Hai! Jangan lupa vote, comment, dan follow untuk nambah semangat saya ya! Tapi saya sangat berterima kasih readers benar-benar banyak mengapresiasi dan memberi masukan kepada saya... Apapun itu bentuknya.. Terima kasih banyak... Saya hanya bisa tersenyum sambil menyarankan agar readers banyak-banyak bersabar, terutama melihat bagaimana Anaya menyikapi pernikahannya... Semoga alur yang saya siapkan menjadi kepuasan readers, meskipun mungkin tidak semuanya.. Episode ini saya jadikan 3 part ya...! Banyakin sabar dan bersyukur punya pasangan yang dipaksa mampu setia pada kita.. hehe :D
.
.
=============================
=========================
=====================
=================
=============
==========
=======
.
.
'Bagaimana kabarmu Nay?' batin Indra bertanya yang tak mungkin juga akan didengar oleh Anaya.
Indra menghela nafas saat kini ia sadar sedang dalam perjalanan menuju Surabaya. Ia hendak mengurus masalah yang sebelumnya kurang dijelaskan secara detail oleh Roy.
Indra menarik koper sedangnya sambil berusaha menghubungi Roy yang akhirnya hanya membuat Indra menyumpahserapahi Roy karena menyuruh Indra untuk mencari keberadaan Roy.
'Kan sebentar doang bos.. hemat uang parkir' alasan yang Roy berikan pada Indra benar-benar membuat Indra merasa berbicara dengan orang bodoh.
Indra harus dipaksa mencari Roy dan tidak bisa menghindar dari tatapan banyak orang yang melihatnya dengan tatapan yang tidak dapat dijelaskan. Benar-benar membuat dirinya tidak nyaman. Indra memutuskan untuk membuka jasnya dan menyisakan kaos putih polos biasa, sementara kaca mata hitam masih ia pakai.
Kulit Indra seperti tersengat oleh panas kota Surabaya yang sedang terik-teriknya saat ia mencari keberadaan Roy yang sedang menunggu di dalam mobil. Kaos berwarna cerah yang ia pakai sama sekali tidak terlalu menyelamatkannya dari panasnya Kota Surabaya.
"Wih bro... apa kabar...?" Sapa Roy yang dengan wajah sumringahnya, sementara Indra cukup sebal karena Roy dengan kurang ajar menyuruh Indra untuk mencari keberadaan mobilnya.
"Baik.." kata Indra yang duduk berdampingan dengan Roy di kursi depan.
"Aku kira bos masih mau ke Jogja dulu.." ujar Roy yang mulai menyalakan mesin mobil.
Indra melepas kaca mata hitamnya.
"Buat apa?" tanya Indra malas karena paham maksud Roy.
"Ya ke rumah Om sama Tante dong.." Jawab Roy dengan sedikit mengejek.
"Yakin yang kamu maksud orang tuaku? Bukan Anaya..?" ujar Indra lugas.
"Ah, kalau itu terserah kamu Ndra.." kata Roy dengan tawa kecil seolah benar-benar henadak mengusili temannya itu.
"Tapi aku pikir, Anaya itu menyia-nyiakan kesempatan bagus untuk bersama kamu ya bro.." kata Roy lagi.
Indra tersenyum menyepelekan Roy.
"Pikiran kamu mengenai Anaya itu yang terlalu dangkal. Dia hanya mencoba mempertahankan egonya tentang apa yang dia pilih.. keras kepalanya itu yang cukup membantunya bertahan.. Aku juga merasa tidak disia-siakan.. Karena memang sejak awal aku memilih untuk memiliki sendiri perasaanku pada Anaya.. Kalau Anaya tidak berkenan, itu bukan urusanku... Rasa sayangku pada Anaya pun bukan urusan Anaya.." ucap Indra panjang lebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kesempatan?
RomanceSeorang laki-laki yang berusaha memperbaiki kesalahannya kepada perempuan yang pernah ia curangi
