Semu (1)

409 13 0
                                        

"Nay.." suara berat membangunkan dirinya dan membuatnya langsung bersandar.

"Eh mas, sudah pulang ternyata.. maaf ya.. sudah jam berapa ini.." ujar Anaya hendak memastikan sendiri pukul berapa ia bangun.

"Astaga..." ujar Anaya sambil sedikit tertawa, senyum Fakhri ikut merekah dengan maksud memaklumi apa yang dilakukan oleh Anaya.

"Sudah jam 9 malam begini, lapar?" tanya Fakhri.

"Ih tumben tanya begitu..." ucap Anaya pada Fakhri, rasanya Fakhri di hadapannya ini begitu manis.

"Ya aku harus memastikan dong kalau istriku ini baik-baik saja.." ujar Fakhri. Senyuman keduanya semakin merekah.

"Lapar?" tanya Fakri lagi.

Anaya mengangguk manja. Dengan tanpa aba-aba tangan kekar Fakhri mengangkat badan istrinya dengan hati-hati. Disusul dengan suara terkejut Anaya.

"Eh apaan sih!! Turunin ih!" teriak Anaya.

"Iya- iya.. sebentar.. pelan-pelan.." kata Fakhri yang kemudian menurunkan Anaya ke kursi makan yang sudah ada beragam buah dan sedikit camilan manis.

"Kejutaan...!" Pekik Fakhri seolah meminta Anaya histeris dengan apa yang ia lakukan walaupun tentunya tidak akan demikian.

"Eh kenapa ini..." Anaya yang sangat heran atas perlakuan Fakhri.

"Tidak ada apa-apa.. makan saja.." ujar Fakhri pada Anaya.

Anaya menuruti.

"Kamu kenapa? Ada sesuatu pasti kan.. ngaku.. biasanya ada hal yang kamu butuhkan atau perlukan saat bertingkah manis seperti ini... atau ada masalah yang kamu timbulkan.. yang mana?" selidik Anaya.

Fakhri menggeleng.

"Jadi gimana keadaan anak kita?" tanya Fakhri pada Anaya sambil ia raih tangan istrinya itu.

"Si kecil sehat kok.." ucap Anaya.

"Syukurlah..." kata Fakhri.

"Trimester kedua hampir dimulai kan ya..? Banyak hal yang harus dipersiapkan Nay.. Aku minta kamu lebih santai lagi, jangan terlalu mikir yang aneh-aneh.." tutur Fakhri.

"Yang bikin mikir aneh-aneh kan kamu..." ucap Anaya seakan tidak terima dengan pernyataan Fakhri.

"Haduh... gemasnya.. iya-iya.. maaf.." ujar Fakhri sambil sedikit membelai rambut Anaya, kemudian ia mulai bangkit hendak mengambil air untuk Anaya.

"Nay, pekan depan aku kembali ke desa ya... Aku hendak mengantar Ara dan Ziyah ke sana.." ujar Fakhri tanpa memandang Anaya karena takut membuat Anaya marah.

Fakhri berencana untuk membawa Ziyah dan Ara kembali ke desa, agar keluarga kecilnya itu memiliki jarak yang terukur sehingga kedua keluarga kecilnya tidak saling terhubung langsung. Bukan maksud hatinya untuk memisahkan dua keluarga miliknya, tetapi sepertinya ia telah merasa keletihan dan rasa kekhawatiran yang kapan saja bisa meledak dan menghancurkan seluruh apa yang ia miliki, yaitu kedua keluarga kecilnya.

Fakhri masih menatap lekat istrinya. Tampaknya Anaya malas menanggapi perkataan Fakhri.

"Nay..." ucap Fakhri lirih.

"Iya?" balas Anaya.

"Bagaimana? Aku pekan depan mau antar mereka kembali ke desa..." tutur ulang Fakhri.

"Terus?" ucap Anaya tanpa melihat suaminya. Ia lebih memilih fokus pada makanan di depannya.

"Iya tanggapan kamu gimana..." kata Fakhri.

"Iya terserah." ujar Anaya seperti tidak

"Kan kamu gak minta izin atau semacamnya... Kamu itu hanya kasih tahu kan? Go on..." tambah Anaya.

Kesempatan?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang