiliki buah cinta dari dirinya yang membuat aku memaafkannya, pasti sudah aku tinggalkan pria seperti dirinya."
P.O.V'S Anaya END
*****************************************
.
.
.
.
.
.
.
Ziyah memandang jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ara sudah tertidur karena kelelahan bermain, apalagi Ara dengan lahap menghabiskan makanannya di sore hari hari. Sebenarnya Ziyah sudah lebih memilih untuk membaca majalah dan buku yang ia bawa dari tempat tinggal sebenarnya, tapi pandangannya benar-benar tidak bisa lepas dari jam dinding yang terus saja melajukan detiknya sebagai tanda bahwa waktu masih saja terus berjalan dan membuatnya menyadari bahwa malam semakin larut. Fakhri tidak kunjung datang. Itu yang Ziyah sadari setelah datang pesan dari suaminya itu.
"Maaf. Aku tidak bisa pulang ke sana malam ini. Mood Anaya sepertinya buruk. Besok mungkin aku mampir. Titip sayang pada Ara" kata pesan itu.
Hati Ziyah mencelos. Lagi-lagi perasaan sebal itu datang. Meski akhir-akhir ini ia tak pernah lagi merasakan perasaan jengkel seperti ini, tapi Ziyah sudah begitu hafal bagaimana rasa sakitnya ketika Fakhri lebih memilih Anaya.
'Kenapa?' ujar Ziyah dalam benaknya.
'Apa bedanya aku sekarang dengan Anaya yang sama-sama sedang mengandung anakmu? Kenapa Anaya?' imbuhnya, yang hanya bisa ia jeritkan dalam batinnya.
"Aku harap Mas tidak lupa untuk mengatakan bagaimana keadaanku saat ini pada Mbak Anaya." Ketik Ziyah dingin yang segera membuatnya mengirim isi pesan itu pada Fakhri.
.
.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kesempatan?
RomanceSeorang laki-laki yang berusaha memperbaiki kesalahannya kepada perempuan yang pernah ia curangi
