================================
.
.
Pukul 8 pagi, Anaya sudah cantik dengan baju santainya, sementara Fakhri sudah berangkat ke kantor, tidak lupa ia izin untuk pergi ke rumah Ziyah di siang harinya.
Anaya membuka laci meja riasnya untuk mencaritali rambut miliknya. Namun, ia melihat kotak perhiasan yang diberikan oleh Indra. Lagi-lagi Anaya kembali mengingat alasannya kembali pada Fakhri. Anaya kembali pada Fakhri karena memang sejak awal ia tidak pernah bisa melepaskan sesuatu yang benar-benar telah ia miliki. Segala konsekuensi atas pilihannya akan ia tanggung sepenuhnya. Anaya mengerti, sebenarnya ia memiliki pilihan lain, yaitu Indra. Tapi, Anaya tidak ingin Indra menjadi pilihan, kalaupun Indra kelak ditakdirkan untuk menjadi kebahagiaan lainnya dan menjadi kesempatan untuk membuatnya bahagia, Indra harus menjadi keputusan bagi Anaya, bukan pilihan.
Anaya tersenyum menatap kotak perhiasan itu dan mengusapnya lembut, lalu ia dorong laci untuk menutup laci itu. 'Dan sepertinya itu tidak akan pernah terjadi, karena aku memutuskan untuk bersama Mas Fakhri' pikir Anaya.
Meskipun Anaya dengan yakin kembali pada Fakhri, tetap saja batin Anaya seperti asing dengan keputusan Anaya. Anaya benar-benar seperti hidup dengan penuh kepalsuan. Tapi, Anaya selalu kembali pada alasannya untuk bertahan. Bagaimana pun, ia merasa bahagia bersama dengan Fakhri, apalagi Fakhri meyakinkannya akan membahagiakan Anaya.
"Aku tidak bisa pergi dari kamu Nay.. Aku paham.. Ini semua salahku, tapi aku benar-benar tidak bisa mengabaikan kebahagiaan-kebahagiaan kita sebelumnya sehingga aku memutuskan untuk menikah denganmu.. Aku benar-benar tidak bisa apa-apa saat itu.. Tentu aku akan selalu memilih kamu.. Tapi antara aku dan Ziyah, sudah ada Ara.. Aku tidak bisa mengabaikan Ara begitu saja Nay.. Aku mohon kamu mengerti.. Aku akan terus berusaha membahagiakan kamu, bahkan Ziyah" ujar Fakhri saat meyakinkan Anaya beberapa waktu yang lalu.
Anaya menghela nafas dalam. Keputusannya tentu akan berpengaruh pada masa depan dirinya dan anaknya, hanya saja Anaya akan berusaha untuk membuat kehidupannya tidak akan terganggu oleh keluarga lain Fakhri. Selain itu, Om Aldi dan Tante Reina juga mendukungnya, 'apa yang perlu ditakutkan?' pikir Anaya.
"Om dan Tante sebenarnya tidak akan pernah rela kamu mengambil keputusan ini, hanya saja, jika itu membuat kamu bahagia.. menjalani pilihanmu sejak awal dengan penuh tanggungjawab, Om dan tante hanya berpesan, jangan lupa untuk bahagia.. Om paham kamu melakukan ini untuk anakmu juga, tapi kamu harus bahagia karena kamu memang pantas mendapatkannya Nay.. Jangan ragu bilang ke om kalau kamu memang tidak bahagia" ujar Om Aldi panjang lebar saat mengetahui keputusan Anaya untuk kembali pada Fakhri.
Anaya menyudahi pikiran-pikirannya tentang keputusannya untuk kembali ke Fakhri setelah mendapat pesan dari Nara yang mengatakan ia dan Tania sudah ada di depan rumah.
===============================
.
.
"Aku benar-benar kaget dengan keputusan yang kamu ambil ya Nay.." kata Tania yang menatap tajam Anaya.
"Kamu gak diguna-guna si Fakhri biar 'iya-iya aja' atas segala tingkahnya kan?" imbuh Nara yang curiga dengan kesehatan batin Anaya.
"Memang kamu gak ngerasa gimana gitu? Aneh sekali, seorang Anaya mau berbagi kepemilikannya dengan orang lain..." lanjut Nara.
"Aku mau kok berbagi, tapi dalam pengecualian dan keadaan tertentu.. Dalam kasusnya Mas Fakhri aku pikir gak masalah.. Memang aku harus berbagi.. Apalagi aku juga merasa harus melihat dari sisi pengorbanan Ziyah... Dia juga berkorban..." kata Anaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kesempatan?
RomanceSeorang laki-laki yang berusaha memperbaiki kesalahannya kepada perempuan yang pernah ia curangi
